JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Informasi
(Menkominfo), Rudiantara, mengatakan bahwa dunia tengah menghadapi
tantangan yang cukup besar akibat dari digitalisasi yang berkembang
dengan pesat, terutama tantangan di ekonomi-politik. Menurutnya, saat
ini konsep ekonomi dunia telah bergeser akibat adanya teknologi digital.
“Perkembangan start up, finance technology (fintech) sebagai inklusi
keuangan, dan sistem share company, sudah menjadi bagian dari ekonomi
kita saat ini,” kata Rudiantara saat memberikan sambutan dalam
peluncuran buku Jagat Digital: Pembebasan dan Penguasaan, di Wisma
Antara, Jakarta, Selasa (17/9).
Rudiantara mencontohkan, sistem share company yang dijalankan oleh
berbagai start up yang menjamur di Indonesia. Start up sangat berbeda
dengan korporasi, karena memiliki aset yang dapat berbagi dengan
mitranya. Perkembangan ini harus bisa segera dapat diperhatikan oleh
masyarakat. “Contoh, gojek motornya punya siapa, gofood restorannya
punya siapa, platform e-commerce, pedagangnya siapa. Itulah konsep dari
share company,” ucapnya.
Kemudian, di bidang politik, era media sosial sangat berpengaruh
terhadap perkembangan pemberitaan. Saat ini, masyarakat bisa dengan
mudahnya membagikan sebuah konten atau informasi secara online.
Sayangnya, ucapnya, tidak sedikit dari pengguna medsos yang
membagikan konten hoaks dengan berlindung di akun fake atau palsu. Hal
ini membuat penegak hukum kesulitan menelusuri orang di balik penyebar
hoaks tersebut.
Sementara itu, Anggota Dewan Pers yang juga penulis buku Jagat
Digital, Agus Sudibyo, menjelaskan bahwa buku yang ditulisnya bukan
bermaksud menawarkan sikap antipati terhadap fenomena digitalisasi,
melainkan lebih ditujukan untuk menstimuli diskursus yang bersifat
kritis terhadapnya. Atas dasar itu, ia mengklaim bahwa ini buku tentang
dimensi digital dalam sudut pandang ekonomipolitik pertama di Indonesia.
“Buku ini merupakan buku berbahasa Indonesia pertama yang menelaah
secara kritis dimensi-dimensi ekonomi-politik digitalisasi,” ucapnya.
Agus mengatakan, buku ini juga sekaligus memelopori kajian kritis
terhadap aspek psikologi, psikologi massa, dan epistemologi dari
munculnya media-media baru yang dewasa ini semakin mendominasi publik
serta mengajak pembaca untuk memikirkan berbagai paradoks dalam
digitalisasi.

.gif)