![]() |
SERANG, (KB).- Guru Besar Universitas Gadjah Mada
(UGM) Irwan Abdullah memberikan kuliah umum di Fakultas Dakwah
Universitas Islam Negeri (UIN) Banten, Kamis (19/9/2019). Dalam acara
tersebut, dia memberikan solusi untuk menangkal radikalisme dengan agama
dan budaya.
Menururt dia, dibutuhkan fondasi kultural yang dapat menjadi
konfigurasi untuk membaca informasi-informasi digital. “Dilihat dari
perspektif kesantunan, budaya pada saat ini terancam oleh adanya
globalisasi dan digitalisasi. Mediumnya memberikan ruang terbuka dan
mampu mendobrak batas-batas budaya,” katanya.
Ia menjelaskan, pilihan-pilihan kultural tersebut, menjadi penting,
karena akan menampilkan sikap setiap individu terhadap informasi
tertentu. Terutama, terhadap sesuatu yang tidak lazim. Dalam media
sosial misalnya, paradigma berpikir bisa berubah. “Media sosial itu
cenderung mengubah perspektif, nilai atau paradigma berpikir,” ujarnya.
Jika setiap manusia mempunyai fondasi nilai yang kuat, ucap dia, maka
apa yang didapat tidak akan diterima secara mentah. Akan tetapi, akan
dipertanyakan terlebih dahulu. Menurut dia, setiap mahasiswa harus
menjadi pribadi yang kritis.
“Maka, budaya dan agamalah yang memberikan kemampuan itu. Kalau tidak
mempunyai budaya dan agama manusia, tidak bisa melawan atau
mempertanyakan keabsahan nilai-nilai baru,” ucapnya.
Peran mahasiswa juga dinilai penting dalam penyebarluasan ilmu
pengetahuan. Ia berpendapat, bahwa di era digital,
pengetahuan-pengetahuan buruk lebih cepat tersebar luas dibandingkan
pengetahuan-pengetahuan baik.
“Oleh sebab itu, mahasiswa harus terlibat dalam produksi pengetahuan
yang baik dengan kecepatan yang lebih dahsyat, agar bisa melawan
pengetahuan yang buruk,” tuturnya.

.gif)