SERANG – Front Perjuangan
Rakyat (FPR) Banten mengutuk tindak cuci tangan pemerintah dalam bencana
alam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang mengakibatkan ribuan
masyarakat terkena penyakit ISPA.
Sikap tersebut disampaikan oleh FPR Banten saat melakukan aksi solidaritas terhadap korban bencana asap.
Ketua Serikat Demokratik Mahasiswa Nasional
(SDMN), Royhan, menuturkan bahwa tindakan pembakaran baik hutan maupun
lahan, untuk membuka lahan perkebunan dan persawahan memang sudah sering
dilakukan. Namun, pembakaran tersebut belum pernah seperti yang terjadi
saat ini.
“Dengan keterbatasan pengetahuan dan
teknologi, masyarakat pada saat itu banyak yang membuka lahan dengan
cara membakar. Namun, dampak yang ditimbulkan oleh mereka tidak pernah
separah hari ini,” ujarnya saat ditemui di sela-sela aksi, Selasa
(17/9/2019).
Pembakaran hutan dan lahan saat ini,
lanjutnya, terjadi begitu fatal. Bahkan, asap yang ditimbulkan oleh
kebakaran tersebut, mampu mencapai beberapa wilayah, hingga ke negara
tetangga.
“Asap dari pembakaran lahan itu yang
memasuki Pekanbaru, Pontianak, Palangkaraya, Jambi, Palembang, merambah
sampai ke pemukiman padat penduduk, bahkan melintasi laut menciptakan
awan di langit Singapura dan Malaysia,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Ketua Seruni Banten,
Kiki mengatakan bahwa dampak yang terjadi akibat adanya pembakaran hutan
dan lahan tersebut, bukan hanya berakibat pada perekonomian masyarakat
yang terganggu, namun juga kesehatan yang semakin memburuk.
“Tercatat 9.630 warga alami ISPA akibat
Karhutla, kemudian iritasi mata dan juga kulit. Data tersebut juga masih
belum pasti. Sebab, hingga saat ini pemerintah seolah-olah
menutup-nutupi dampak dari kebakaran hutan ini,” ujarnya.
Ia pun menegaskan, pemerintah tidak boleh
seolah-olah mencuci tangan atas bencana yang hari ini terjadi.
Menurutnya, siapapun Presiden, Gubernur, ataupun Walikota yang memimpin
harus bisa menyelesaikan persoalan ini.
“Masalah asap tidak bisa ditangani dengan
menyembunyikan masalah, dengan mengalihkan isu yang terjadi. Karena
masalah asap adalah masalah latem, kronis dan melekat pada sistem
pertanian tradisional yang khas negeri agraris non industrial yang
terbelakang,” ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris FPR Banten, Ega,
mengatakan bahwa untuk menghentikan permasalahan asap ini, dibutuhkan
juga perbaikan atas sistem pertanian yang ada di Indonesia.
“Menangani asap berati merombak sistem
pertanian sekarang, merombak monopoli tanah dan tanaman komoditas yang
sepenuhnya mengabdi kepada kepentingan tuan tanah besar dan imperialisme
sebagai pemilik modal atau kapitalnya,” ujarnya.

.gif)