Wabah virus Corona atau Covid-19 telah meluluhlantakan kehidupan sosial dan ekonomi di seantero negeri.
Banyak
negara yang melakukan lockdown. Berbeda dengan di Indonesia, aktivitas
sosial yang dibatasi. Melalui kebijakan ini mulai dari sosial distancing
(jaga jarak) hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Akibat
kebijakan itu, pusat-pusat perbelanjaan yang tadinya ramai pengunjung
menjadi sepi. Stasiun kereta dan terminal bus juga sama tidak seramai
biasanya sebelum adanya wabah itu. Aktivitas rumah ibadah masjid dan
gereja juga sama. Masyarakat beribadah di rumah masing-masing.
Terbatasnya
aktivitas sosial di luar rumah membuat pengusaha menutup tempat
usahanya. Bahkan tidak sedikit yang memutuskan hubungan kerja (PHK)
karyawannya. Meski banyak juga perusahaan yang menganjurkan karyawannya
berkerja dari rumah.
Kalangan usaha kecil dan menengah pun masih
beraktivitas seperti biasa. Toko kelontong, pedagang sembako dan tukang
sayur tetap beroperasi. Tukang bakso, tukang bubur ayam, juga masih
berkeliling di lingkungan penduduk. Kebijakan pembatasan sosial tentu
sudah dikaji pemerintah secara seksama dari berbagai aspek.
Kebijakan tersebut sejatinya dipatuhi masyarakat untuk memutuskan mata rantai pandemi virus covid-19.
Wabah
penyakit yang tengah melanda dunia pernah terjadi di zaman Rasulullah
SAW. Bahkan Rasulullah memberikan sikap teladan kepada para sahabatnya
jika menghadapi wabah dan pengidap penyakit menular.
Di bawah ini adalah langkah-langkah yang dilakukan Nabi demi mencegah perkembangan jumlah orang yang ter-suspect pandemi yaitu;
1. Menghindar
Diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda; "Larilah dari orang yang sakit lepra, sebagaimana kamu lari dari Singa."
Nabi
menyarankan umatnya untuk membentengi diri dari penyakit menular dengan
tidak menganggap enteng beberapa faktor dan penyebabnya. Di antaranya
adalah dengan menghindari kontak secara langsung dengan penderita
penyakit menular.
Dalam hadis, Nabi mencontohkan penyakit kulit berupa lepra yang bisa menular melalui sentuhan kulit.
2. Tenggang rasa
Anjuran
menghindari pengidap penyakit menular bukan berarti menunjukkan bahwa
Nabi sepakat untuk mengucilkan penderita tersebut. Akan tetapi, langkah
yang diimbau ini justru lebih menitikberatkan kepada semangat kepedulian
dan tenggang rasa.
Hal
ini sesuai dengan hadis riwayat Bukhari bahwa Nabi Saw pernah bersabda.
"Janganlah kamu lama-lama memandang orang-orang yang sedang sakit
lepra."
Hadis ini merupakan penanda bahwa berkontak berlebihan
dengan penderita penyakit menular di masa itu bisa memberikan dampak
penderitaan pengidap dari sisi psikologis.
3. Tawakal
Berpasrah penuh kepada Allah Swt adalah jalan yang paling dianjurkan Rasulullah Saw. Ihwal penyakit menular, Nabi bersabda;
"Tidak
ada penularan, tidak ada ramalan jelek, dan tidak ada penyusupan
kembali (reinkarnasi) ruh orang mati pada burung hantu. (HR. Muslim).
Dalam
Tadrib, Imam Suyuthi mencatat bahwa Ibnu Shalah mengatakan, pada
hakikatnya penyakit itu tidak dapat menular dengan sendirinya. Akan
tetapi Allah-lah yang membuatnya menular.
Sementara, proses
penularannya memang diperantarai oleh proses percampuran antara yang
sakit dan yang sehat melalui berbagai macam sebab yang berbeda.
Al-Ghazali
berpendapat, kesimpulan "ketiadaan penularan" itu merupakan ketentuan
tetap dan bersifat umum. Sedangkan perintah menjauhi orang sakit tetap
disarankan karena dalam rangka Syadzudz Dzarai, yakni menutup
kemungkinan munculnyabahaya dengan tetap percaya kepada takdir Allah
Swt, bukan pada sebab penularan yang dianggapnya tidak ada.
4. Bersabar
Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan umatnya bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.
Pernah ketika menghadapi wabah penyakit Thaun, Rasulullah bersabda. "Tha'un
merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki.
Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum Mukminin." (HR. Bukhari).
Sabar
dan tidak cepat panik menjadi solusi yang disarankan Rasulullah dalam
menghadapi pandemi. Masih dalam hadis yang sama, Nabi melanjutkan.
"Tidaklah
seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di
daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah
kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala
seperti orang yang mati syahid."
5. Optimistis
Pesan
yang tak kalah penting dari Rasulullah SAW ketika tertimpa musibah
wabah adalah tetap membangun prasangka baik, optimistis, berdoa, dan
tetap berikhtiar sekuat tenaga.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya. (HR. Bukhari)
Wabah
penyakit juga pernah terjadi tahun 18 Hijriah atau di masa kepemimpinan
kalifah Umar bin Khattab. Beliau membatalkan niatnya masuk ke daerah
Syam yang terserang wabah. Keputusan itu diambil setelah bermusyawarah
bersama Panglima Pasukannya, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, di daerah
Syargh, jelang masuk ke daerah Syam.
Wabah corona merupakan ujian,
teguran, sekaligus rahmat dari Allah Swt agar manusia tetap mengingat
kekuasan-Nya yang tiada berbanding. Berprasangka baiklah bahwa dengan
kasih sayang-Nya, Insya Allah, Allah segera mencabut cobaan ini dalam
waktu yang tidak lama. Amin ya robbalalamin. (*)
Sumber: Disarikan dari hadis-hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Bab At-Thib), serta keterangan dalam Tadrib Ar-Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi karya Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad Jalaluddin As-Suyuthi.
Oleh: Yayat Hidayat
:) Penulis adalah wartawan senior, pegiat masalah sosial dan tinggal di Depok Jawa Barat

.gif)