BANTEN-Gubernur Banten, H. Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten, H.
Andika Hazrumy terus mengoptimalkan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. Melalui penyediaan sarana kesehatan dan jaminan kesehatan,
masyarakat di Provinsi Banten diharapkan lebih mudah dalam mengakses
layanan kesehatan.
Salah satu yang menjadi fokus perhatian
Pemprov Banten dalam bidang kesehatan adalah pemenuhan jaminan kesehatan
terhadap warga tidak mampu. Sekarang ini, warga tidak mampu sudah
merasakan pelayanan kesehatan secara gratis, mulai dari puskesmas hingga
rumah sakit. Baik melalui bantuan pemerintah pusat, kabupaten/kota dan
Pemprov Banten.
Pada tahap pengobatan awal, masyarakat tidak
mampu bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis dari Puskesmas. Namun,
jika penyakitnya tidak bisa ditangani di Puskesmas, maka pasien tidak
mampu tersebut bisa dirujuk ke rumah sakit.
Jaminan kesehatan
untuk warga tidak mampu adalah melalui pelayanan BPJS kelompok penerima
bantuan iuran (PBI). Apabila peserta BPJS yang bukan penerima biaya
iuran membayar premi setiap bulan maka penerima biaya iuran ditanggung
pemerintah.
Saat ini tercatat sebanyak 4.619.891 jiwa yang
mendapatkan jaminan kesehatan secara gratis atau penerima bantuan iuran.
Mereka ada yang menerima bantuan iuran dari pemerintah pusat,
pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.
“Seluruh warga tidak mampu sudah mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah,” kata Gubernur Banten, H Wahidin Halim (WH).
Selain
jaminan kesehatan untuk masyarakat tidak mampu, saat ini Pemprov Banten
juga fokus dalam penyediaan sarana dan prasana kesehatan. Untuk
menjawab kebutuhan sarana kesehatan di Lebak bagian selatan atau
kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Pemprov
Banten sedang membangun rumah sakit.
Saat ini, pembangunan
rumah sakit tersebut baru mencapai 40 persen. Seperti diketahui, jarak
tempuh warga di sejumlah kecamatan di Banten Selatan terhadap layanan
kesehatan rumah sakit sangat jauh. Jarak dari Cilograng menuju Rumah
Sakit Malingping atau yang terdekat dari Cilograng adalah sekitar 65,7
kilometer. Sedangkan, jika masyarakat Cilograng ingin mendapatkan
pelayanan kesehatan di di sebuah rumah sakit di Rangkasbitung maka harus
menempuh perjalanan sekitar 143 kilometer.
“Pembangunan Rumah
Sakit Banten Selatan diharapkan mampu memberikan pelayanan optimal
kepada masyarakat, khususnya masyarakat Banten Selatan,” ujar WH.
Masih
terkait dengan penyediaan sarana dan prasanana kesehatan, Kepala Dinas
Kesehatan Pemprov Banten, dr Ati Pramudji Hastuti menambahkan, Pemprov
Banten saat ini juga sedang membangun rumah sakit jiwa dan
ketergantungan obat. Adapun progres pembangunan sampai akhir 2020
mencapai 50 persen dan membangun RS Labuah Pandeglang serta meningkatkan
layanan di RS Malingping dengan menambah fasilitas tempat tidur rawat
inap, ICU, Nicu dan sarana penunjang lainnya.
“RSUD. Banten
juga akan lebih dioptimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,
karena sekarang telah terakreditasi secara nasional dengan memeroleh
akreditasi tingkat utama, memiliki layanan unggulan subspecies dan telah
menjadi rujukan regional lintas kabupaten/kota,” dan kedepan akan
dipersiapkan untuk menjadi RS tipe B pendidikan serta menjadi RS rujukan
provinsi ke 2 setelah RSUD Kab Tangerang untuk memfasilitasi warga
wilayah banten barat ujar Ati.
Capaian lainnya dalam bidang
kesehatan, kata Ati adalah jumlah kematian ibu turun menjadi 237 dan
jumlah kematian bayi turun menjadi 1.068 pada tahun 2020. Pemprov Banten
juga terus meningkatkan penanganan penyakit menular dan tidak menular,
melalui peningkatan akses layanan, penemuan kasus aktif dan peningkatan
kapasitas tenaga kesehatan dalam keberhasilan pengobatan.
“Dengan
kerja keras Pemprov Banten, kabupaten/kota di Banten serta stakeholder,
saat ini stunting mengalami penurunan mencapai 23,4 persen,” kata Ati.
Sementara,
jumlah tenaga kesehatan penugasan khusus Provinsi Banten dalam
pemenuhan standar ketenagakerjaan di puskesmas dan fasilitas kesehatan
sebanyak 441 orang. Para tenaga kerja kesehatan tersebut direkrut pada
tahun 2018-2020.
Selain
itu, saat ini pun Pemprov Banten sedang menuntaskan vaksinasi tahap
kedua termin terakhir yang waktunya ditenggat sampai dengan Mei
mendatang, sehingga jumlah penerima sebanyak 253.518 orang. Wakil
Gubernur, H. Andika Hazrumy, dalam rapat kordinasi PPKM Mikro yang
diselenggarakan Kementerian Koordinator Perekonomian, merinci vaksinasi
tahap I yang diperuntukkan bagi nakes dan tenaga pendukung di fasilitas
kesehatan dengan sasaran sebanyak 45.566 orang dengan jumlah vaksin
sebanyak 96.280 dosis. Vaksinasi itu dilakukan melalui pemberian dosis 1
pada 14 Januari - 10 Februari, dan dosis 2 diberikan pada rentang waktu
28 Januari - 24 Februari.
Untuk vaksinasi tahap II termin 1,
lanjutnya, Pemerintah Provinsi Banten telah melakukan vaksinasi
terhadap 122.400 sasaran lansia, petugas lapangan dan pelayan publik
dengan jumlah vaksin sebanyak 28.800 vial. Vaksinasinya sendiri
dilakukan melalui pemberian dosis 1 yang dilakukan pada 24 Februari –
24 Maret dan dosis 2 diberikan pada rentang waktu 10 Maret – 10 April
2021.
Sedangkan untuk vaksinasi tahap II termin 2, lanjutnya,
dilakukan sebanyak 20.130 vial dengan jumlah sasaran sebanyak 85.552
lansia, petugas lapangan dan pelayan publik. "Vaksinasinya sendiri
dilakukan melalui pemberian dosis 1 pada 8 Maret sampai April, dan
dosis 2 diberikan pada rentang waktu 22 Maret sampai dengan Mei
mendatang," imbuh Wagub, H. Andika Hazrumy.
(ADV).

.gif)