CILEGON KONTAK BANTEN — Peringatan Hari Kartini kembali menjadi ruang refleksi atas perjuangan perempuan di Indonesia. Di Cilegon, Korps HMI-Wati (Kohati) HMI Cabang Cilegon menyoroti masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Sepanjang Januari hingga April 2026, tercatat sebanyak 37 kasus kekerasan terjadi di wilayah tersebut. Angka ini dinilai menjadi indikator bahwa sistem perlindungan terhadap kelompok rentan masih perlu diperkuat secara menyeluruh.
Ketua Umum Kohati HMI Cabang Cilegon, Dian Novitasari, menegaskan bahwa data tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan mencerminkan kondisi nyata para korban yang membutuhkan perlindungan dan keadilan.
“Momentum Hari Kartini ini harus menjadi pengingat bahwa perjuangan emansipasi belum selesai. Perempuan dan anak tidak hanya membutuhkan kesetaraan, tetapi juga perlindungan nyata dari segala bentuk kekerasan,” ujarnya.
Sistem Perlindungan Dinilai Masih Lemah
Dian menilai tingginya angka kekerasan menunjukkan masih adanya celah dalam sistem perlindungan, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun sosial masyarakat.
Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak hanya dipicu oleh faktor individu, tetapi juga lemahnya pengawasan dan minimnya kesadaran kolektif dalam mencegah tindak kekerasan.
“Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa perlindungan belum berjalan optimal. Perlu ada penguatan sistem yang melibatkan semua pihak,” katanya.
Dorong Aksi Nyata, Bukan Seremonial
Ia menekankan bahwa peringatan Hari Kartini tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata. Momentum ini harus dimanfaatkan sebagai titik balik untuk mendorong kebijakan dan langkah konkret dalam perlindungan perempuan dan anak.
Kohati HMI Cilegon mendorong adanya sinergi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, serta masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi kelompok rentan.
“Pencegahan, penanganan hingga pemulihan korban harus menjadi prioritas bersama. Ini bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi seluruh elemen masyarakat,” tegas Dian.
Perlu Penguatan Edukasi dan Penegakan Hukum
Selain itu, peningkatan edukasi kepada masyarakat dinilai penting untuk menekan angka kekerasan. Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelaku juga harus dilakukan secara tegas agar memberikan efek jera.
Dengan masih tingginya angka kasus, Kohati berharap pemerintah daerah dapat memperkuat layanan perlindungan, termasuk akses pelaporan dan pendampingan bagi korban.
Peringatan Hari Kartini tahun ini pun diharapkan tidak hanya menjadi simbol perjuangan, tetapi juga momentum nyata untuk menghadirkan rasa aman dan keadilan bagi perempuan dan anak di berbagai daerah.

.gif)