JAKARTA KONTAK BANTEN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama 15 bulan terakhir menunjukkan dampak signifikan, tidak hanya dalam pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Program ini tercatat berhasil menarik investasi hingga Rp40 triliun serta menyerap sekitar 1,18 juta tenaga kerja di berbagai sektor.
Ciptakan Efek Berganda Ekonomi
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menyatakan bahwa MBG telah menciptakan ekosistem ekonomi baru yang melibatkan pelaku usaha lokal di berbagai daerah.
“MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi secara luas,” ujarnya dalam konferensi pers “1 Tahun Perjalanan Makan Bergizi Gratis” di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, setiap anggaran yang digelontorkan pemerintah melalui program ini menghasilkan efek berganda (multiplier effect), mulai dari sektor produksi hingga distribusi.
Libatkan UMKM dan Tenaga Kerja Lokal
Dampak ekonomi MBG terlihat dari operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang tersebar di berbagai daerah.
Unit ini melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), tenaga kerja lokal, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai pemasok bahan baku.
“Keterlibatan UMKM terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi mulai terasa nyata,” jelas Muhaimin.
Ia menambahkan, besarnya investasi swasta yang masuk menjadi indikator kuat bahwa program ini mampu mendorong perputaran ekonomi secara luas.
Jangkau Puluhan Juta Penerima Manfaat
Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, mengungkapkan bahwa perkembangan MBG berlangsung pesat dengan partisipasi masyarakat yang tinggi.
Hingga saat ini, lebih dari 27 ribu unit SPPG telah terbentuk di seluruh Indonesia sebagai tulang punggung pelaksanaan program.
Program ini juga telah menjangkau sekitar 62,35 juta penerima manfaat, terdiri dari 49,64 juta peserta didik dan 12,7 juta masyarakat umum.
Libatkan Lebih dari 100 Ribu Pemasok
Dari sisi sektor usaha, tercatat sebanyak 116.465 pemasok terlibat dalam ekosistem MBG. Mereka terdiri dari 11.430 koperasi, 1.180 BUMDes, 48 ribu pelaku UMKM, serta sekitar 54 ribu pemasok lainnya.
Selain itu, sekitar 1,18 juta relawan juga terlibat aktif dalam operasional program di berbagai daerah.
“MBG bukan hanya program pemenuhan gizi, tetapi juga motor penggerak ekonomi berbasis komunitas,” tegas Sony.
Dorong Kemandirian Ekonomi Nasional
Program MBG juga dirancang untuk memberdayakan petani, peternak, hingga pedagang lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada Badan Gizi Nasional, tetapi juga memerlukan dukungan aktif dari pemerintah daerah dan masyarakat.
Dengan capaian tersebut, MBG diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas, baik dalam peningkatan kualitas gizi maupun penguatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

.gif)