Tragedi yang menimpa pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, menjadi
tamparan keras bagi kita semua. Video yang beredar dan diliput oleh
media Tempo jelas menunjukkan mobil rantis Brimob melindas tubuh Affan
saat aksi demonstrasi di Jakarta. Mobil itu terus melaju seolah nyawa
manusia tak lebih berharga dari batu di jalan. Jumat (29/8)
Ketua
Asosiasi Ojek Online (Ojol) membenarkan bahwa video itu nyata. Lalu,
dari pengakuan teman Affan, saat itu Affan sedang mengantar orderan
makanan untuk pelanggan, bukan untuk ikut aksi demo.
Sehingga
muncul pertanyaan, apa jadinya ketika fasilitas negara yang dibeli dari
keringat rakyat, justru dipakai untuk membunuh rakyat? Ironinya,
kendaraan taktis itu dibeli bukan dengan uang pejabat, melainkan berasal
dari pajak rakyat yang setiap harinya harus bekerja keras di bawah
teriknya matahari, diatas aspal yang panas, bukan dibawah sejuknya AC
dan di atas empuknya kursi layaknya para pejabat.
Seharusnya
kendaraan tersebut digunakan untuk melindungi rakyat, tetapi berubah
menjadi mesin pembunuh. Rakyat patuh bayar pajak, tapi balasannya justru
dilindas. Kalau sudah begini, aparat ini sebenarnya melindungi siapa?
Rakyat atau Kekuasaan?
Lebih miris lagi, pemerintah baru meminta
maaf setelah kasusnya ramai di media sosial. Seolah-olah nyawa rakyat
hanya akan dianggap penting jika sudah jadi trending topic. Jika netizen
bungkam, diam, dan tidak ada bukti berupa video, mungkin tragedi ini
hanya lewat begitu saja tanpa adanya keadilan.
Lalu, pejabat
seperti pahlawan kesiangan dengan mudah menyebut “kami menyesal” sambil
duduk di kursi empuk dan ruangan ber-AC, padahal keluarga korban harus
kehilangan tulang punggung hidupnya dan menangis di kontrakan yang tidak
luas. Kata maaf saja tidak cukup untuk menggantikan satu nyawa sang
tulang punggung keluarga, harus ada reformasi dan benah diri dari para
pemegang kekuasaan.
Polisi mengatakan sudah menahan tujuh anggota
Brimob namun, kita sudah terlalu sering melihat drama semacam ini.
Ditahan sebentar, lalu kasus menghilang perlahan, apalagi jika yang
menjadi korban hanyalah rakyat kecil. Jangan-jangan proses hukum ini
hanya sekadar pengalihan isu, agar publik merasa “sudah ada tindakan”.
Ironinya
lagi, ketika rakyat bersuara di jalan, fasilitas negara hadir untuk
membungkam. Tapi, ketika rakyat menjerit soal harga sembako, ongkos
hidup, atau pekerjaan, fasilitas negara tiba-tiba hilang entah ke mana.
Rupanya tank, rantis, dan gas air mata lebih cepat keluar untuk
menyerang rakyat itu sendiri, bukan untuk membantu rakyat. Sekali lagi,
semua itu dibeli menggunakan uang rakyat!
Kalau terus begini,
rakyat akan semakin muak, sebab tak ada yang lebih menyakitkan daripada
melihat uang hasil jerih payah kita dipakai membeli alat, yang pada
akhirnya justru menindas kita sendiri. Pemerintah boleh saja sibuk
menjaga citra, tapi citra itu runtuh ketika rakyat melihat kenyataan
bahwa fasilitas dari rakyat kini malah dipakai untuk melawan rakyat.
Terakhir, untuk korban, semoga ditempatkan pada sisi terbaik-Nya dan kami turut berduka atas keluarga yang ditinggalkan. Semoga tidak ada lagi korban selanjutnya yang diserang atau dimusnahkan oleh aparat yang seharusnya bertugas menjadi pelindung rakyat.
Penulis: Hana Robiatumardhiyah/ Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Untirta
0 comments:
Post a Comment