Pada tahun 2026, Hari Pers Nasional mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”. Provinsi Banten ditunjuk sebagai tuan rumah peringatan HPN 2026, dengan rangkaian kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 7–9 Februari di Kota Serang, melibatkan insan pers dari berbagai daerah di Indonesia.
Namun di balik kemeriahan peringatan dan tema yang optimistis, ada pertanyaan mendasar yang layak diajukan, di tengah arus informasi yang deras, masihkah pers menjalankan fungsinya sebagai pengawal nurani publik?
Dalam lanskap media hari ini, pers tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Media sosial, algoritma, dan budaya viral telah menggeser cara publik mengonsumsi informasi. Kecepatan sering kali mengalahkan kedalaman, dan sensasi kerap menyingkirkan verifikasi. Dalam situasi seperti ini, pers menghadapi godaan besar untuk sekadar mengikuti arus, mengejar klik, trafik, dan perhatian sesaat. Padahal, di sinilah fungsi pers sebagai penjaga nurani diuji.
Nurani publik bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya. Ia dibentuk melalui informasi yang jujur, konteks yang utuh, dan keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua hal bisa diperlakukan netral. Pers tidak cukup hanya berdiri di tengah dan menyajikan dua sisi secara mekanis. Ada nilai-nilai dasar yang semestinya menjadi pijakan, seperti kemanusiaan, keadilan, dan akal sehat. Ketika ketidakadilan dinormalisasi, ketika kekerasan dipoles menjadi angka statistik, atau ketika suara kelompok rentan tenggelam, di situlah pers seharusnya hadir sebagai pengingat.
Tentu, menjaga nurani publik bukan perkara mudah. Pers bekerja di bawah tekanan yang tidak ringan, mulai dari kepentingan politik, relasi kuasa, ancaman hukum, hingga persoalan ekonomi media yang membuat independensi sering kali diuji. Banyak jurnalis bekerja dalam kondisi serba terbatas, dengan beban kerja tinggi dan perlindungan yang minim. Dalam konteks ini, melemahnya suara pers tidak selalu identik dengan hilangnya idealisme, tetapi sering kali merupakan cerminan dari sistem yang mengekang keberanian.
Meski demikian, justru di tengah keterbatasan itulah nilai pers diuji. Pers yang sehat bukan hanya soal kesejahteraan industri, tetapi juga kesehatan nurani di ruang redaksi. Pers yang berdaulat tidak tunduk pada tekanan yang membungkam kebenaran. Dan bangsa yang kuat membutuhkan pers yang berani menjaga ingatan agar tragedi tidak cepat dilupakan, kesalahan tidak diulang, dan kekuasaan tidak berjalan tanpa pengawasan.







0 comments:
Post a Comment