< !-- -->

Notification

×

Iklan

Jadwal Imsakiyah

Kota Serang, Banten
Subuh 04:32 – 04:45
Ashar 15:26 – 15:27 (sekitar)
Maghrib 18:17 – 18:21 --:--:--
Isya 19:20 – 19:30 (perkiraan)
Menuju Buka Puasa: --:--:--

Iklan

Jadwal Imsakiyah Hari Ini

Jadwal Imsakiyah Hari Ini

Kota Serang, Banten
Subuh 04:32 – 04:45
Ashar 15:26 – 15:27 (sekitar)
Maghrib 18:17 – 18:21
--:--:--
Isya 19:20 – 19:30 (perkiraan)
Menuju Buka Puasa --:--:--
Instagram @kontakbanten.id

Tag Terpopuler

Catatan Redaksi HPN 2026 Kehidupan Pers Jauh Pangang Dari Api !

Monday, 9 February 2026 | Monday, February 09, 2026 WIB | Last Updated 2026-02-09T10:44:14Z

Setiap tanggal 9 Februari, insan pers di Indonesia kembali menandai satu momen penting dalam sejarah jurnalistik nasional yaitu Hari Pers Nasional. Peringatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ruang refleksi atas peran, tanggung jawab, dan arah pers di tengah perubahan zaman yang kian kompleks. Hari Pers Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 oleh Presiden Soeharto, bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946.

Pada tahun 2026, Hari Pers Nasional mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”. Provinsi Banten ditunjuk sebagai tuan rumah peringatan HPN 2026, dengan rangkaian kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 7–9 Februari di Kota Serang, melibatkan insan pers dari berbagai daerah di Indonesia.

Namun di balik kemeriahan peringatan dan tema yang optimistis, ada pertanyaan mendasar yang layak diajukan, di tengah arus informasi yang deras, masihkah pers menjalankan fungsinya sebagai pengawal nurani publik?

Dalam lanskap media hari ini, pers tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Media sosial, algoritma, dan budaya viral telah menggeser cara publik mengonsumsi informasi. Kecepatan sering kali mengalahkan kedalaman, dan sensasi kerap menyingkirkan verifikasi. Dalam situasi seperti ini, pers menghadapi godaan besar untuk sekadar mengikuti arus, mengejar klik, trafik, dan perhatian sesaat. Padahal, di sinilah fungsi pers sebagai penjaga nurani diuji.

Nurani publik bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya. Ia dibentuk melalui informasi yang jujur, konteks yang utuh, dan keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua hal bisa diperlakukan netral. Pers tidak cukup hanya berdiri di tengah dan menyajikan dua sisi secara mekanis. Ada nilai-nilai dasar yang semestinya menjadi pijakan, seperti kemanusiaan, keadilan, dan akal sehat. Ketika ketidakadilan dinormalisasi, ketika kekerasan dipoles menjadi angka statistik, atau ketika suara kelompok rentan tenggelam, di situlah pers seharusnya hadir sebagai pengingat.

Tentu, menjaga nurani publik bukan perkara mudah. Pers bekerja di bawah tekanan yang tidak ringan, mulai dari kepentingan politik, relasi kuasa, ancaman hukum, hingga persoalan ekonomi media yang membuat independensi sering kali diuji. Banyak jurnalis bekerja dalam kondisi serba terbatas, dengan beban kerja tinggi dan perlindungan yang minim. Dalam konteks ini, melemahnya suara pers tidak selalu identik dengan hilangnya idealisme, tetapi sering kali merupakan cerminan dari sistem yang mengekang keberanian.

Meski demikian, justru di tengah keterbatasan itulah nilai pers diuji. Pers yang sehat bukan hanya soal kesejahteraan industri, tetapi juga kesehatan nurani di ruang redaksi. Pers yang berdaulat tidak tunduk pada tekanan yang membungkam kebenaran. Dan bangsa yang kuat membutuhkan pers yang berani menjaga ingatan agar tragedi tidak cepat dilupakan, kesalahan tidak diulang, dan kekuasaan tidak berjalan tanpa pengawasan.

Hari Pers Nasional seharusnya menjadi momen untuk bertanya dengan jujur, bukan sekadar merayakan. Apakah pers masih bersedia mengambil posisi yang tidak populer demi kepentingan publik? Masihkah pers mau berdiri di sisi yang sunyi ketika kebenaran tidak ramai diperbincangkan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah pers benar-benar tetap menjadi pengawal nurani publik, atau sekadar penonton dalam hiruk-pikuk informasi yang kian bising.

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update