< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Kemarau Panjang, Produksi Palawija di Lebak Turun 41 Persen pada 2026

Minggu, 18 Oktober 2026 | Minggu, Oktober 18, 2026 WIB | Last Updated 2026-10-18T01:21:25Z

 


 

LEBAK, KONTAK BANTEN – Produksi palawija di Kabupaten Lebak, Banten, mengalami penurunan tajam selama Januari hingga September 2026. Total produksi tercatat 4.140 ton, turun 2.899 ton atau sekitar 41,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 7.039 ton.

Penurunan tersebut dipicu kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan dan menghambat pertumbuhan berbagai tanaman palawija. Kondisi ini juga membuat sebagian petani terpaksa menghentikan kegiatan tanam karena keterbatasan air dan tingginya biaya produksi.

Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, mengatakan kemarau yang berlangsung selama sekitar lima bulan terakhir berdampak terhadap produktivitas pertanian masyarakat.

“Kami melihat menurunnya produksi palawija itu akibat kemarau panjang,” kata Dodi di Lebak, Jumat.

Menurut dia, petani mengalami kesulitan mengembangkan budidaya jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Kekurangan air menyebabkan tanaman tidak tumbuh subur, bahkan sebagian petani memilih tidak menanam komoditas yang selama ini menjadi salah satu andalan ekonomi keluarga.

Selain faktor cuaca, biaya produksi yang meningkat turut menjadi kendala. Petani membutuhkan pompa air dan sarana pendukung lainnya untuk menjaga tanaman tetap tumbuh selama musim kemarau.

“Produksi palawija tahun ini turun drastis, karena musim kemarau panjang itu,” ujar Dodi.

Produksi Jagung Mencapai 2.860 Ton

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, produksi palawija selama Januari hingga September 2026 mencapai 4.140 ton. Jagung menjadi komoditas dengan produksi terbesar, sedangkan kacang hijau mencatat produksi paling rendah.

Berikut rincian produksi palawija di Kabupaten Lebak:

  • Jagung: 2.860 ton.

  • Kedelai: 18 ton.

  • Kacang tanah: 107 ton.

  • Kacang hijau: 2 ton.

  • Ubi kayu atau singkong: 798 ton.

  • Ubi jalar: 355 ton.

Penurunan produksi tersebut menjadi tantangan bagi sektor pertanian Lebak karena hasil panennya dipasok ke berbagai daerah di Provinsi Banten dan Jakarta.

Meski demikian, Dodi menyatakan produksi yang tersedia diperkirakan masih dapat memenuhi permintaan pasar di wilayah Banten.

Petani Diminta Memperluas Tanam saat Musim Hujan

Untuk memulihkan produksi, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak mengimbau para petani memanfaatkan datangnya musim hujan dengan memperluas areal tanam palawija.

Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat pendapatan keluarga petani, sekaligus menjaga ketersediaan pangan di daerah.

“Kami minta petani di musim hujan agar memperluas produksi tanaman palawija, karena dapat meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga juga ketersediaan pangan,” kata Dodi.

Optimalisasi musim tanam perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lahan, ketersediaan benih, serta kebutuhan air agar produksi dapat meningkat secara berkelanjutan.

Dengan dukungan kondisi cuaca yang lebih baik dan strategi budidaya yang tepat, produksi palawija Kabupaten Lebak diharapkan kembali meningkat setelah terdampak kemarau panjang.

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update