SERANG, (KB).- Sisa lebih penggunaan anggaran
(silpa) Pemprov Banten tahun anggaran (TA) 2018 capai Rp 1,07 triliun.
Hal itu disampaikan Gubernur Banten Wahidin Halim dalam rapat Paripurna
DPRD agenda penyampaian nota pengantar laporan keterangan
pertanggungjawaban (LKPj) TA 2018 di Sekretariat DPRD Banten, KP3B, Kota
Serang, Rabu (6/3/2019).
Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, pada tahun anggaran 2018
pemprov telah menetapkan tujuh program prioritas. Tujuh prioritas itu
dilaksanakan dalam 129 program dan 1.013 kegiatan yang dijabarkan dalam
35 bidang urusan.
Adapun tujuh program prioritas ini, pertama peningkatan akses mutu
pelayanan pendidikan dan kesehatan. Kedua, pembangunan infrastruktur
wilayah, energi dan air baku. Ketiga, pembangunan pertanian dan
pengembangan ekonomi lokal.
Keempat, perlindungan dan rehabilitasi sosial. Kelima, pemanfaatan
sumber daya kelautan. Keenam, perluasan lapangan kerja dan kesempatan
berusaha serta ketujuh peningkatan pengendalian dan penatausahaan
daerah.
“Tujuh prioritas itu dilaksanakan dalam 129 program dan 1.013 kegiatan yang dijabarkan dalam 35 bidang urusan,” katanya.
Mantan anggota DPR RI mengatakan, capaian pendapatan daerah hingga 31
Desember 2018 senilai Rp 10,32 triliun, atau 98 persen dari target
senilai Rp 10,48 triliun. Sementara belanja daerah pada APBD Perubahan
2018 terserap Rp 9,99 triliun atau 90,39 persen dari anggaran sebesar Rp
11,05 triliun. Dengan demikian, silpa tahun anggaran 2018 senilai Rp
1,07 triliun.
Meski terdapat silpa, lanjut dia, pemprov berhasil merealisasikan
capaian indikator makro dibanding tahun sebelumnya. Buktinya, Provinsi
Banten berhasil mencapai peringkat delapan provinsi dengan IPM
tertinggi.
“Kemudian laju pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2018 mencapai 5,98
persen atau hampir mencapai target RPJMD 2017-2022 sebesar 6 persen.
Sedangkan target 2018 hanya 5,81 persen lebih tinggi dibandingkan
capaian 2017 sebesar 5,73 persen,” ujarnya.
Kemudian, capaian persentase penduduk miskin dapat terealisasikan
5,25 persen. Angka itu lebih rendah dibanding 2017 sebesar 5,59 persen
dan jauh lebih rendah dari tingkat nasional sebesar 9,66 persen.
“Tingkat ketimpangan atau gini rasio sebesar 0,367 dari target 0,390,
lebih baik dari capaian 2017 sebesar 0,379. Angka itu juga lebih baik
dari capaian nasional sebesar 0,384,” ucapnya.
Sementara untuk capaian pengangguran terbuka dapat direalisasikan
sebesar 8,52 persen. Capaian itu merupakan titik terendah pengangguran
tahunan sepanjang Provinsi Banten berdiri dan lebih rendah dari
pengangguran terbuka 2017 sebesar 9,28 persen.
“8,52 persen ini termasuk tingkat pengangguran tertinggi
se-Indonesia. Tingkat inflasi terkendali yakni sebesar 3,42 persen di
bawah target RPJMD 3,70 persen,” tuturnya.
Ke depan, pemprov akan lebih banyak menitikberatkan pelaksanaan
anggaran pada belanja langsung. Agar realisasi capaian indikator makro
dan capaian kinerja lebih optimal. Seperti pendidikan gratis tingkat
menengah dan khusus dirasakan bagi yang tidak mampu.
“Kewenangan provinsi yang semakin mantap telah dirasakan masyarakat,
revitalisasi kawasan Banten Lama mulai menampakkan auranya secara fisik
maupun spiritual,” tuturnya.
Ketua DPRD Provinsi Banten Asep Rahmatullah mengatakan, LKPj tahun
anggaran 2018 yang telah disampaikan Gubernur Banten akan dibahas lebih
lanjut oleh panitia khusus (pansus) DPRD. “Rekomendasi atas LKPj akan
disampaikan dalam rapat paripurna pada 27 Maret,” katanya.







0 comments:
Post a Comment