Apa arti nasionalisme
bagi generasi yang bahkan tidak pernah membayangkan seperti apa rasanya
jika freedom of speech adalah kemewahan pada suatu masa? Atau, sekedar
membayangkan bahwa gerakan mahasiswa tahun 60-an dan 90-an adalah
sesuatu yang heroik pada jamannya?
Belum lagi harus membayangkan nasionalisme tokoh-tokoh kebangkitan
nasional 108 tahun lalu. Apakah arti kebangkitan bagi golden generation
atau generasi emas ini? Apakah diperlukan gelombang kebangkitan nasional
kedua menjelang 100 tahun kemerdekaan negeri ini pada 2045 nanti?
Turning Point
"Als ik eens Nederlander was. Seandainyasaya seorang Belanda". Tulisan
maha berani dari Soewardi Soerjaningrat yang ditulis di harian De Expres
milik Douwes Dekker pada 1913 itu membuat berang pemerintah kolonial.
Tulisan itu, bisa jadi, adalah kritik tertulis yang paling dahsyat saat
itu.
Tulisan tersebut adalah salah satu buah dari kebangkitan nasional pada
saat Budi Utomo di tahun 1908 membawa perubahan fundamental dalam pola
perjuangan bangsa Indonesia. Perjuangan yang mengandalkan kekuatan fisik
diganti dengan kekuatan intelektualitas. Melawan bukan dengan senjata
dan otot, tapi lewat pikiran dan tulisan.
Budi Utomo pula yang mempelopori perjuangan sporadis menjadi
terintegrasi. Suatu pola yang tidak pernah dikenal di era sebelumnya,
yang mengandalkan ketokohan dari daerah masing-masing.
Integrasi itu direalisasikan dalam wadah kepartaian seperti Perhimpunan
Indonesia. Lalu, ketokohan yang dulu menempatkan raja atau sultan
sebagai panglima digantikan oleh para tokoh nasionalis yang tidak
memandang suku dan fanatisme kedaerahan, melainkan idealisme dan
intelektualitas sebagai "panglima". Itulah turning point perjuangan
kita!
Remote Sensing
Para tokoh kebangkitan itu punya kepekaan (sensibility) dalam membaca
dan memetakan zaman dan mengekstrapolasikan ke satu titik: kemerdekaan!
Ya, kepekaan. Bagaikan teknologi remote sensing, kemampuan penginderaan
jarak jauh yang mengandalkan kepekaan 'sensor' progresifitas berpikir
dan nasionalisme inilah yang harus dimiliki oleh generasi muda saat ini.
Kepekaan untuk menciptakan kesadaran!
Menyadari bahwa perjuangan kekinian adalah perjuangan yang mengandalkan
human resources ketimbang mengandalkan natural resources yang tidak
berkelanjutan. Menyadari bahwa kepemimpinan ketokohan semata akan
menjadi usang dan digeser menjadi kepemimpinan berbasis kompetensi,
integritas dan nilai-nilai.
Menyadari bahwa revolusi teknologi informasi dan digital harus mendorong
bangkitnya sektor usaha dan industri kreatif, kesadaran antikorupsi dan
juga sektor pendidikan dan riset. Tanpa kepekaan, revolusi teknologi
hanya disikapi sebatas kecanduan online game atau sekedar mengunduh foto
selfie di berbagai media sosial. Ya, tak lebih dari itu!
Kekuatan geotermal
Kebangkitan bagi generasi milenial sejatinya adalah juga tentang
ekstrapolasi ke satu titik: Indonesia 100 tahun merdeka, Indonesia yang
berdaya saing dan bermartabat!
Kekuatan untuk bangkit (lagi) itu seyogianya sangatlah besar. Bak
kekuatan geotermal, yang konon kandungan terbesarnya ada di Indonesia,
kita punya kekuatan istimewa yang perlu digali dan dipancarkan.
Kekuatan itu adalah kearifan lokal dan nilai-nilai luhur, seperti
kohesivitas, toleransi, daya juang, kreatifitas dan juga posisi
geografis dan geopolitik yang "seksi". Integrasi kawasan ASEAN justru
harus dijadikan momentum kebangkitan kedua, bukan sekedar peluang,
apalagi ancaman.
Untuk mengolah kekuatan super itu memang perlu investasi besar. Tidak
hanya investasi infrastruktur.
Budi Utomo menyerukan pada bangsa ini bahwa motor utama perubahan adalah
pendidikan dan budaya, bukan politik. Pendidikan dan budaya harus
berdiri paling depan sebagai panglima. Pendidikan yang bukan hanya
berkutat pada aspek kognitif, tapi pendidikan yang membangkitkan
kepekaan, dan kesadaran.
Ya, bukan pendidikan yang menghasilkan generasi yang "indiferent",
generasi yang tidak peka. Kekuatan geotermal luar biasa itu akan mampu
menggerakkan turbin-turbin kesadaran bangsa untuk menghasilkan energi
kebangkitan.
Selamat memaknai hari kebangkitan nasional!
Wednesday, 8 May 2019
Home »
» Generasi Milenial Butuh Kepekaan 'Remote Sensing' dan 'Energi .






0 comments:
Post a Comment