PRODUKSI usaha kecil mikro menengah (UMKM) di
Kabupaten Serang menurun drastis sekitar 50 sampai 80 persen akibat
pandemi virus corona (Covid-19). Bahkan, para perajin tahu memilih mogok
produksi karena naiknya harga bahan baku. Atas kondisi tersebut,
pemerintah diminta untuk mengambil kebijakan terkait perekonomian
masyarakat.
“Kalau UMKM terasa (terdampak) buat mereka yang biasa produksi. 50-80
persen drop produksinya,” ujar Ketua Forum UMKM Kabupaten Serang Babay
Suhendri kepada Kabar Banten, Selasa (31/3/2020).
Meski begitu, ada juga usaha kuliner yang mengalami kenaikan
produksi. Akan tetapi hal itu juga terbatas ruang gerak sehingga
terhambat saat distribusi.
“Dia hanya jual secara lokal jadinya ada penurunan. Seperti di daerah
saya misalnya UMKM bergerak di bidang hasil laut, mereka produksi
udang, kepiting enggak masuk ke restoran di Jakarta. Otomatis sudah drop
enggak laku dan rugi banget itu bahan baku olahan hasil laut,” katanya.
Selain itu, para pedagang kecil yang biasa berjualan di kantin sekolah sangat terdampak.
“Sehingga warung kecil yang tutup ini bergantung pada tabungannya
untuk menutup biaya hidup. Pasar-pasar juga mengalami penurunan,”
tuturnya.
Babay mengatakan, untuk saat ini pihaknya belum menghitung besaran
kerugian. Namun jika dipersentasi, rata-rata penurunannya berkisar 50-80
persen.
Dirinya memprediksi kondisi ini akan berlangsung hingga Mei 2020. Kemudian pada Juni akan dilakukan pemulihan.
“Sehingga kalau enggak ada upaya pemerintah menangani selain corona
yakni dampak ekonomi ini juga bahaya. Harus ada tim yang fokus pada
persoalan ekonomi agar diatasi,” ujarnya.
Di sisi lain, ada pelaku UMKM yang mengalami berkah usaha di tengah
situasi seperti ini, yaitu penjual masker dan hand sanitizer.
“Kalau saya kebetulan bergerak di pengiriman JNE, memang relatif
stabil dan bahkan ada kenaikan sekitar 10 persen, karena orang misal mau
ke ponpes kirim makanan lewat kami. Tapi ada juga yang sudah lockdown
sehingga pengiriman tidak lancar, ada juga yang agak lambat. Seperti
Batam dan Bali itu enggak bisa kirim,” ucapnya.
Dirinya sudah menyampaikan permasalahan tersebut kepada dinas
terkait. Namun, hal itu belum disampaikan secara resmi baru sebatas
pesan melalui WhatsApp.
“Baru saya usahakan ke beberapa orang bentuknya rekomendasi. Itu
disampaikan ke kadis (Diskoperindag) dalam bentuk WA, imbauan itu
termasuk bagaimana cadangan perbankan misalnya relaksasi keuangan harus
jelas. Jangan sampai berharap banyak tapi praktik tidak jelas.
Mudah-mudahan ini upaya kami agar UMKM bisa terlindungi dan ada solusi
di tengah kondisi seperti ini,” katanya.
Ia mengatakan, pihak dinas merespon dengan mengirim formulir yang
diterbitkan Kementerian Keuangan. Intinya, agar mendata mana saja UMKM
atau tenaga medis yang terdampak corona.
“Enggak tahu buat apa, harapan kita dari data itu pemerintah punya
pegangan siapa saja yang rill terdampak sehingga ada solusi. Apakah
bentuknya subsidi atau apa, sehingga menjadi solusi untuk menyelesaikan
persoalan. Kalau data dinas itu ada 30 ribu UMKM. Kalau aktif enggaknya
enggak bisa diukur,” katanya.







0 comments:
Post a Comment