Di usia yang bagi sebagian besar atlet adalah masa pensiun, kapten timnas Portugal ini justru membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pemain bola, melainkan sebuah "biosfer komersial" yang mampu menghidupi dirinya sendiri bahkan jika ia memutuskan gantung sepatu besok pagi.
Perayaan ulang tahun ini semakin manis dengan fakta bahwa Ronaldo telah memperbarui kontraknya dengan klub Arab Saudi, Al Nassr, pada 2025 lalu untuk durasi dua tahun.
Nilai kesepakatannya pun fantastis, mencapai angka £492 juta. Jika dibedah lebih dalam, angka ini menunjukkan betapa berharganya waktu bagi seorang CR7; ia mengantongi sekitar £488.000 per hari, atau setara dengan £5,65 (sekitar Rp100 ribuan) untuk setiap detik yang berlalu dalam hidupnya.
Kesepakatan "gila" ini tidak berhenti pada gaji saja, karena Ronaldo juga memegang 15% saham di klub tersebut senilai £33 juta, menjamin masa pensiun yang lebih dari sekadar mewah.
Namun, kekayaan Ronaldo tidak hanya bersumber dari gocekan bolanya di lapangan hijau. Mantan bintang Manchester United dan Real Madrid ini telah membangun kerajaan bisnis global di bawah merek "CR7" yang mencakup alas kaki, busana, hingga wewangian.
Ekspansi bisnisnya merambah sektor perhotelan lewat kerja sama dengan Pestana, yang kini telah berdiri megah di kota-kota besar dunia seperti Madeira, Lisbon, Madrid, Marrakech, hingga New York.
Tak ketinggalan, ia juga merambah industri kebugaran lewat CR7 Crunch Fitness dan meluncurkan lini parfumnya sendiri.
Kekuatan merek Ronaldo juga didukung oleh dominasi digital yang tak tertandingi. Pada September 2025, ia mencatatkan sejarah sebagai manusia pertama yang menembus angka 1 miliar pengikut di seluruh platform media sosial.
Di Instagram saja, ia memiliki 671 juta pengikut, menjadikannya individu yang paling banyak diikuti di dunia.
Hal ini
membuat media sosialnya bukan sekadar alat pemasaran, melainkan aset
media raksasa yang memberikan jaminan visibilitas bagi merek-merek kelas
kakap yang bekerja sama dengannya, seperti Nike, Binance, hingga Jacob
& Co.
Kepindahannya ke Liga Pro Saudi yang sempat menuai kritik ternyata menjadi langkah strategis yang brilian di senja kariernya. Berada di luar ekosistem Eropa justru membuka pasar baru dan meningkatkan relevansi mereknya di ekonomi yang sedang berkembang.







0 comments:
Post a Comment