Banyak sekali orang mengalami tekanan hidup yang besar bahkan hingga
sulit sekali menghadapinya. Akibatnya timbul stress, tidak nafsu makan,
susah tidur, kepala pusing, stroke, bahkan memutuskan mengakhiri hidupnya saat itu juga. Saya
pun pernah mengalami suatu masa di mana saat itu rasanya banyak sekali
masalah datang menghadang dan saya merasa sangat tidak berdaya mengatasi
tekanan hidup yang ada.
Entah mengapa kemudian saya teringat dengan rumus tekanan dalam
fisika. Masih ingat rumus tekanan dalam fisika? P = F/A. Saya yakin
pasti sahabat semua ingat. P adalah tekanan, F mewakili beban gaya yang
bekerja, sementara A adalah luas permukaan. Selama ini, mungkin kita
biasa saja memandang rumus ini hanya dari sisi mekanika. Namun dari sisi
psikologis menurut saya tidak jauh berbeda. Kita anggap saja P itu
sebagai problem, F sebagai force atau tekanan hidup yang kita alami, dan A adalah Area dari pikiran dan hati kita. Kita bisa jadi selama ini berfokus menganggap besarnya masalah karena memang melihat bahwa force yang
kita terima besar. Namun, antara P dan A itu berbanding terbalik.
Bagaimana jika A nya yang kita perbesar? Bukankah justru P yang kita
terima akan menjadi ringan? Bisakah kita memperbesar ‘A’ yang ada pada
diri kita? Jawabannya, bisa!
Lantas, bagaimana cara kita memperbesar A yang kita punya agar masalah tidak semakin besar?
Mendekatkan Diri Kepada yang Maha Kuasa
Inilah saatnya Anda mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa. Selama
Anda yakin bahwa Allah itu adalah Maha Besar dari segalanya, maka tidak
ada masalah yang tidak ditemukan solusinya. Allah punya banyak cara yang
terbaik dan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Tetapi kembali
lagi, apakah kita benar-benar meyakininya? Mereka yang biasanya stress adalah
karena terlalu mengandalkan diri sendiri dan merasa bahwa dirinya
dikalahkan oleh tekanan hidup yang ada. Perbanyaklah ibadah dan doa Anda
untuk mengikutsertakan Allah dalam memecahkan masalah yang Anda hadapi.
Hal ini dapat memperluas area A yang Anda miliki.
“Mintalah kepada-Ku, niscayaakan Aku kabulkan.” (QS. Al-Mu’min: 60)
Membiasakan Berpikir Positif
Biasakan untuk berpikir positif dari sekarang, baik saat ada masalah
maupun tidak agar terbiasa. Ya, berpikir positif sebenarnya tercipta
dari sebuah kebiasaan. Sayangnya lebih banyak orang yang tertanam
pikiran negatif dibandingkan dengan pikiran positifnya. Mereka yang
berpikir setiap masalah pasti memiliki jalan keluar, pasti ada jalan
keluarnya. Namun mereka yang berpikir sebaliknya, justru akan dikalahkan
oleh masalah sebelum mampu memulai mengatasinya.
BERPIKIR POSITIF dapat menghancurkan semua tembok pemisah antara ‘bisa’ dan ‘tidak bisa’.
Memiliki Sahabat yang Bijak dan Positif
Mereka yang bersahabat dengan tukang minyak wangi akan tertular
wanginya, sementara mereka yang bersahabat dengan pandai besi akan
terkena abunya. Banyak dari kita yang memiliki pandangan sempit terhadap
masalah karena memang sahabat-sahabat yang kita miliki adalah orang
yang negatif. “Ah, ga mungkin lo bisa nyelesein masalah itu, gue ga
yakin lo bisa. Gue kenal sama lo dan gue tau gimana lo”, dan berbagai
pernyataan menyesatkan lainnya. Tetapi cobalah berteman dengan mereka
yang positif, “Gue yakin masalah ini hanya sementara dan coba lo
berpikir sebentar dengan jernih. Selalu ada solusi di setiap masalah.”
Saya menulis ini karena punya pengalaman memiliki dua sahabat dengan
pola pikir berbeda dalam memandang masalah. Kalau di Komunitas TDA
Kampus, saya memiliki yang namanya Kelompok MasterMind dan juga sewaktu
di SMA saya memiliki sahabat MasterMind yang fungsinya saling support saat kami ada dalam kesulitan.
Jadi, pandanglah masalah dengan cara yang berbeda. Masalah itu besar
jika memang kita memandangnya dengan cara yang sempit. Masalah itu akan
semakin kecil rasanya jika kita mampu memperbesar cara pandang kita dan
tahu bahwa jika luas pandang kita diperlebar, maka masalah itu jadi
tidak ada apa-apanya.







0 comments:
Post a Comment