SERANG, (KB).- Selain antar partai politik (parpol),
perebutan kursi DPR RI daerah pemilihan (dapil) di Provinsi Banten,
juga diwarnai persaingan calon legislatif (caleg) internal. Dari
beberapa parpol yang berhasil meraih signifikan, persaingan internal
mendongkrak perolehan suara parpol meraih kursi Senayan.
Berdasarkan data perolehan suara parpol DPR RI yang dihimpun Kabar
Banten, Selasa (23/4/2019), terdapat beberapa parpol yang menghadirkan
persaingan internal dan mampu mendongkrak suara parpol. Parpol tersebut
di antaranya Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Nasdem, PKS, dan
PDIP.
Di Partai Gerindra, persaingan justru terjadi dapil Banten I yang
meliputi Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Berbeda dengan dapil
Banten II yang didominasi petahana Desmond J Mahesa, dapil Banten II
lebih kompetitif. Persaingan di partai berlambang garuda ini terjadi
antara caleg nomor urut 1 Ali Zamroni dan H. Anda.
Perseteruan keduanya, di antaranya terjadi di dua kecamatan di
Kabupaten Pandeglang yakni Bojong dan Angsana. Di Kecamatan Bojong, Ali
Zamroni yang meraih 440 suara atau unggul dari H. Anda dengan 178 suara,
dibalas di Kecamatan Angsana oleh H. Anda yang meraih 675 suara atau
unggul atas Ali Zamroni dengan raihan 569 suara.
Persaingan juga terjadi di PDIP, yang melibatkan caleg nomor urut 1
sekaligus petahana Hasbi Sidik Jayabaya dengan caleg nomor urut 2 Tia
Rahmania. Di dua kecamatan yang sama, Hasbi maupun Tia saling balas
keunggulan suara. Di Kecamatan Bojong, Hasbi unggul dengan 187 suara dan
Tia hanya 154 suara. Namun di Kecamatan Angsana, Tia unggul dengan
meraih 504 suara dan Hasbi hanya meraih 148 suara.
Duel caleg internal, juga terjadi di PKS yang melibatkan mantan
Bupati Pandeglang Ahmad Dimyati Natakusumah dengan mantan anggota DPD RI
Sadeli Karim. Persaingan keduanya cukup mendominasi perolehan suara
internal. Di dua kecamatan, Dimyati maupun Sadeli saling susul dan mampu
meraih 1.205 suara.
Peta persaingan internal yang cukup kompetitif, disajikan di Partai
Demokrat antara caleg nomor urut 1 sekaligus petahana Vivi Sumantri
Jayabaya, dengan caleg nomor urut 2 Rizki Aulia Rahman Natakusumah. Vivi
yang merupakan keponakan mantan Bupati Lebak dua periode Mulyadi
Jayabaya, bersaing cukup ketat dengan Rizki yang merupakan anak dari
mantan Bupati Pandeglang dua periode Dimyati Natakusumah.
Di Kecamatan Bojong Kabupaten Pandeglang misalnya, Vivi yang mampu
meraih 512 suara di kandang Rizky yang meraih 4.664 suara. Begitu pun di
Kecamatan Angsana, Rizky yang meraih 144 suara, kembali ditempel Vivi
yang meraih 115 suara.
Bukan hanya di dapil Banten I, persaingan di internal Partai Demokrat
juga terjadi di Dapil Banten II antara nomor urut 1 Amir Syamsudin dan
Nuraeni. Perolehan suara keduanya, saling kejar dan mendominasi
perolehan suara yang signifikan dari caleg lainnya. Salah satunya di
Kecamatan Bojonegara, baik Amir maupun Nureani saling kejar dalam
perolehan suara di sebelas desa tersebut. Di kecamatan ini, Nuraeni
meraih 511 suara atau unggul tipis dari Amir Syamsudin yang meraih 499
suara.
Namun, keunggulan Nuraeni di Kecamatan Bojonegara itu dibalas Amir
Syamsudin di Kecamatan Cikande. Salah satu kecamatan yang memiliki
daftar pemilih tetap (DPT) tertinggi di Kabupaten Serang itu, Amir
meraih 786 suara atau ungggul atas Nuraeni yang meraih 669 suara. Secara
keseluruhan dari 5 kecamatan, untuk sementara Amir Syamsudin neraih
2.469 suara atau unggul tipis dari Nuraeni yang meraih 2.478 suara.
Dari persaingan internal parpol, kejutan terjadi di Partai Nasdem di
dapil Banten II. Peta caleg persaingan Nasdem yang diprediksi akan
ketata antara mantan Sekda Banten Ranta Soeharta dengan Mamat Rahayu dan
Wahyu Djahidi, di luar dugaan muncul nama Risya Azzahra Natakusumah,
yang merupakan anak dari pasangan Bupati Pandeglang Irna Narulita dan
Ahmad Dimyati Natakusumah.
Risya mencuat dengan perolehan suara yang signifikan di beberapa
kecamatan, dan mampu menempel Ranta Soeharta yang sementara berada di
urutan teratas dalam perolehan saura Partai Nasdem di dapil Banten II.
Di beberapa kecamatan yang berdekatan dengan Kabupaten Pandeglang, Risya
menempel ketat perolehan Ranta.
Di Kecamatan Carenang misalnya, Risya mampu meraih 513 suara atau
tidak jauh dari perolehan suara Ranta di posisi teratas dengan 606
suara. Keduanya unggul jauh dari Wahyu Djahidi yang meraih 201 suara,
Mamat Rahayu 95 suara. Begitu juga di Kecamatan Baros, Risya mampu
mendulang suara signifikan dengan 891 suara dan kembali menempel
perolehan Ranta di posisi teratas dengan 1.000 suara.
Di Pamarayan, Risya bahkan meraih suara terbanyak dengan 306 suara,
mengalahkan Ranta dengan 203 suara. Namun di Kecamatan Tunjung Teja,
Risya yang meraih 403 suara, kalah telak dari Ranta yang meraih 1.780
suara. Secara keseluruhan dari 5 kecamatan, Ranta berada di posisi
teratas dengan raihan 5.321 suara dan Risya meraih 1.934 suara.
Belum inkrach
Sementara itu, Ketua KPU Pandeglang Ahmad Suja’i enggan berkomentar
terkait dengan perolehan suara sementara. Sebab, perolehan tersebut
masih belum inkrach. “Kalau belum pleno di tingkat kabupaten saya belum
bisa memprediksi siapa yang lolos, sebab perolehan sementara tersebut
masih belum pasti jumlahnya,” ucap Ketua KPU Pandeglang saat ditemui di
ruangannya, Selasa (23/4/2019).
Begitu juga Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Serang, mengimbau calon
legislatif (caleg) untuk menunggu hasil penghitungan suara hasil pleno
di tingkat KPU. Saat ini belum ada rilis resmi yang dikeluarkan oleh KPU
tentang caleg yang menang dan tidak pada Pemilu serentak tahun 2019.
“KPU belum pernah sama sekali merilis atau menyampaikan hasil resmi
pemilu di Kota Serang,” kata Divisi Teknis KPU Kota Serang Fierly
Murdlyat Mabrurri kepada awak media di KPU Kota Serang, Selasa
(23/4/2019).
Ia mengatakan, saat ini proses rekapitulasi di Panitia Pemilihan
Kecamatan (PPK) sedang berjalan dan sudah direkap sebanyak 604 TPS dari
1.828 TPS di semua kecamatan atau sekitar 33 persen. “Jadi kami
mengimbau kepada seluruh masyarakat khususnya caleg agar menunggu hasil
rapat pleno di KPU, proses rekap manualnya sedang berlangsung,” ucapnya.
Ia menuturkan, untuk proses entri di aplikasi Situng hingga saat ini
sudah 75 persen, sedangkan yang sudah dipublikasi baru 6 persen.
Prosesnya, kata dia, setelah dientri data kemudian diverifikasi, namun
tidak bisa langsung tayang di infopemilu. “75 persen itu keseluruhan
surat suara, wabil khusus sesuai arahan KPU RI itu entri surat suara
pemilihan presiden,” tuturnya.
Terkait adanya beberapa pihak yang menyatakan kemenangan atau
kekalahan dan bahkan memprediksi perolehan kursi di Kota Serang,
menurutnya form C1 yang merupakan hasil hitung di TPS hanya ada di dalam
kotak suara yang saat ini dilakukan proses rekap di PPK, KPU Kota
Serang, saksi dan pengawas.
Sedangkan fenomena di lapangan, banyak saksi parpol yang tidak hadir
di TPS sehingga kesulitan mendapatkan form C1. “Saksi hampir 70 persen
yang tidak hadir, ada beberapa partai yang hadir ada yang sama sekali
gak hadir sehingga mereka kesulitan mendapatkan C1,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KPU Kota Serang Ade Jahran mengatakan, saat ini
pihaknya mendapatkan adanya form C1 yang ditempel pada masing-masing
kelurahan yang hilang yakni di dua kelurahan di Kecamatan Kasemen. “C1
yang hilang secara aturan akan pidana, karena mencuri dokumen negara.
Kami belum ambil sikap terkait itu,” ujarnya.







0 comments:
Post a Comment