![]() |
| Gubernur Banten H Wahidn Halim Ketika Memberikan Bantuan JAMSOSRATU |
SERANG - Tahun ini Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) tahun ini telah dicabut
status Kementerian Desa.
Dua daerah tertinggal di Pemprov Banten yang dicabut
kementerian Desa yakni Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Hal
ini juga tak lepas dari peran Pemprov Banten dalam pemberdayaan
masyarakat desa.
Di antaranya peningkatan kualitas infrastruktur jalan dan
peningkatan fasilitas transportasi umum yang semakin baik, pelayanan
kesehatan semakin baik, biaya sekolah gratis, alokasi dana desa (ADD),
serta program pemberdayaan masyarakat desa melalui program jaminan
sosial rakyat Banten bersatu (Jamsosratu) untuk warga Banten yang belum
menerima bantuan program keluarga harapan (PKH) dari pemerintah pusat.
Pada tahun 2019, jumlah penerima bantuan sebanyak 50.000
keluarga. Masing-masing keluarga penerima manfaat akan menerima senilai
Rp1.750.000.
Program-pogram pembangunan yang dilaksanan Gubernur Wahidin
Halim dan Wakil Andika Hazrumy menunjukkan keberhasilannya dengan
semakin membaiknya indikator makro pembangunan Provinsi Banten yang
masuk kelompok kategori tertinggi nasional dalam indikiator makro
pembangunan.
Empat indikator makro yang dicapai Provinsi Banten di atas
capaian nasional. Berdasarkan data BPS di tahun 2019, capaian 5
Indikator Makro Pembangunan Daerah Provinsi Banten:
1. Angka Kemiskinan Provinsi Banten berdasarkan hasil
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bulan Maret 2019 sebesar 5,09
persen. Mengalami penurunan sebesar 0,16 poin dibanding periode
sebelumnya yang sebesar 5,25 persen. Hal ini sejalan dengan berkurangnya
jumlah penduduk miskin sebanyak 14,28 ribu orang dari 668,74 ribu orang
pada September 2018 menjadi 654,46 ribu orang pada Maret 2019.
2. Perekonomian Banten pada triwulan II-2019 tumbuh 5,35
persen (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir
semua lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar
9,46 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh
Komponen Pengeluaran Lembaga Non Profit yang tumbuh sebesar 10,03
persen.
3. Angka Pengangguran di Provinsi Banten per Februari 2019
mengalami penurunan menjadi 7,58 persen atau sekitar 465.800 orang
dibandingkan tahun 2018 sebesar 7,77 persen. Jumlah angkatan kerja
sebesar 6,14 juta orang dengan jumlah yang bekerja sebanyak 5,68 juta
orang atau meningkat 53.920 orang dibandingkan Februari 2018.
4. Gini Ratio berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio
di daerah perkotaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,360. Angka ini
turun 0,002 poin dibanding Gini Ratio September 2018 yang mencapai
0,362. Untuk daerah perdesaan Gini Ratio Maret 2019 tercatat sebesar
0,294, angka ini turun sebesar 0,005 poin dibanding Gini Ratio September
2018. Nilai Gini Ratio di perdesaan lebih kecil dibandingkan di
perkotaan. Artinya ketimpangan pengeluaran penduduk di perdesaan lebih
rendah.
Pada Maret 2019, persentase pengeluaran pada kelompok 40
persen terbawah adalah sebesar 18,39 persen yang berarti Provinsi Banten
berada pada kategori ketimpangan rendah. Persentase pengeluaran pada
kelompok 40 persen terbawah pada bulan Maret 2019 ini turun 0,11 poin
jika dibandingkan dengan kondisi September 2018 (18,50 persen).
"nflasi di Provinsi Banten per Agustus 2019 terkendali di
angka 0,42 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada bulan
Agustus 2019 ini adalah sewa rumah, cabe merah, melon, cabe rawit, emas
perhiasan, kangkung, roti tawar, gado-gado, bahan bakar rumah tangga dan
kembung. Laju inflasi tahun kalender tercatat sebesar 2,71 persen,
sedangkan inflasi “Year on Year” (IHK Agustus 2019 terhadap Agustus
2018) tercatat sebesar 3,76 persen," Kata Gubernur Banten Wahidin Halim
(ADV)


.gif)