-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pemkab Tangerang Beri Perhatian Terhadap Kakek yang Tinggal di Gubuk Reyot

Friday, 22 November 2019 | Friday, November 22, 2019 WIB | Last Updated 2019-11-23T02:17:38Z

Tangerang: Aska atau akrab disapa Mang Akol (52), yang hidup merana tinggal di gubuk reyot selama 13 tahun akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Wakil Bupati Tangerang Mad Romli menginstruksikan Camat Jayanti dan Dinas Sosial segera memberikan bantuan kepada Mang Akol untuk dapat hidup dengan layak. 
 
"Sudah saya instruksikan ke Pak Camat Jayanti untuk segera dibantu warga (Mang Akol) kita. Beri dia hidup yang layak," ujar Romli, Selasa, 15 Oktober 2019. Romli menyesalkan masih ada warganya terpaksa tinggal di gubuk reyot yang berdiri dari kata layak huni dengan lingkungannya dikelilingi empang dan comberan. Camat Jayanti CR Inton mengaku sudah melihat langsung dan sudah memberikan bantuan guna membeli sarana prasarana dalam memperbaiki tempat tinggalnya agar lebih layak. "Hari ini tim sudah meluncur ke lokasi bawa pasir, semen dan juga tukang. Kita pakai dulu swadaya kecamatan," katanya. Inton menjelaskan pihaknya akan menyelesaikan pembangunan rumah milik Mang Akol selama tujuh hari. Karena, lanjutnya, sebagaimana peristiwa yang sudah terjadi jika sudah ada perintah langsung dari bupati pengerjaan bakal dilakukan secara cepat. "Seperti yang sudah-sudah, kalau ada perintah pimpinan kami targetkan dengan cepat," jelasnya. Terkait masalah kesehatan Mang Akol, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan puskesmas setempat. Ia menambahkan, tim medis sudah melakukan kunjungan.  "Karena lumpuh dan karena tidak ada yang mengurusi, semua aktifitas baik makan dan buang air pun dilakukan disitu," katanya.  Aska (52), warga Kampung Sukasari RT07 RW 02 Desa Pabuaran, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, harus hidup merana selama 13 tahun di gubuk reyotnya. Kondisi tempat tinggalnya berdiri jauh dari kata layak huni itu pun diperparah dengan lingkungannya yang dikelilingi empang dan comberan. Mang Akol panggilan akrabnya harus bertahan hidup dalam gubuknya seluas 3x3 meter yang berlantai tanah, berdinding bilik bambu yang penuh lubang. Tak ada perabotan rumah tangga, hanya sebuah ranjang kayu usang hingga gulungan plastik dibuatnya sebagai bantal yang menjadi tempat merebahkan tubuhnya untuk menemani lelapnya tidur. Tak ada yang baru, semuanya sudah terlihat usang. Bahkan lubang dinding menganga di mana-mana. Serta pondasi yang mulai keropos hingga genteng pun sudah banyak yang pecah. Bahkan, kesehariannya ia hanya ditemani beberapa ekor ayam miliknya yang diberi oleh tetangganya.  Mang Akol menceritakan tentang kondisinya saat ini yang sudah tidak berdaya untuk melangkah. Dirinya hanya bisa berbaring pasrah karena penyakit yang telah menggerogotinya sejak 2007. "Saya kurang lebih 13 tahun tinggal disini. Sebelum saya sakit-sakitan, dulu saya masih bisa cari uang dengan kerja kuli bangunan dan serabutan, tapi sekarang tidak lagi karena sudah tidak berdaya sama sekali, karena lumpuh total. Untuk makan sehari-hari, saya hanya berharap pemberian dari tetangga," ujarnya, Senin, 14 Oktober 2019.
×
Berita Terbaru Update