< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Orang Cerdik Tidak Mudik

Rabu, 29 April 2020 | Rabu, April 29, 2020 WIB | Last Updated 2020-04-29T10:10:58Z

KH. AM Romly, Ketua MUI Banten.*
Masyarakat Betawi menyebut orang yang pergi ke kota dengan istilah milir, sedangkan yang pulang kampung disebut mudik. Mudik yang kita bicarakan di sini adalah istilah populer yang dikaitkan dengan hari raya, misalnya Lebaran, Natalan, Waisak, Nyepi dan Imlek. Tapi yang paling populer memang mudik Lebaran, karena pergerakan masa yang sangat besar dan melibatkan semua kalangan. Pemerintah pun memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati liburan panjang.
Liburan ini menjadi peluang untuk orang yang tinggal bersama isteri dan anak-anaknya di kota atau tempat yang jauh dari kampung halamannya untuk mudik setahun sekali. Kesempatan mudik ini, ia manfaatkan untuk silaturahmi dan berbagi kegembiraan dengan orang tua dan sanak saudara. Perjumpaan setahun sekali ini akan menyenangkan, bila yang mudik dan yang dikunjungi dalam keadaan sehat, apalagi jika pemudik membawa oleh-oleh yang banyak sebagai tanda keberhasilan di perantauan.
Perlu membaca situasi
Lebaran tahun ini sangat berbeda dibanding tahun sebelumnya. Tahun-tahun yang lalu kita merasakan kegembiraan, karena keadaan Negara kita aman sentosa. Tapi saat ini segenap bangsa sedang berduka, karena Negara sedang genting akibat Covid-19 alias Corona yang mewabah di mana-mana.
Mudik tahun ini bisa jadi membawa bencana. Karena mungkin saja dengan tidak kita sadari oleh-oleh yang dibawa adalah juga virus Corona. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyampaikan informasi yang mengundang prihatin. Seorang Kepala Desa di wilayahnya yang sehat dan segar bugar menjadi sakit terpapar virus Corona setelah ditemui oleh seorang pemudik dari kota.
Semua lapisan masyarakat telah sadar, bahwa ada wabah yang merajalela. Ia menyebar ke mana-mana. Ia dapat memapar siapa saja, termasuk orang yang mengaggap Corona sebagai wabah biasa. Ia menyebar dengan kecepatan tak terduga. Orang yang tinggal di kampung pun sudah waspada. Mereka berusaha keras, bahkan melakukan tindakan yang tidak biasa, agar wabah ini tidak menjangkiti mereka.
Media masa televisi baru-baru ini memberitakan penolakan masyarakat di suatu daerah terhadap pemudik. Orang yang mudik bersama isteri dan anak-anaknya diisolasi masyarakat dalam sebuah dangau di tengah sawah, (orang Sunda menyebutnya Saung Sawah).
Jadi kalau kita mudik Lebaran tahun ini bisa jadi bukan kebahagiaan yang kita dapatkan, melainkan kesengsaraan. Kita tidak tahu bahwa kita membawa virus Corona. Akibatnya bukan memberi kegembiraan kepada orang tua dan sanak saudara, malah menimbulkan bencana untuk semua. Orang tua dan sanak saudara akan sedih dan kitapun akan merasa pedih. Ini akibat kita tidak sabar dan memaksakan diri, menurutkan hawa nafsu belaka, tanpa mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan keluarga.
Keputusan yang cerdik
Tekad untuk tidak mudik Lebaran tahun ini merupakan keputusan yang cerdik. Selain sedang merebaknya wabah penyakit, kesempatan pun hanya sedikit. Karena Pemerintah telah mengalihkan libur bersama pada bulan Desember akhir tahun nanti. Tidak mudik Lebara tahun ini, selain keputusan yang cerdik, juga sesuai dengan tuntunan agama yang kita anut.
Agama Islam mengajarkan kita untuk menjaga diri dan keluarga agar tidak terjerumus dalam duka nestapa (QS At-Tahrim). Menurutkan hawa nafsu akan menimbulkan sengsara (QS Yusuf: 53). Orang yang berada pada zona merah tidak boleh bepergian ke mana-mana (HR Bukhary). Agama Kristen juga nenegaskan bahwa di tengah pandemik wabah, orang cerdik akan mengisolasi diri, sedangkan orang ceroboh akan pergi ke tempat yang ia suka, akhirnya ia celaka (Amsal, 22:3).
Jangan melakukan suatu perbuatan kepada orang lain yang jika menimpa kita, kita pun tidak suka (Matius 7:12). Ajaran ini sejalan dengan petuah Konghucu yang mengatakan bahwa apa yang diri sendiri tidak inginkan, jangan diberikan kepada orang lain pula (Sabda Suci 15: 24). Agama Buddha mengajarkan agar umatnya tidak boleh berbuat aniaya, tetapi harus selalu menjunjung tingi kebaikan dengan hati mulia (Dhammapada: 183). Agama Hindu mengajarkan tat twam asi – aku adalah engkau dan engkau adalah aku, menyatu dalam kalbu, bersama dalam raga. Demikian dikatakan dalam Upanishad.
Jadi, umat Islam dan penganut agama selain Islam yang biasanya ikut mudik karena libur bersama, Lebaran tahun ini tidak usah mudik. Mari kita saling mendoakan dari kejauhan kiranya Allah memberi kita kesehatan, perlindungan dan ketabahan serta kesabaran. Mari kita galang persatuan agar Corona segera minggat dan silaturahmi kita tetap kuat. (Penulis, Ketua Umum MUI Provinsi Banten/Ketua FKUB Provinsi Banten)*
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update