WASHINGTON – Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa
pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan berkontraksi lebih
dalam dari perkiraan sebelumnya karena dampak wabah pandemi Covid-19
yang berkepanjangan. Lembaga tersebut merevisi proyeksi pertumbuhan
ekonomi global dari sebelumnya negatif tiga persen pada April lalu
menjadi negatif 4,9 persen pada Juni atau terburuk dalam 90 tahun
terakhir sejak Great Depression pada 1930-an.
Hal itu disampaikan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva,
menjelang Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia yang akan berlangsung
minggu depan di Washington, Amerika Serikat (AS).
“Baru tiga bulan lalu, kami mengharapkan pertumbuhan pendapatan per
kapita di lebih dari 160 negara anggota kami pada 2020 positif. Hari
ini, angka itu telah berubah, kita sekarang memproyeksikan bahwa lebih
dari 170 negara akan mengalami pertumbuhan pendapatan per kapita
negatif tahun ini. Faktanya, kami mengantisipasi kejatuhan ekonomi
terburuk sejak Depresi Hebat,” kata Georgieva.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengutip sebuah studi dari
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) awal pekan ini yang menyatakan
sebanyak 81 persen dari 3,3 miliar orang tenaga kerja di dunia
kehilangan pekerjaan karena tempat kerjanya tutup akibat wabah. Pasar
negara berkembang paling terpukul krisis dan membutuhkan bantuan asing
hingga ratusan miliar dollar untuk pemulihan.
Georgieva mengatakan jika pandemi mereda pada paruh kedua tahun 2020,
IMF memperkirakan akan ada pemulihan secara parsial tahun depan, namun
situasinya pun dapat memburuk.
“Saya menekankan ada ketidakpastian yang luar biasa tentang prospek.
Ini bisa menjadi lebih buruk tergantung pada banyak faktor variabel,
termasuk durasi pandemi,” katanya.
Pernyataan Georgieva itu muncul saat AS melaporkan bahwa jumlah
warganya yang mengajukan tunjangan pengangguran telah melonjak dalam
minggu ketiga sebesar 6,6 juta orang, sehingga jumlah keseluruhan
mencapai lebih dari 16 juta orang.
Sementara itu, bank sentral AS, Federal Reserve, mengatakan akan
mengeluarkan pinjaman tambahan sebesar 2,3 triliun dollar AS untuk
membantu banyak perusahaan yang tutup akibat pembatasan, dan sekitar 95
persen orang AS berada dalam penguncian.
Jatuh Miskin
Secara terpisah, organisasi amal di Inggris, Oxfam, memperingatkan
bahwa kejatuhan ekonomi akibat Covid-19 menyebabkan lebih dari setengah
miliar orang lebih jatuh miskin.
Pada Kamis, setelah perundingan maraton, pemimpin Uni Eropa (UE)
menyetujui paket dukungan ekonomi senilai 500 miliar euro atau sekitar
440 miliar dollar AS untuk negara anggota UE yang paling terdampak oleh
tindakan penguncian.
Komisi Eropa sebelumnya mengatakan pihaknya akan mengoordinasikan
peta jalan yang mengarah pada tindakan pelonggaran pembatasan. Sementara
itu, Organisasi Buruh Internasional (ILO), awal pekan ini,
memperingatkan bahwa pandemi menjadi “krisis paling parah” sejak Perang
Dunia Kedua. Wabah itu diperkirakan akan menghapus 6,7 persen jam kerja
di seluruh dunia selama kuartal kedua 2020 atau setara dengan 195
juta pekerja penuh waktu yang kehilangan pekerjaan mereka.
Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperingatkan
bahwa ekonomi global akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.
Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurría, mengatakan ekonomi menderita
goncangan yang lebih besar daripada krisis yang terjadi pascaserangan
teror 11 September 2001, atau krisis keuangan 2008.
Pemulihan Sulit
Dengan proyeksi ekonomi dunia yang tertekan begitu dalam, akan
mempersulit pemulihan ekonomi Indonesia karena sangat berpengaruh
terhadap kinerja ekspor dan investasi. Ekonom Institute for Development
of Economic and Finance (Indef), Bhima Yhudistira, kepada Koran Jakarta, Kamis (25/6), mengatakan pekerja yang dirumahkan makin meningkat maka daya beli masyarakat menurun tajam.
“Situasi krisis bisa berlangsung hingga 2021,” kata Bhima.
Revisi IMF papar Bhima harus segera direspons pemerintah dengan
mempercepat realisasi stimulus fiskal. “Sejauh ini masih rendah, baik
stimulus dunia usaha maupun khusus UMKM,” paparnya.

.gif)