-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ekonomi Global Bakal Terkontraksi 4,9 Persen

Friday, 26 June 2020 | Friday, June 26, 2020 WIB | Last Updated 2020-06-26T10:41:34Z

WASHINGTON – Dana Moneter In­ternasional (IMF) memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan berkontraksi le­bih dalam dari perkiraan sebelumnya karena dampak wabah pandemi Co­vid-19 yang berkepanjangan. Lembaga tersebut merevisi proyeksi pertumbuh­an ekonomi global dari sebelumnya ne­gatif tiga persen pada April lalu menjadi negatif 4,9 persen pada Juni atau terbu­ruk dalam 90 tahun terakhir sejak Great Depression pada 1930-an.
Hal itu disampaikan Direktur Pelak­sana IMF, Kristalina Georgieva, menjelang Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia yang akan berlangsung minggu de­pan di Washington, Amerika Serikat (AS).
“Baru tiga bulan lalu, kami mengha­rapkan pertumbuhan pendapatan per kapita di lebih dari 160 negara anggota kami pada 2020 positif. Hari ini, angka itu telah berubah, kita sekarang mem­proyeksikan bahwa lebih dari 170 ne­gara akan mengalami pertumbuhan pendapatan per kapita negatif tahun ini. Faktanya, kami mengantisipasi kejatuh­an ekonomi terburuk sejak Depresi He­bat,” kata Georgieva.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengutip sebuah studi dari Perserikat­an Bangsa-Bangsa (PBB) awal pekan ini yang menyatakan sebanyak 81 persen dari 3,3 miliar orang tenaga kerja di du­nia kehilangan pekerjaan karena tempat kerjanya tutup akibat wabah. Pasar nega­ra berkembang paling terpukul krisis dan membutuhkan bantuan asing hingga ra­tusan miliar dollar untuk pemulihan.
Georgieva mengatakan jika pandemi mereda pada paruh kedua tahun 2020, IMF memperkirakan akan ada pemulih­an secara parsial tahun depan, namun situasinya pun dapat memburuk.
“Saya menekankan ada ketidakpasti­an yang luar biasa tentang prospek. Ini bisa menjadi lebih buruk tergantung pada banyak faktor variabel, termasuk durasi pandemi,” katanya.
Pernyataan Georgieva itu mun­cul saat AS melaporkan bahwa jumlah warganya yang mengajukan tunjangan pengangguran telah melonjak dalam minggu ketiga sebesar 6,6 juta orang, se­hingga jumlah keseluruhan mencapai lebih dari 16 juta orang.
Sementara itu, bank sentral AS, Fede­ral Reserve, mengatakan akan menge­luarkan pinjaman tambahan sebesar 2,3 triliun dollar AS untuk membantu banyak perusahaan yang tutup aki­bat pembatasan, dan sekitar 95 persen orang AS berada dalam penguncian.
Jatuh Miskin
Secara terpisah, organisasi amal di Inggris, Oxfam, memperingatkan bahwa kejatuhan ekonomi akibat Covid-19 me­nyebabkan lebih dari setengah miliar orang lebih jatuh miskin.
Pada Kamis, setelah perundingan ma­raton, pemimpin Uni Eropa (UE) menye­tujui paket dukungan ekonomi senilai 500 miliar euro atau sekitar 440 miliar dollar AS untuk negara anggota UE yang paling terdampak oleh tindakan penguncian.
Komisi Eropa sebelumnya mengata­kan pihaknya akan mengoordinasikan peta jalan yang mengarah pada tindakan pelonggaran pembatasan. Sementara itu, Organisasi Buruh Internasional (ILO), awal pekan ini, memperingatkan bahwa pandemi menjadi “krisis paling parah” sejak Perang Dunia Kedua. Wa­bah itu diperkirakan akan menghapus 6,7 persen jam kerja di seluruh dunia se­lama kuartal kedua 2020 atau setara de­ngan 195 juta pekerja penuh waktu yang kehilangan pekerjaan mereka.
Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperingatkan bahwa ekonomi global akan membutuh­kan waktu bertahun-tahun untuk pulih. Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurría, mengatakan ekonomi menderita gon­cangan yang lebih besar daripada krisis yang terjadi pascaserangan teror 11 Sep­tember 2001, atau krisis keuangan 2008.
Pemulihan Sulit
Dengan proyeksi ekonomi dunia yang tertekan begitu dalam, akan mempersulit pemulihan ekonomi Indonesia karena sa­ngat berpengaruh terhadap kinerja ekspor dan investasi. Ekonom Institute for Deve­lopment of Economic and Finance (In­def), Bhima Yhudistira, kepada Koran Ja­karta, Kamis (25/6), mengatakan pekerja yang dirumahkan makin meningkat maka daya beli masyarakat menurun tajam.
“Situasi krisis bisa berlangsung hingga 2021,” kata Bhima.
Revisi IMF papar Bhima harus segera direspons pemerintah dengan memper­cepat realisasi stimulus fiskal. “Sejauh ini masih rendah, baik stimulus dunia usaha maupun khusus UMKM,” paparnya.
×
Berita Terbaru Update