< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Catatan Mahasiswa "Suara Rakyat (Bukan) Suara Tuhan Apalagi Suara Partai

Sabtu, 02 September 2023 | Sabtu, September 02, 2023 WIB | Last Updated 2023-09-02T12:00:36Z

 


 Istilah ini begitu populer. Bahkan masyarakat luas pun banyak yang tahu dan mengerti istilah itu dalam bahasa aslinya.

Ya, istilah dalam bahasa Latin vox populi vox dei sudah begitu mendunia. Dalam bahasa Indonesia, 
 
kalimat sakti ini memiliki makna ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’. melihat fonomena Capres Koalisi Perubahan NasDem, PKS dan Demokrat yang masing masing Koalisi memiliki Jargon perubahan dan sudah mengusung bakal Calon Presiden Anies Rashid Bawesdan  Perubahan yang lebih baik dan sudah beberapa kali mengucapkan siapa pun  calon wakil presiden  pilihan koalisi   akan di usung dan di dukung oleh Partai Koalisi tapi pada saat NasDem mengumumkan   Bakal  Calon Wakil Presiden  Muhaimin Iskandar Lantas Partai Demokrat Keluar dari Koalisi 

Semangat Perubahan Rakyat Indonesia yang di wakali Oleh Simpul Relawan yang tidak kurang 15.000 jaringan relawan Anis Bawesdan yang sudah Berjuang tanpa di biayai oleh pertai Politik seharus menjadi landasan siapa pun wakil nya seharus Partai yang notabene mewakili masyarakat Indonesia seharus mendengar suara rakyat bukan ego ke partai an yang di kedepankan nasi sudah jadi bubur selaku Relawan yang notabene yang tetap mendukung Anies Bawesdan "Jangan Suara Rakyat (Bukan) Suara Partai
 
Suara rakyatlah yang akan menentukan hitam dan putihnya panggung politik atau yang menentukan hasil dari kontes politik/pemilu.2024
 
Awal mulanya, istilah itu lebih dikenal dalam dunia peradilan. Para pengadil dianggap sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Oleh karena itu keputusan para hakim harus mencerminkan keadilan, suatu tindakan yang hanya bisa dimiliki oleh Tuhan.  
Agar keputusan hakim mendekati keadilan yang sesungguhnya, maka para pengadil itu harus memahami benar suara rakyat. Paling tidak, keputusan hakim ini harus mendekati kehendak atau suara Rakyat banyak. Dalam konteks inilah suara rakyat dianggap sebagai penyampai kehendak Illahi. Pengadil yang membawa aspirasi masyarakat luas dianggap mengusung suara Tuhan.
Dalam perkembangannya, istilah suara ‘rakyat adalah suara Tuhan’ lebih menempel ke panggung politik. Kehendak rakyat mayoritas akan sangat menentukan dalam suatu proses politik atau pemilihan umum. Begitu kuatnya kehendak rakyat itu, maka tak ada kekuatan lain yang secara moral bisa membendungnya.  
Untuk alasan itu pulalah maka proses politik yang melibatkan seluruh masyarakat secara langsung dianggap sebagai sesuatu yang ideal. Jika proses atau keputusan politik itu disampaikan lewat perwakilan yang sering kali bersifat transaksional alias dagang sapi, maka itu dianggap tak sesuai dengan kehendak rakyat atau suara Tuhan. 
Semula saya sepenuhnya sepakat dengan kalimat sakti yang menjadi landasan setiap penyelenggaraan pemilu. Namun kali ini, saya tak lagi percaya kalimat sakti tersebut. Betapa tidak, bau busuk dalam pelaksanaan pemilu legislatif tanggal 9 April lalu begitu terasa menyengat.
Saya haqul yakin dalam pemilu sebelumnya pasti juga terjadi praktik politik uang, yakni caleg maupun tim suksesnya membagi-bagikan uang pada konstituen menjelang pencoblosan. Hanya saja, temuan banyak pihak soal politik uang tak semasif dalam pemilu kali ini.  
Tak hanya antara caleg dengan konstituen, praktik politik uang yang sangat marak juga terjadi antara caleg beserta tim suksesnya dengan para pelaksana pemilu, mulai dari Panitia Pemungutan Suara (PPS), Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), hingga penyelenggara pemilu di tingkatan yang lebih tinggi. Bahkan kongkalikong untuk memberikan suara pada caleg tertentu sudah diskenariokan sejak sebelum pelaksanaan pemilu.  
Dua orang teman saya yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) di Jakarta dan Jawa Barat mengutarakan hal itu. Menurut cerita teman saya sebulan menjelang pemilu 9 April, beberapa anggota PPS di wilayahnya sering tak datang saat diundang untuk rapat sosialisasi oleh KPUD. Anehnya, mereka justru hampir selalu hadir ketika caleg tertentu melakukan sosialisasi atau temu kader. 
Teman saya yang anggota KPUD itu sempat menanyakan, mengapa hal itu bisa terjadi? Jawaban mengejutkan justru datang dari petugas PPS tadi. Para penyelenggara pemilu itu mengutarakan, dengan honor hanya Rp 200 ribu atau Rp 300 ribu per bulan, apa yang bisa mereka lakukan?  Dengan sadar, sang penyelenggara pemilu itu mengatakan ingin mencari nafkah tambahan. Dalam praktiknya, tambahan nafkah itu dilakukan dengan ‘bermain mata’ bersama sang caleg. Tak heran utak-atik formulir kertas suara C1 pun banyak dilakukan meski hasil resminya sudah ditandatangani oleh para saksi.  Tanpa ragu, sang penyelenggara pemilu bahkan menawarkan sejumlah suara pada si caleg dengan imbalan uang. Per suara ada yang ditawarkan dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 200.000, tergantung untuk kursi DPRD atau DPR. Untuk kursi DPR, harga per suara yang ditawarkan memiliki nilai lebih tinggi.
Belum lagi kalau kita lihat lolosnya seorang calon anggota Dewan Perakilan Daerah meski dia dianggap memiliki rekam jejak tak baik, yaitu cacat moral. Sang calon anggota DPD itu seorang mantan bupati, yang pernah dihujat khalayak luas dan akhirnya dicopot dari jabatannya karena kasus menikah siri yang dijalani hanya dalam hitungan hari.
Bukan hanya itu, cara dia menceraikan sang istri juga dianggap tak berperikemanusiaan, yakni hanya lewat pesan singkat (sms) dengan dalih sang istri dinilai sudah tak perawan. Aneh bian ajaib, sang caleg ini melenggang lolos sebagai anggota DPD. Perolehan suaranya pun menakjubkan, lebih dari satu juta orang yang mencoblosnya.   
Dengan kenyataan seperti ini, masihkah kita menganggap suara rakyat adalah suara Tuhan? Bagi saya tidak, sama sekali tidak. Suara Tuhan tidak bisa diperjualbelikan. Suara Tuhan tidak akan pernah memilih caleg brengsek.   
Bila fakta seperti itu yang terjadi, maka itu adalah suara setan. Suara setanlah yang sangat mudah dipengaruhi untuk hal-hal buruk atau dikomersialkan tetapi tidak pada tempatnya. Suara setan pula yang  memihak atau memilih caleg busuk. Wallahu a’lam. 

 Oleh Rahma Nindya Ananda Akademisi UI aktif Sebagai Ketua Jaringan Mahasiswa Indonesia

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update