
Koordinator Siaga 98, Hasanuddin
JAKARTA KONTAK BANTEN Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah yang melibatkan
Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran terhadap
keselamatan kepala negara yang berencana melakukan kunjungan langsung ke
wilayah tersebut.Koordinator Simpul Aktivis Angkatan 98 (Siaga 98), Hasanuddin, menilai
Presiden Prabowo Subianto sebaiknya menunda lawatan ke Timur Tengah demi
menjaga keselamatan nasional. Menurutnya, dalam konflik berskala
internasional yang tengah memanas, kepala negara berpotensi menjadi
target strategis.
Hasanuddin menyebut situasi saat ini sangat
berbahaya karena sasaran konflik tidak hanya terbatas pada instalasi
militer, tetapi juga dapat menyasar pemimpin negara. Kondisi tersebut,
kata dia, berpotensi mengancam keselamatan presiden sebagai kepala
negara dan pimpinan tertinggi bangsa.
Meski demikian, Siaga 98 tetap menyatakan dukungan terhadap langkah diplomasi pemerintah Indonesia dalam mendorong perdamaian global. Hasanuddin menilai niat Presiden Prabowo untuk berperan sebagai mediator patut diapresiasi, namun perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan secara matang.
Meski demikian, Siaga 98 tetap menyatakan dukungan terhadap langkah diplomasi pemerintah Indonesia dalam mendorong perdamaian global. Hasanuddin menilai niat Presiden Prabowo untuk berperan sebagai mediator patut diapresiasi, namun perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan secara matang.
Ia mendorong pemerintah memanfaatkan jalur diplomasi alternatif, seperti pertemuan virtual, pengiriman utusan diplomatik, atau forum internasional, agar Indonesia tetap dapat berperan aktif tanpa mempertaruhkan keselamatan kepala negara.
Menurutnya, langkah tersebut tetap sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, sekaligus mengedepankan aspek perlindungan terhadap presiden sebagai pemimpin tertinggi negara.
Selain isu keselamatan presiden, Siaga 98 juga menyoroti potensi aktivitas intelijen asing di dalam negeri yang berkaitan dengan konflik Timur Tengah. Mereka meminta Badan Intelijen Negara (BIN) dan jajaran intelijen pertahanan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan pergerakan intelijen asing yang berkaitan dengan dinamika konflik tersebut.
.gif)