TANGERANG, KONTAK BANTEN — Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mendorong pengembangan hilirisasi komoditas unggulan desa, khususnya pala, agar mampu bersaing di pasar internasional. Pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa.
Hal tersebut disampaikan Yandri saat menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Rabu (14/10/2026).
Pameran dagang berorientasi business-to-business (B2B) yang dikoordinasikan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi produk unggulan desa untuk memperluas jangkauan pemasaran hingga ke pasar global.
Menurut Yandri, pengembangan produk desa perlu diarahkan pada hilirisasi agar tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah. Dengan pengolahan yang tepat, komoditas lokal berpotensi menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah pala. Sebagai salah satu produsen utama pala dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai ekspor melalui pengembangan produk olahan.
Selama ini, ekspor pala Indonesia masih didominasi produk mentah atau setengah jadi yang memiliki nilai ekonomi relatif terbatas dibandingkan produk olahan.
Padahal, hampir seluruh bagian buah pala berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri. Daging buahnya dapat diolah menjadi manisan, selai, dan asinan. Sementara itu, biji pala dapat dimanfaatkan sebagai rempah berkualitas serta bahan baku minyak esensial untuk industri makanan dan kebutuhan lainnya.
“Jadi ini yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah atau ekonomi. Dan luar biasa, saya kira ini layak untuk kita apresiasi setinggi-tingginya. Selamat untuk hilirisasi palanya,” tutur Yandri.
Produk Olahan Desa Tampilkan Inovasi di Trade Expo Indonesia
Dalam kunjungannya ke stan pameran binaan program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD), Yandri turut mencicipi sejumlah produk olahan unggulan yang dikembangkan masyarakat desa.
Salah satu produk yang menarik perhatiannya berasal dari Fakfak, Papua Barat. Produk tersebut memadukan sagu dengan buah merah Papua serta menghadirkan manisan pala sebagai bentuk inovasi pengolahan komoditas lokal.
Yandri mengapresiasi kreativitas masyarakat dalam mengembangkan produk berbasis potensi daerah. Menurutnya, inovasi semacam ini menunjukkan bahwa komoditas lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki daya tarik lebih luas.
“Luar biasa inovasinya, melakukan hilirisasi. Jadi tadi ada sagu dicampur dengan buah merah Papua, ya. Enak sekali, bagus. Ada manisan pala juga,” puji Yandri.
Pengembangan produk olahan berbasis potensi lokal diharapkan dapat memperkuat ekonomi desa melalui peningkatan nilai tambah, perluasan pasar, dan pengembangan usaha produktif masyarakat.
Melalui momentum Trade Expo Indonesia, produk unggulan desa diharapkan semakin dikenal oleh pembeli dan mitra bisnis dari berbagai negara sehingga mampu menembus pasar ekspor.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi Bahlil Lahadalia, Menteri Perdagangan Budi Santoso, serta Kepala Bappisus Aris Marsudiyanto.
Dalam agenda tersebut, Yandri didampingi Direktur Jenderal Pembangunan Ekonomi dan Investasi Desa Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Tabrani.
Hilirisasi komoditas unggulan desa diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat daya saing produk lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong produk Indonesia semakin kompetitif di pasar internasional.(tim)

.gif)