![]() |
| Eko Palmadi dan Agus Erwana |
SERANG –Kepala Dinas Pertambangan Sumber Daya Energi Eko Palmadi
menegaskan proyek energi panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik
terbarukan sangat ramah lingkungan dibandingkan menggunakan pembangkit
tenaga listrik batu bara yag menimbulkan emisi dan pencemaran.
“Kami undang direktur panas bumi pusat untuk membangun bersama
persepsi. Menjelaskan ke kita bagaimana panas bumi itu seperti apa? Pada
kenyataannya panas bumi tidak ada masalah. Sekarang teman-teman lihat
di Jawa Barat, Lampung, Sumatra Barat ada. Terus di NTT tidak pernah ada
masalah,” katanya, Selasa (20/2).
Geothermal yang direncanakan akan dibangun di Kecamatan Padarincang
oleh Pt Sintesa Banten Geothermal sangat raham lingkungan. “Yang perlu
ditingkatkan adalah pemahaman masyarakat. Mereka tidak mengerti. Jadi
program kita bagaimana memberi pemahaman kepada masyarakat,” ucapnya.
Tahapan pembangunan energi terbarukan di Kecamatan Padarincang,
Kabupaten Serang ini, kata dia, baru tahapan persiapan, penelitian dan
eksplorasi. Yang belum sampai ke produksi. “Belum tentu jalan disitu.
Bisa aja ngebor ternyata tidak menghasilkan listrik,” paparnya.
Menurutnya, sudah ada sosialisasi terkait pembangunan geothermal ini.
Sejak awal, masyarakat sudah diberikan penjelasan. Sambungnya, kalau
memang ada penolakan seharusnya masyarakat menolak sedari awal. Untuk
memberi penjelasan kepada masyarakat, terangnya, Direktur dari
perusahaan PT Sintesa Banten Geothermal akan menerima masyarakat
melakukan audiensi. “Kami sampaikan kepada direktur, masyarakat minta
penjelasan dengan catatan audiensi bukan demo,” tuturnya.
Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin mengatakan ada kekhawatiran
masyarakat akan dampak yang terjadi dari sebuah proyek besar panas bumi.
“Yang menurut masyarakat sudah dirasakan seperti pencemaran air keruh
dan kekhawatiran longsor,” kata dia, Selasa (20/2).
“Namun sesungguhnya kalau yang kami tangkap bahwa kegiatan ini baru
eksplorasi. Ada kurang lebih 100.000 lebih hketare yang menjadi area
pantauan mencari titik mana yang bisa dilakukan dari panas bumi. Itu
teknis,” terangnya.
Kekhawatiran ini, menurutnya sangat wajar yang sesungguhnya
memerlukan tahapan sosialisasi agar warga paham apa kegiatan proyek
panas bumi tersebut. Ia menilai, penolakan proyek tersebut sebagai
aspirasi masyarakat. “Mungkin hanya komunikasi yang kurang. Tentunya
kami akan cek langsung ke lapangan, cari yang tercemar seperti apa dan
ada longsorannya dimana. Baru tahapan berikutnya melakukan audiensi lagi
antara masyarakat dengan perusahaan,” tandasnya.
Sayang, pihak PT Sintesa Banten Geothermal enggan dikonfirmasi oleh
media, Selasa (20/2) usai ekspose terkait energi panas bumi, di Pendopo
Serang, Kota Serang.







0 comments:
Post a Comment