Langit siang menampakan wajahnya yang biru cerah. awan putih nan
indah bergerak gerak seiring derai angin di atas sana berhembus kencang.
kutatap sekelilingku, manusia manusia yang sibuk berlalu lalang dengan
semua urusanya. beginilah potret perkotaan. ramai dan bising. tapi
dibalik semua itu ada yang menarik perhatianku. aku menoleh ke atas dari
bawah jalan, terlihat seorang Kakek tua yang berdiri di dalam jembatan
penyeberangan. firasatku berkata ia bukan orang biasa. Entah hanya
firasatku saja atau apa, tapi yang jelas aku ingin menghampirinya.
Hatiku tergerak untuk melangkahkan kaki ke jembatan penyeberangan
untuk melihat si Kakek lebih dekat. aku menaiki tangga demi anak tangga
dan aku kini menatap sang Kakek dari jarak yang cukup dekat. terlihat
sang Kakek lusuh yang berbadan kurus dengan tatapan yang penuh kepayahan
dan penderitaan. terlihat juga ia memegang gelas plastik yang berisi
sepertinya sebutir uang logam, entah berapa nominalnya aku tak tau
karena jarak pandang mataku terlalu sempit untuk melihat berapakah nilai
logam kecil itu.
Banyak manusia berlalu lalang di depan sang Kakek nampak tak peduli.
dari orang tua, remaja, pria, wanita, semua lewat tanpa menoleh atau
memperhatikan sang Kakek. aku membuka ranselku, mengeluarkan sesuatu
dari dalamnya. lumayan, sekotak bekal makan siang yang belum kumakan.
aku berjalan dan kini aku benar benar menghampiri si Kakek.
“Kek? ini saya punya makanan untuk Kakek,” Ucapku lalu aku memberikan
kotak makananku kepada sang Kakek. Kakek tersebut nampak bingung, lalu
dengan tangan gemetar sang Kakek meraih kotak makanku. “Terimakasih
nak,” Ucapnya dengan suara parau tapi aku masih bisa mendengarnya. Kakek
tersebut kemudian duduk dengan beralaskan kardus bekas lalu membuka
kotak makanku. tanpa ragu ia langsung memakan makanan yang kuberikan
itu. aku jongkok di hadapan sang Kakek yang tengah lahapnya. kuambil
uang pecahan Rp. 20.000 lalu kumasukan kedalam gelas plastik yang
ternyata berisikan Rp. 500. gelas itu diletakan di samping sang Kakek.
Tak lama makanan tersebut sudah habis, kuambil sebotol air mineral di
ranselku dan kembali aku berikan kepada sang Kakek. ia nampak tersenyum
dibalik rambut putih yang hinggap di sekeliling bibir keriputnya.
“Terimakasih anak baik,” Lanjutnya. aku menatap langit dari celah
jembatan penyeberangan lalu kembali berucap pada sang Kakek, “Kek, saya
sungguh peduli dengan Kakek. alasanya, firasat saya mengatakan Kakek
bukanlah orang biasa” Kakek tersebut menghela nafasnya. “Benarkah
firasatmu begitu nak? dari mana datangnya firasat itu?” Balas sang
Kakek. “Saya berada di bawah jalan sana dan saya memperhatikan Kakek
tadi begitu terpana melihat bendera itu,” Tunjuku ke bendera Merah Putih
yang berada di bawah pemukiman.
Sang Kakek berdiri lalu kembali melihat bendera yang tadi ia
perhatikan, aku juga berdiri tepat di samping sang Kakek. “Itu adalah
bendera negara kita nak, negara yang susah payah kami merdekakan dan
sekarang ia bisa berkibar tanpa ada yang mengganggu, bagaimana Kakek
tidak takjub melihatnya,” Ucap Kakek kembali. kini aku yang takjub
mendengar jawaban sang Kakek. “Apakah tebakan saya benar Kek? Kakek
adalah salah satu dari orang orang terdahulu kami yang membuat bendera
itu berkibar tanpa gangguan?” Tanyaku. sang Kakek tersenyum, kedua
matanya masih fokus menatap bendera yang tertiup angin sehingga berkibar
dengan gagah disiang hari ini. “Kakek tak pernah berfikir begitu. dulu
saat Kakek seusiamu memang sudah jadi kewajiban Kakek membuat itu
terjadi, sehingga anak cucu kami semua bisa menikmati negeri ini,”
Ucapan sang Kakek begitu mengena sehingga aku merasa seperti ditampar
sebagai generasi muda di era sekarang. “Jadi benar Kek, Kakek adalah
mantan pejuang kemerdekaan?” Kakek tersebut mengangguk, “Mungkin saat
ini bisa dibilang begitu nak” Aku semakin terpukul. “Kek? mengapa
sekarang Kakek hidup seperti ini? tak layak kan bila seseorang yang
pernah merebut bangsa diacuhkan juga oleh bangsa, itu tidak adil!”
Senyum sang Kakek semakin lebar, nampaknya banyak yang ingin ia
sampaikan padaku. “Tak apalah nak, Kakek sudah tua untuk bersenang
senang sekarang, bisa makan setiap harinya sudah cukup untuk Kakek yang
penting orang tak ada yang terganggu”
Aku menatap sang Kakek, betapa hebat ia dengan jawaban itu, aku ingin
mengobrol lebih banyak dengan pria hebat ini. “Kek, bisa ceritakan pada
saya ketika negeri ini masih dijajah?”. Bola mata sang Kakek mengarah
ke atas seakan ia sedang mencoba mengingat ingat. “Dulu begitu kejamnya
Belanda dan Jepang menguras negeri ini, bukan hanya sumber daya alamnya
saja yang tersakiti, tapi kita orang indonesia hampir semuanya tak bisa
berbuat apa apa,” Tutur sang Kakek kemudian ia menaikan celana lusuhnya
yang berbalut debu jalanan, ia nampak menunjukan sesuatu. “Ini adalah
bekas tembakan di kaki Kakek, luka ini Kakek dapat setelah menyergap
markas musuh, kita kalah saat itu dan Kakek yang tertembak akhirnya
ditangkap lalu dijebloskan sebagai tahanan. di dalam penjara sungguh
menderitanya kadaan Kakek, Kakek dipukul dengan ujung senapan,
diintimidiasi dan yang paling Kakek ingat, komandan Belanda menyuruh
Kakek meminum air seninya. walaupun begitu, leher dan kepala Kakek tetap
tegak, tidak pernah tertunduk, rasa takut Kakek dikalahkan oleh
kekuatan untuk memerdekakan negara ini, sebab dengan perasaan itulah
merdeka bukan hanya sebuah mimpi” Air mataku menetes, Kakek tersebut
melihatnya namun cepat cepat kubasuh dengan jemariku. “Kek, taukah Kakek
betapa hebatnya orang seperti itu? orang yang memiliki rasa
nasionalisme yang tinggi” Kakek tersebut tersenyum padaku, “Tadi mengapa
kamu menangis nak?” Aku membalas senyum sang Kakek, “Saya sungguh
terhanyut mendengarnya, saya tak habis fikir orang seperti Kakek harus
hidup seperti ini,” “Kakek senang kamu peduli, tapi Kakek sudah sangat
tua, Kakek tak apa dimasa senja seperti ini, Kakek senang hidup di jalan
karena di jalanlah tempat banyak orang orang, melihat senyuman orang
orang di jalan merupakan kebanggaan tersendiri untuk Kakek, karena dulu
tersenyum hanya bisa dilakukan oleh penjajah dan nyatanya sekarang
negeri ini bisa tersenyum” Pernyataan sang Kakek dari pengalamanya yang
tak bisa berbohong. “Kek, tapi saya mohon pada Kakek, bolehkah saya
meminta Kakek untuk meminta sesuatu kepada saya, anggaplah ini adalah
hadiah dari cucu Kakek yang sudah merdeka” sang Kakek masih menatap
bendera, beberapa saat kemudian barulah ia kembali bicara. “Baiklah nak,
sampaikan ini kepada orang orang seusiamu yang kamu kenal, jangan lupa
pada sejarah negara ini, jangan biarkan budaya negatif barat masuk dan
diikuti, tumbuhkan rasa cinta pada negeri dan yang paling penting, kamu
harus mengakui bahwa kamu orang Indonesia, karena negeri ini pantas
mendapat pengakuan dari orang orang mulia seperti kita, orang yang
mencintai perbedaan, orang yang ramah tamah, tak suka tercerai berai,
memiliki tenggang rasa dan adil pada semuanya,” Permintaan sang Kakek
yang membuatku takjub berulang kali, ia tak mementingkan dirinya karena
permintaanya masih menyangkut negara ini. “Baiklah Kek, akan saya
sampaikan kepada kawan, kerabat, siapapun yang saya kenal, kalau saya
telah bertemu dengan pria hebat nan gagah yang sikapnya tak serapuh
raganya,”
Kakek tersebut terdiam ketika mendengar kumandang adzan dzuhur lalu
merapihkan kotak makanku, kardus dan gelas plastiknya. ia lalu berucap,
“Terimakasih atas makan dan uangnya nak, tapi yang terpenting
terimakasih atas rasa pedulimu terhadap bangsa, Kakek yakin orang orang
sepertimu akan lebih merasakan nikmatnya merdeka karena tau akan
sejarah, Kakek permisi, sudah masuk waktu sholat” Kakek tersebut
berjalan meninggalkanku yang masih takjub denganya, hal terakhir yang
kulihat sebelum sang Kakek menghilang adalah punggungnya yang rapuh,
bukan karena tua dan rentan melainkan karena ia memanggul kenangan
sejarah yang begitu banyak.
Bagaimana juga pertemuan dan dialog singkatku dengan sang Kakek
merubah cara pandang dan gaya hidupku. aku harus menjadi orang orang
pintar di tengah negara yang sudah merdeka ini. tapi faktanya lebih
banyak orang bodoh saat merdeka ketimbang saat masih dijajah, apakah
mungkin karena terlena kenikmatan? atau karena buta akan sejarah?
menyedihkanya kita.
Dimulai dari orang dewasa yang kuat, mereka saling sikut, saling
tindas, saling fitnah demi memperebutkan kursi emas yang nanti akan
didudukan oleh dirinya sendiri dan keluarganya saja, bukan yang lain.
lalu orang dewasa tapi rakyat biasa yang berdebat demi memenangkan orang
dewasa yang kuat tadi. tapi nyatanya sudah dimenangkan lalu tak ada
dampaknya bagi yang memenangkan, kemudian remajanya yang gencar meniru
budaya luar negatif, buta sejarah dan selalu melakukan hal hal bodoh,
bahkan yang lebih parahnya lagi tak sedikit yang tak hafal pancasila.
Entahlah, walau sang Kakek terabaikan oleh negeri ini, oh maaf,
maksudnya terabaikan oleh orang orang di negeri ini, yang pasti
permintaan sang Kakek tadi harus terwujud, kita tak boleh melupakan
sejarah, harus tetap bhineka tunggalika dan ramah tamah, tetap
indonesia, lupakan budaya barat yang merusak citra dan moral bangsa, aku
bersumpah akan bicara pada orang orang yang kukenal betapa hebatnya
orang terdahulu kita dan betapa payah dan hancurnya kita, generasi
penerus bangsa. mungkin Kakek tadi hanya satu di antara sekian banyak
pejuang yang terabaikan dimasa senjanya, bukan mustahil karena kau tau
kan betapa luasnya negeri ini. orang orang seperti itu sudah tua dan tak
bisa segagah dulu, tak bisa aku bayangkan jika kita generasi muda
memiliki sifat seperti pejuang pejuang itu, pasti kita akan melambungkan
nama Indonesia lebih tinggi lagi dimata dunia. mendengunkan ke setiap
telinga telinga bangsa lain, Bagaikan sang garuda yang terus terbang
diangkasa raya demi sebuah cita, citra dan cinta, Indonesia.
SELESAI.
Cerpen Karangan: Aditya Isman







0 comments:
Post a Comment