SERANG – Kepercayaan publik terhadap lembaga
penyelenggara pemilu kian terkikis. Salah satu faktor penyebabnya karena
merebaknya hoaks terkait kinerja penyelenggara pemilu dan pengawasan
terhadap pemilu.
Mantan Komisioner Bawaslu RI, Nasrullah menyatakan hampir semua
hembusan isu yang muncul ke publik seolah menjadi alat mengikis
kepercayaan (distrust) terhadap penyelenggaran pemilu baik Komisi
Pemilihan Umum (KPU) maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
“Ada sebagian pihak, hamipr semua isu, (menimbulkan anggapan) yang
dikerjakan KPU tidak ada benarnya. Mulai fakta tercecernya e-KTP, soal
DPT (daftar pemilih tetap), kotak suara (berbahan kardus) 7 kontainer
(surat suara tercoblos), belakangan (contekan) visi misi, dan
sebagainya. Seperti tiada henti-hentinya menjadi perdebatan yang amat
luar biasa. Ini bisa mengurangi kepercayaan publik terhadap
penyelenggara pemilu,” kata Nasrullah, usai dialog bersama media di Kota
Serang, Banten, Rabu (9/1/2019).
Jika penyelenggara pemilu tidak segera mengambil langkah konkret di
masyarakat, hal tersebut menurut Nasrullah dapat menjadi ancaman. Ia
menyatakan Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) menginginkan lapisan
masyarakat baik penyelenggara pemilu maupun KPU dan Bawaslu mengambil
langkah di daerah.
“Sesungguhnya aksi yang harus dilakukan di daerah-daerah itu, dalam
rangka memperkuat trust (kepercayaan) masyarakat. Jangan terjebak
berdiam diri menunggu KPU RI atau Bawaslu RI nya melakukan sesuatu,”
kata Ketua JaDI Pusat tersebut.
Koordinator JaDI Banten, Syaiful Bahri mengatakan sengaja menggelar
kegiatan dialog dengen media supaya memastikan sampai tidaknya isu yang
cenderung menyerang penyelenggara pemilu di pusat.
“Diskusi media ini untuk membangun kepercayaan publik, karena efek
bola salju terhadap gonjang-ganjing KPU pusat bisa berefek di daerah,”
kata dia.
Pihak JADI, lanjut Syaiful memberi peringatan kepada penyelenggara
pemilu di daerah sekaligus meminta langkah strategis untuk menghindari
ketidakpercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu di daerah.
“Harus ada langkah strategis dari KPU dan Bawaslu. Bukan hanya
konsolidasi. Jangan sampai mengabaikan mitigasi bencana politik, jangan
menunggu terjadi tsunami politik di daerah,” kata dia.
Ketua KPU Banten, Wahyul Furqon mengakui bahwa isu hoaks telah
menjadi salah satu upaya pelemahan lembaga penyelenggara pemilu di
daerah. “Kami tidak bisa memungkiri bahwa terkait isu yang berkembang,
hoaks yang muncul akan berdampak. Apa yang kami lakukan, jajaran
penyelenggara KPU Provinsi, kabupaten/kota, PPK dan PPS se Banten
mengamankan yang sudah menjadi arahan KRU RI. Apa yang sudah disampaikan
KPU RI terkait isu-isu yang berkembang, kami share untuk memberikan
penyadaran kepada masyarakat bahwa itu tidak benar,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan kampus di Banten untuk
menangkal hoaks dan memberikan sosialisasi yang benar kepada masyarakat
terkait penyelenggaraan pemilu. “Harus ada kesadaran kolektif masyarakat
Banten, terlebih di kalangan media sebagai corong demokrasi,” kata
Wahyul.
Pihaknya mengakui ada beberapa kelompok yang sengaja melempar hoaks
kepada masyarakat untuk membuat kegaduhan. “Ini kan tidak bertanggung
jawab. Hoaks itu akan menimbulkan bencana kalau ditelan mentah-mentah,
memperkeruh, namun tidak dapat kita hindari. Pemilu serentak mejadi batu
uji untuk penyelenggara pemilu. Kami harus on the track menjaga marwah
lembaga, memperkuat integritas, dan netralitas,” tegasnya.







0 comments:
Post a Comment