» Rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang disimpan
(saving to income ratio) turun dari 15,7 persen per Oktober menjadi 15,4
persen per November 2023.
» Pertumbuhan ekonomi yang tidak begitu tinggi berbanding lurus dengan pendapatan masyarakat yang tidak naik.
JAKARTA (KONTAK BANTEN) - Masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah,
ditengarai mulai menguras tabungannya guna memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE),
Mohammad Faisal, mengatakan fenomena "makan tabungan" di masyarakat
terutama karena pengeluaran yang tak sebanding dengan pendapatan,
terutama kelas menengah.
Mengacu dari beberapa indikator, Faisal membenarkan bahwa
akhir-akhir ini memang ada kecenderungan masyarakat untuk menggunakan
tabungannya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Memang ada indikasi yang cukup kuat bahwa kalangan menengah ini sudah sedemikian rupa spending-nya sehingga harus menggunakan tabungan mereka, baik untuk konsumsi maupun bayar cicilan," kata Faisal kepada Antara, di Jakarta, Rabu.
Fenomena "makan tabungan" yang saat ini ramai diperbincangkan
merupakan suatu keadaan yang mana masyarakat berbelanja melebihi dari
pendapatan yang diterimanya sehingga terpaksa untuk menggunakan
tabungannya.
Faktor utama yang mempengaruhi fenomena tersebut, yaitu meningkatnya
biaya hidup, termasuk harga barang yang kian melonjak tidak sebanding
dengan pertumbuhan pendapatan masyarakat kelas menengah.
Tekanan yang dihadapi masyarakat kelas menengah juga tecermin
dari indikator penduduk berdasarkan golongan pendapatan. Apabila mengacu
pada indikator pembagian penduduk menjadi 5 kuintil, Faisal menjelaskan
bahwa saat ini tingkat pertumbuhan pengeluaran paling rendah ada di
kuintil 4 yang justru merupakan masyarakat dengan tingkat pendapatan
menengah, disusul dengan kuintil 3, 2, dan 1.
"Kalau kelas bawah kan umumnya dari dulu susah nabung, tapi kalau kalangan menengah semestinya sebagian income mereka
masih bisa ditabung. Kalau semakin kecil tabungannya, berarti kalangan
menengah semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya," katanya.
Berdasarkan survei konsumen oleh Bank Indonesia (BI), rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) mengalami penurunan dari 15,7 persen pada Oktober 2023 menjadi 15,4 persen pada November 2023.
Kemudian, proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) juga turut mengalami penurunan dari 75,6 persen pada Oktober 2023 menjadi 75,3 persen pada November 2023.
Hal itu berbanding terbalik dengan proporsi pembayaran cicilan atau utang (debt to income ratio) yang meningkat menjadi 9,3 persen pada November 2023, dibandingkan bulan Oktober 2023 sebesar 8,8 persen.
"Jadi yang disampaikan dari survei BI itu adalah proporsi tabungan dan juga pembayaran cicilan kredit terhadap total income,
yang mana untuk tabungan semakin kecil proporsinya, sementara yang
konsumsi semakin besar dan juga cicilan relatif stabil," kata Faisal.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra
Siregar, mengakui terjadinya perlambatan pertumbuhan DPK pada November
2023 yang tercatat sebesar 3,04 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Bergantung Upah
Pakar sosiologi sekaligus pengamat perdesaan dari Universitas
Brawijaya, Malang, Imron Rozuli, mengatakan alokasi konsumsi sering kali
menyedot tabungan yang dimiliki. Hal itu merupakan hal yang lumrah dan
sudah menjadi habit di masyarakat. Apalagi bagi kelas menengah pekerja
bukan wirausaha, pendapatan mereka sangat bergantung upah atau gaji.
Sementara kenaikan upah dan gaji masih di bawah kenaikan kebutuhan dan
pengeluaran lainnya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik
Atmajaya Jakarta, YB. Suhartoko, mengatakan dalam situasi pertumbuhan
ekonomi yang tidak begitu tinggi tentu saja pendapatan masyarakat juga
tidak mengalami peningkatan secara signifikan, bahkan sebagian
masyarakat mengalami penurunan pendapatan.
"Ketika pendapatan turun, tidak serta-merta menurunkan konsumsi,
butuh waktu konsumsi menyesuaikan penurunan pendapatan. Makanya,
tabungan akan turun karena masyarakat menguras tabungannya untuk
mempertahankan konsumsi.
"Kondisi ini dalam jangka pendek masih dapat mendukung
pertumbuhan ekonomi, namun dalam jangka menengah dan panjang daya ungkit
konsumsi akan menurun," kata Suhartoko.







0 comments:
Post a Comment