< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Selamat Hari PERS Nasional Ke 71 #Korupsi,PersdanPerjuangan#

Kamis, 09 Februari 2017 | Kamis, Februari 09, 2017 WIB | Last Updated 2017-02-09T04:48:49Z

Hari ini 71 tahun yang lalu berkumpul kalangan wartawan alias insan pers perjuangan. Perkumpulan dilaksanakan di kota Solo pada 9 Februari 1946. Dari tanggal 9 februari itulah diabadikan menjadi hari pers nasional. Dengan Kepres No.5/ tahun 1985 9 Februari resmi dijadikan Hari Pers Nasional sebagai hasil usulan Dewan Pers.Pada 9 Februari 1946 di gedung Kantor Palang Merah Indonesia (PMI)–kini Gedung Museum Pers Solo–ini Sumanang terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pertama. Pria kelahiran Yogya  ini terpilih saat usianya menjelang 38 tahun. Beliau ini salah satu murid dari wartawan sebelumnya, Parada Harahap pengelola Koran Tjahja Timoer, yang berjasa sebagai perintis Kantor Berita Antara.
Pers dan Perjuangan
Kalau memperhatikan dinamika perjuangan bangsa, maka tidak akan lepas dari peranan kalangan pers (wartawan). Para pejuang hampir semuanya melibatkan dirinya dengan pers atau aktivitas kewartawanan. Selain berjuang dengan fisik, mereka pun berjuangan dengan pena. Kenapa demikian? Sebab untuk memperjuangkan kemerdekaan para pejuang membutuhkan media untuk propaganda. Aktivitas perjuangannya hanya bisa diketahui, dibaca jika mereka menulis Kita tengok siapa Soekarno? Beliau insan pers penulis dan pengelola surat kabar Fikiran Rakjat. Mohammad Hatta, dia pelaku pers pengelola Daulat Rakjat. Bahkan sejak di Nederland Hatta sudah menulis ke berbagai media cetak terbit di tanah air dan di Eropa. Cokroaminoto beliau ini pengelola Surat Kabar Fajar Asia–sebelumnya Bendera Islam, jadi bukan sekedar dikenal pejuang penggerak SI. Kalau dicermati satu-persatu niscaya ditemukan para pejuang itu merangkap sebagai insan pers.Dengan demikian amat tepat jika sering diungkapkan  istilah pers perjuangan. Karena perjuangan ditopang oleh kalangan pers (insan media). Sebaliknya pers didirikan di negeri kita oleh kalangan pribumi tidak lain untuk menjadi corong perjuangan. Catat, pers lahir untu perjuangan kemerdekaan. Bukan untuk aksi pribadi atau mencari kehidupan mereka.Mengenang ini saya jadi terngiang-ngiang kata-kata wartawan senior pengelola Indonesia Raya, Mochtar Lubis. Dia menyatakan bahwa berkiprah di dunia pers tidak lain sebagai perjuangan. Pers perjuangan saya terkagum pada Mochtar Lubis, yang tulisan-tulisannya amat tajam mengkritik persoalan korupsi dalam tubuh bangsa ini. Dalam benak Mochtar Lubis pers itu bervisi perjuangan.Kalau pun sering disebutkan pemerintah pers itu membawa misi pembangunan, tentu saja pembangunan yang sesuai dengan visi misi perjuangan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Karena itu tak heran bila Mochtar Lubis menyatakan dalam kiprahnya untuk mengisi kemerdekaan, insan pers yang sesuai dengan visi misi pers yang sejarahnya identik dengan perjuangan, suka menyebutkan sebagai wartawan jihad.Sesungguhnya bukan saja pasca kemerdekaan di zaman Sumanang. Atau pun di zaman Mochtar Lubis. Pers dan perjuangan jauh sebelumnya sudah identik dengan sikap kritik yang berani terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda.Bukan saja bung Karno dan kawan-kawan, bukan saja Cokroaminoto yang dijuluki Belanda sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota, yang menjadikan pers identik dengan perjuangan.Bahkan sejak awal rintisannya oleh kalangan pers pribumi yang dimotori Raden Mas Tirto Adhie Soerjo dengan media cetaknya Koran Soenda Brita dan yang terkenal Medan Prijaji. Tirto inilah yang membongkar kasus skandal korupsi pejabat kolonial Hindia Belanda.Bayangkan di awal abad ke-20, tahun 1906 beliau sudah merintis pers pribumi dengan sumber daya manusia dan modal dari kalangan pribumi sendiri.Karena dianggap bahaya, Tirto direkayasa dilumpuhkan dibuang ke Maluku. Sepulangnya dari pembuangan, Tirto sedemikian rupa bagaikan berada dalam Rumah Kaca, kemudian diasingkan dengan publik. Bahkan aset-aset miliknya kemudian entah bagaimana jadi berpindah tangan. Di akhir-akhir masa hidupnya Tirto hidup dalam kesengsaraan. Akhirnya beliau wafat pada 9 Desember 1918 dan dimakamkan di pemakaman Mangga Besar, Jakarta.Jadi persoalan berita kasus Korupsi ternyata bukan terjadi saat ini saja, disaat ramai kontroversi di awal tahun 2015 ini. Tetapi satu abad yang lalu, di awal abad ke-20 sudah menjadi bidikan kalangan insan pers pribumi. Jadi sama saja perilaku korupsi dan berita hangat sudah ada sejak seabad yang lalu.Bedanya, dulu pelakunya para pembesar pejabat kalangan pemerintah Hindia Belanda. Kini yang tersandung kasus dugaan korupsi itu kalangan pejabat bangsa sendiri. Kalau dulu kalangan pejuang dan insan pers itu seperti peribahasa “berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian” (bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian). Mereka disiksa dan dipenjara dahulu baru kemudian dielu-elukan sebagai pemimpin bangsa.Kini, banyak orang dipuji-puji dahulu menjadi pemimpin tetapi kemudian banyak yang meringkuk dalam penjara. Karena apa? terjerat kasus korupsi. Demikian yang kita ketahui dari berita di media cetak, televisi dan media online sekarang ini.Selamat Hari Pers Nasional. Semoga tetap setia berjuang untuk kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan sesuai cita-cita luhur pendiri bangsa. Menuju kesejahteraan rakyat.[tulisan ini bahan yang tak sempat dikirimkan ke media cetak], tetapi semoga bermanfaat.
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update