Selama dua hari, Sabtu-Ahad (22-23 April 2017), dua intelektual
penting di Deakin University Australia, Prof. Greg Barton dan Dr. Matteo
Vergani, berkunjung ke tiga pesantren di Kab. Lebak Banten, yakni ke
Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Pondok Pesantren Manahijussadat dan
Pondok Pesantren al-Mizan.
Kunjungan ini menjadi “berkah” tersendiri bagi pesantren, mengingat
tidak mudahnya menghadirkan intelektual dunia sekaliber keduanya.
Kedatangan keduanya yang ditemani Aktivis Komunitas Belajar Islam (KBI)
Khoirul Anam, ini sesungguhnya tidak memiliki agenda yang khusus, selain
untuk berdiskusi ringan bersama keluarga pesantren dan melihat-lihat
suasana pesantren.
Bagi Greg Barton, penulis Biografi Gus Dur, kunjungan ke pesantren
bukanlah yang pertama kali. Sejak 1985, Greg telah ratusan kali keluar
masuk pesantren, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kedekatannya
dengan Alm KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mempermudah hobinya ini.
Ini berbeda dengan Matteo Vergani, yang spesialisasi kajiannya
tentang Psikologi Politik. Pria asli Italia ini baru pertama kalinya
berkunjung ke pesantren. Itu sebabnya, Matteo banyak terkaget-kaget
melihat pesantren yang ternyata tidak sesuai bayangannya. Aneh baginya,
ketika pesantren mengajarkan ilmu-ilmu umum dan seni, bukan semata
belajar kitab dan ibadah mahdhah.
Dari kunjungan “bersejarah” ini, ada beberapa point penting yang
secara khusus disampaikan oleh Greg Barton – Guru Besar Politik Islam –
dan kiranya penting ditangkap oleh pesantren, baik pesantren yang salafi
(tradisional) maupun yang khalafi (modern).
Pertama, Greg yang terlihat mencintai dan mengapresiasi keberadaan
pesantren di Indonesia ini, menyebut pesantren turut mewarnai kehidupan
demokrasi, baik di level Indonesia maupun dunia. Bahkan ia menyebut,
peran pesantren di Nusantara ini jelas menunjukkan bahwa Islam
compatible dengan demokrasi yang sekarang menjadi acuan kehidupan
berbangsa dan bernegara secara modern.
Menurutnya, dalam konteks Indonesia dan dunia, pesantren memberikan
sumbangan dan pengaruh yang besar bagi perkembangan demokrasi.
“Perkembangan demokrasi di Indonesia sukses karena ada nyamasyarakat
madani atau civil society,” katanya. Termasuk di dalamnya komunitas
pesantren tentu saja.
Kedua, Greg menunjukkan sekaligus mengakui adanya sentiman anti-Islam
oleh masyarakat Barat, terutama paska terjadinya Tragedi 9/11 yang
meluluhlantakkan dua gedung kembar WTC. Namun, bagi yang jernih melihat
Islam dari dalam dan mendalam, sesungguhnya Islam tidak mengajarkan
aneka tindak kekerasan atau radikalisme. Dan Greg berupaya menyuarakan
ini tanpa henti.
“Saya tidak membela Barat yang berpandangan tidak baik pada Islam.
Lakukanlah yang terbaik supaya prasangka itu hilang,” ujarnya memberikan
pesan. Dunia pesantren karenanya patut berterima kasih pada sosok
sepertinya.
Ketiga, Greg sama sekali tidak khawatir santri atau alumni pesantren
akan menjadi teroris atau kelompok radikal lainnya. Menurutnya, selama
pesantren istiqamah mengajarkan kitab kuning (turats), maka kemungkinan
itu sangat kecil. Dari lebih 25 ribu pesantren, hanya segelintir saja
yang alumninya terjerumus pada tindak terorisme.
Karena itu, ia menyatakan optimisme yang tinggi pada komunitas
pesantren. “Saya percaya, santri-santri pesantren tidak akan mungkin
dibajak oleh para teroris, karena mereka sudah punya pemahaman yang
sehat tentang Islam,” katanya.
Lalu, siapa yang mungkin dibajak untuk menjadi teroris? Greg
memberikan penjelasan yang klir, bahwa yang mungkin dibajak untuk
menjadi teroris adalah “orang beriman tapi tidak memahami ajaran
agamanya secara sehat.”
Analisis Greg ini menarik dan nyatanya memang demikian yang terjadi.
Dan untuk itu, pesantren berupaya menciptakan sosok “beriman yang
mendalami ajaran agamanya” melalui penelaahan yang serius pada kitab
kuning, sehingga menjadi manusia penebar rahmat bukan laknat dan
penebar keramahan bukan kemarahan
Keempat, Greg mengapresiasi kemampuan pesantren beradaptasi pada
hal-hal yang baru. Baginya, kekuatan pesantren terletak pada
kemampuannya mendalami kitab-kitab kuning sekaligus tidak alergi pada
hal-hal baru, semisal sistem demokrasi.
Kemampuan berdiri di atas dua kaki tradisionalisme dan modernisme,
inilah sesungguhnya kekuatan yang patut dibanggakan oleh pesantren.
Menurutnya, inilah yang oleh Fazlurrahman (Penulis Tema Pokok Alquran)
disebut sebagai neo-modernism. Kelompok baru yang kokoh memegangi
warisan lama namun tidak anti hal baru.
Dalam konteks pesantren Nahdhatul Ulama (NU) misalnya, inilah yang
disebut sebagai al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdz bi
al-jadid al-ashlah (melestarikan tradisi lama yang baik dan mengadopsi
tradisi baru yang lebih baik). Pesantren-pesantren di Nusantara memang
sudah semestinya pandai menyaring hal lama yang masih bagus dan hal baru
yang lebih bagus, untuk diramu menjadi tradisi baru neo-modernism.
Kelima, Greg juga memberikan masukan penting pada pesantren, untuk
terus-menerus melakukan langkah-langkah positif, sehingga kesan Islam
sebagai agama rahmah li al-‘alamin benar-benar nemampak nyata. Dengan
jumlah ribuan dan tersebar di berbagai wilayah negeri ini, maka wajah
Islam yang sesungguhnya sangat ditentukan oleh pesantren.
Itulah beberapa nasihat penting Greg Barton untuk pesantren. Jika
orang sekaliber Greg Barton, selain Martin van Bruinessen, Nakamura, dll
tentunya, begitu jernih melihat Islam Indonesia, maka sudah semestinya
kita semua patut berbangga diri. Hanya orang-orang dengan hati dan
pikiran jernih saja yang bisa melihat keontentikan Islam. Dan tugas
komunitas pesantren adalah menjaga keontikan itu, supaya tidak tercemari
oleh hal-hal yang merugikan pesantren khususnya dan Islam umumnya.[]
*Penulis adalah Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten

.gif)