< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Walikota Bogor Usulkan Menteri Jabodetabek

Kamis, 29 November 2018 | Kamis, November 29, 2018 WIB | Last Updated 2018-11-29T12:45:39Z
 
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bersama Walikota Bogor Bima Arya memantau Bendungan Katulampa, Bogor.
BOGOR – Walikota Bogor Bima Arya menjadi salah satu pembicara dalam Focus group discussion (FGD) bertajuk ‘Pembangunan Bertumpu Pada Kelestarian Lingkungan Hidup’ di Istana Presiden Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.
Acara yang digagas oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) ini didasari atas potret kerusakan lingkungan hidup di Indonesia yang dinilai sudah mengkhawatirkan.
Sampah yang ada di darat, udara, sungai, hingga laut menciptakan pencemaran dan bencana.
Bima Arya memaparkan sejumlah aktivitas yang dilakukan bersama warga dan stakeholder terkait dalam melakukan pembangunan daerah berbasis lingkungan.
Mulai dari pembangunan bank sampah, TPS 3R, lomba kebersihan tingkat RT/RW, penanaman pohon, gerakan lubang resapan biopori hingga menerapkan kebijakan larangan penyediaan kantong plastik di retail modern.
Bima juga tak menampik bahwa dalam prakteknya di lapangan masih banyak ditemukan sejumlah kendala sehingga menghambat program dengan semangat sustainable development.
“Isu lingkungan merupakan isu yang luar biasa penting. Tapi, selama hampir 5 tahun saya menjabat sebagai Walikota Bogor, ada dua persoalan utama yang dihadapi dalam rangka menuju sustainable development. Baik itu oleh, walikota, bupati, gubernur, menteri hingga presiden. Persoalan yang pertama adalah soal visi dan yang kedua adalah soal koordinasi,”kata Bima.
Orang nomor satu di jajaran Pemkot Bogor ini menjelaskan, adanya persoalan visi karena tidak semua pemimpin memiliki green leadership. “Cukup sulit menjadikan isu lingkungan hidup menjadi isu mainstream. Kepala daerah terjebak dengan quick wins. Terobsesi untuk memuaskan secara elektoral dengan hal-hal yang harus dirasakan cepat. Masalah lingkungan hidup tidak begitu. Tidak langsung dirasakan,”ungkapnya.
Di hadapan Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono, Bima juga mengutarakan problem koordinasi yang dialami daerah dalam menyusun kebijakan bersama, khususnya di Jabodetabek.
“Saya agak banyak curhat, mumpung ada orang-orang kuat seperti Pak Nono, yang bisa menyuarakan ini. Saya memimpikan adanya jalur koordinasi yang jelas. Masalahnya tergantung kepala daerahnya, kalau chemistry nyambung, ya jalan. Tapi kalau nggak nyambung, nggak jalan. Apalagi kalau beda partai. Apalagi kalau beda pilihan di Pilpres misalnya. Faktor politik,” terangnya.
Maka, Bima Arya terpikir ide untuk dibentuknya kementerian khusus Jabodetabek.
“Ini harus diikat lewat otoritas yang tinggi. Menurut saya make sense sekarang kita munculkan isu Kementerian khusus Jabodetabek. Kan bisa diikat kemudian lewat Peraturan Menteri dan sebagainya, ada anggaran yang dikucurkan, harus jalan semuanya,” jelas dia.
Bima melanjutkan, Jabodetabek yang memiliki jumlah penduduk sekitar 32 juta jiwa ini merupakan megacity nomor dua di dunia setelah Tokyo dan sekitarnya.
“10-15 tahun lagi, Jabodetabek akan menjadi megacity nomor satu di dunia. Tetapi koordinasi antar daerah ampun-ampunan,” katanya.
“Saya bilang ke Pak Gubernur DKI Jakarta, kita ubah polanya, duduk sama-sama, desain sama-sama. Sehingga nyambung satu sama lain. Jadi tidak bergerak sendiri-sendiri soal pembangunan lingkungan. Selama ini seolah-olah Bodetabek yang butuh Jakarta, padahal kita semua saling membutuhkan. Kalau bapak ibu perhatikan perdebatan Pak Anies dengan Walikota Bekasi soal sampah. Ya itu fakta yang terjadi,” tambah Bima.
Mendengar aspirasi tersebut, Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono mengatakan akan mengkaji setiap apa yang diharapkan para kepala daerah sehingga sinergi bisa terwujud.
“Kita akan kaji usulan dari Pak Bima Arya soal Kementerian Khusus Jabodetabek. Ini menarik ya. Ada Undang Undang tentang Jabodetabek, yang kita buat dan mudah-mudahan ini bisa mewadahi itu,” ungkap Nono.
Jenderal TNI (Purnawirawan) ini menambahkan jika melihat Undang Undangnya Gubernur DKI Jakarta diberikan hak untuk mengakomodir soal lingkungan, lalu lintas dan lain sebagainya.
“Kalau soal koordinasi yang terhambat, saya kira kesadaran dari pejabatnya saja. Undang Undang sudah mengatur itu, ruang sudah diberikan, silahkan rakyat yang menilai. Tapi Kami akan melihat ke arah sana nanti,” tandasnya.
Turut hadir staf ahli bidang ekonomi SDA pada Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Laksmi Wijayanti, Wakil Bupati Sigi, Paulina, Bupati Sintang Jarot Winarno, Kepala Kebun Raya Bogor, Didik Widyatmoko, dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pesisir Selatan, Nelly Armidha dan lain sebagainya.
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update