“Jas
Merah”– Jangan sekali-kali melupakan sejara, dan bangsa yang besar
adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Itulah lebih kurang
ungkapan Bung Karno dalam sebuah orasi politiknya.
Dengan demikian, bangsa yang besar
adalah bangsa yang pandai menghargai jasa para pahlawan dan belajar dari
sejarah bangsanya untuk membangun peradaban yang lebih baik bagi
masyarakatnya.
Dengan pembelajaran dan penghargaan atau
penghormatan terhadap sejarah masa lampau, dan jasa para pahlawannya,
kita saat ini dapat mengambil hikmah dari intisari kisah sejarah yang
telah berlangsung tersebut dengan segala kekurangan dan kelebihannya-
untuk merajut dan menenun masa depan.
Sehingga, segala kesalahan tidak
diulangi lagi dan segala keberhasilan dapat dikembangkan atau
ditingkatkan ke tingkat yang lebih hebat lagi. Segala kesalahan masa
lampau dalam sejarah bangsa seperti berbagai pelanggaran hak asasi
manusia, dan korupsi, kolusi dan nepotisme.
Korupsi, khususnya harus dibasmi. Kalau
kolusi dan nepotisme yang dimaksudkan sebagai relasi, memang sangat
diperlukan. Karena dalam melakukan apa pun seperti dalam berbisnis,
jelas saya membutuhkan relasi dengan orang-orang yang saya kenal baik,
seperti saudara saya sendiri. Tetapi, jika saudara saya yang panggil
untuk bekerja dengan saya dalam peruahaan saya melakukan korupsi, maka
saya harus memecatnya.
Tumpulnya suara hati
Cenderung merosotnya moral bangsa yang
kemudian dapat merusak sendi-sendi kehidupan bangsa, seperti lahirnya
perilaku suap dan korupsi, politik uang atau politik yang hanya
mementingkan diri dan kelompok; entah itu kelompok sosial, agama, suku
dan seterusnya, hakikat dasarnya disebabkan oleh lemahnya iman dan
rapuhnya mentalias serta kerdilnya jiwa bangsa.
Dan semua itu terjadi karena tumpul atau
matinya hati nurani atau suara hati banyak elite negeri, khususnya para
politikus bangsa ini. Tumpulnya hati nurani membuat manusia, khususnya
para politikus cenderung melakukan hal yang buruk dan mengabaikan segala
sesuatu yang baik. Misalnya, dalam melakukan korupsi dan politik uang.
Harus diingat bahwa jika ingin menjadi
politikus dan pejabat, jangan bermimpi menjadi kaya, dan kalau ingin
menjadi kaya, ya jadilah pengusaha atau pebisnis. Jika ingin menjadi
politikus dan pejabat, sekaligus ingin kaya, maka korupsi adalah jalan
yang ditempuhnya. Di sinilah terjadi pengkhianatan hati nurani dan
pembusukan moral. Mengerikan.
Mengapa? Karena hati nurani atau yang
kerap disebut juga sebagai suara hati, adalah obor bagi kehidupan
insani. Maka hati nurani, tidak lain juga adalah sumber kesadaran moral.
Jadi, hati nurani merupakan pusat kesadaran dalam bathin seseorang
–dalam hal ini politikus- akan kewajiban dan tanggung jawabnya dalam
berpolitik. Politik yang mementingkan diri dan kelompok akan sangat
mencederai hati nurani dan etika politik.
Hati nurani itu hakikatnya bersifat
personal,sekaligus adipersonal. Di sini, hati nurani itu berfungsi atau
tidak, memiliki keterkaitannya dengan apa yang disebut akan budi yan
disinari “nur” cahaya dari Yang Ilahi, yang dalam religiositas kaum
beragama dikatakan suara hati sebagai suara Sang Ilahi dimana Sang
Ilahi berbicara kepada setiap pribadi melalui hati nurani.
Sehingga, suara hati kerap memancarkan
suara Sang Ilahi.Singkatnya, hati nurani adalah kompas kebenaran yang
akan membawa siapa pun berada di jalan Yang Mahakuasa, sesuai dengan
kehendak-Nya.
Dengan demikian, apabila seseorang
melanggar suara hati,berarti ia melanggar suara Sang Ilahi.Apabila
seseorang menjalankan hidup tidak sesuai dengan isi dan dorongan hati
nurani atau suara hati, berarti dia tidak mengikuti kehendak Sang
Ilahi.
Mengapa? Karena suara hati selalu
mengajarkan yang baik, menuntun sesorang ke jalan yang benar, dan
menentang ke jalan yang buruk. Jadi, siapa pun yang mengikuti suara hati
dalam berpolitik, dia akan berpolitik yang secara benar dan beretika.
Dalam hal ini, siapa pun yang hidup
dalam pertentangan dengan segala kebaikan dan melakukan kejahatan,
seperti politik uang, atau hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok
politik dan agama, dia berperilaku bertentangan dengan suara hati atau
hati nurani.
Seorang politikus yang berperilaku
amoral atau tidak berperilaku etis dalam politik, itu mencerminkan
kebutaan atau ketumpulan hati nuraninya. Itu juga menjadi cermin
tindakan yang keluar dari hati nurani atau kehendak Sang Ilahi.
Di sini, hati nurani atau suara hati
memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan etika dan moralitas
politik, bahkan sumber etika dan moralitas politik, karena hati nurani
mengungkap dengan terang dimensi etis dalam hidup para politikus yang
menyangkut baik-buruk dalam aksi konkret politik.
Tatakala kehidupan politik dijalankan
bertentangan dengan hati nurani para politikus, maka yang muncul dalam
politik, hanyalah penuh nafsu yang mengutamakan kepentingan diri dan
kelompok, bukan kepentingan bangsa seluruhnya. Politik lalu berjalan
sekadar business as usual yang dangkal, bahkan banal.
Etika politik yang mengedepankan
kesejahteraan rakyat, menjadi utopia kosong atau sekadar goresan
kegilaan yang terpahat di dinding kosong tanpa makna. Politik bangsa ini
menjadi sia-sia dan banal. Kerja para politikus menjadi hampa tanpa
berkah. Kerja politik menjadi sia-sia.
Perlu kesadaran moral
Sekarang kita tanyakan sejauh mana
tanggung jawab para politikus dalam menjalankan tugas-tugas politiknya
Untuk menjawabnya, dibutuhkan kesadaran. Kesadaran akan tanggung jawab
yang disebut kesadaran moral. Fungsi hati nurani dalam hal ini dalam hal
ini adalah menuntun pada lahirnya kesadaran akan tanggung jawab para
politikus.
Artinya, suara hati atau hati nurani
merupakan sumber kemampuan manusia dalam hal ini para politikus, untuk
menyadari tujuan moral dan untuk mengambil keputusan-keputusan politik
yang penuh tanggung jawab etisnya.
Hanya dengan tanggung jawab moral etis,
kehidupan para politikus dapat berjalan sesuai dengan kehendak hati
nurani, dan politik itu sendiri berjalan dalam gerbong moralitas. Di
sini kesejahteraan rakyat tercipta. Karena politik harus bermuara para
kesejahteraan rakyat.
Kesadaran moral perlu segera dibangun di
hati para politikus, supaya politik kita segera dijalankan secara
bermartabat. Karena sulit dibayangkan jika kehidupan politik semakin
kehilangan makna etisnya.
Maka, politik pun harus menjadi
perwujudan hati nurani, cermin perilaku etis dalam politik, sekaligus
persenyawaan moralitas demokrasi. Tanpa itu, derajat kehidupan politik
akan menjadi sumber petaka bagi bangsa. Karena politik tidak sanggup
menjadi medan kerja yang menyejahterkan rakyat.
Intinya, politik dengan menggunakan hati nurani harus menjadi perhatian para politikus. Ingat ungkapan Jepang, “Anata no kokoro, anata no utsukuhisa”,- hatimu kecantikanmu.”
Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura







0 comments:
Post a Comment