Tak ada yang
memperkirakan pemilu serentak 2019 akan memunculkan tragedi memilukan
seperti ini: akibat kelelahan mengurusi surat suara seorang wanita
keguguran sehingga harus kehilangan anak dalam kandungannya, anggota
KPPS meninggal dalam tidurnya setelah pulang dari tempat pencoblosan
dalam keadaan sangat lelah, dan seorang polisi gugur usai bertugas tak
kenal waktu mengawal dan mengamankan pemungutan suara.
Belum ada wabah penyakit misterius di negeri ini yang tercatat dalam
beberapa tahun terakhir yang mampu merenggut banyak korban jiwa hanya
dalam tempo sepekan. Akan tetapi pemilu serentak 2019 melakukannya.
Hingga Kamis (25/4/2019) sebanyak 225 petugas penyelenggara pemilu
meninggal dunia dan 1470 orang lainnya yang masih terbaring sakit.
Tentang
keterbelahan masyarakat yang begitu dalam, soal lontaran fitnah dan
hoaks yang sangat beracun, penggunaan simbol-simbol agama untuk menyebar
kebencian, semua itu tidak terlalu mengejutkan lagi. Paling tidak kita
sudah ditunjukkan praktik permulaannya pada Pilkada DKI dan oleh
karenanya kita sedikit banyak telah memiliki pengalaman subyektif serta
kesiapan untuk menghadapinya.
Namun, bagaimana dengan wafatnya
ratusan petugas KPPS dan ditambah belasan aparat keamanan itu? Kita
benar-benar tidak pernah membayangkan akan ada ribuan orang yang ambruk
saat pemilu.
Antisipasi terburuk kita soal ancaman pada pemilu
serentak 2019 adalah kerusuhan dan konflik antar pendukung capres dan
caleg. Paling jauh berupa provokasi "people power" dari gerombolan
tukang ancam. Sementara akan jatuhnya korban berjumlah ratusan mungkin
tidak pernah diperhitungkan secara serius dalam rapat-rapat dan
koordinasi manapun selama persiapan pemilu 2019.
Ini bukan
insiden yang kebetulan, melainkan sebuah tragedi. Tak terbantahkan bahwa
ini merupakan catatan kelam dari pesta demokrasi kita yang menorehkan
kesedihan. Diskursus soal penghematan anggaran pun hampir sama sekali
tidak relevan lagi manakala catatan berisi daftar korban disodorkan.
Tanggung Jawab Moral
Fakta
bahwa para petugas KPPS mengalami kelelahan yang luar biasa karena
bekerja terus menerus harus diakui sebagai kekeliruan besar.
Bahwa pemilu di negara kita
merupakan yang paling kompleks dan rumit sejagad telah dimengerti. Akan
tetapi manusia bukanlah robot dan pemilu 2019 tanpa diprediksi telah
menjadikan para petugas KPPS sebagai mesin.
Pertanyaannya, siapa yang harus ditempatkan sebagai pihak yang perlu bertanggung jawab atas tragedi ini?
Akan
ada cukup alasan untuk menunjukkan kelalaian bersama antara
pemerintah, DPR, dan terutama KPU sebagai penyelanggara pemilu. Sebutlah
ketiadaan asuransi bagi petugas KPPS dan honor mereka yang teramat
kecil yang tidak sebanding dengan beratnya tugas dan tanggung jawab para
garda depan pemilu ini.
Saat seorang petugas harus membuat
salinan rekapitulasi perhitungan suara sebanyak jumlah saksi parpol dan
capres yang semuanya harus ditulis tangan tanpa cela, membayangkannya
saja sudah membuat kita goyah. Sementara para petugas itu pun harus
menyelesaikan juga beban kerja lainnya dalam waktu yang ketat.
Para
petugas KPPS telah disumpah dan tidak ada keikhlasan terbaik selain
keikhlasan yang mereka perlihatkan. Akan tetapi merupakan sebuah
kekejaman bila kita mengharuskan orang untuk bekerja melebihi batas
kemampuan fisik dan mentalnya. Sesuatu yang jahat bila kita menyuruh
orang terus menerus bekerja selagi mereka didera kelaparan dan kelelahan
lalu meninggal.
Maka mengandaikan para komisioner KPU akan
mengundurkan diri setelah seluruh proses penghitungan suara dan
penetapan hasil pemilu 2019 ini tuntas adalah hal yang wajar. Sikap
semacam itu adalah upaya etis dan logis sebagai pertanggungjawaban moral
kepada bangsa dan kepada mereka yang gugur dalam tugas menyelenggarakan
pemilu.
Berubah
Meskipun demikian para
penyelenggara pemilu bukanlah pihak tunggal yang perlu bertanggung jawab
atas semua tragedi ini. Pemilu adalah kesepakatan nasional kita sebagai
bangsa. Kita sendiri yang telah memilih jalan demokrasi ini. Kita pula
yang paling berkepentingan dengan pemilu.
Mereka yang gugur,
kehilangan anggota keluarga, dan terbaring sakit saat ini adalah korban
dari sebuah pesta demokrasi di mana pesta itu dipersembahkan bagi kita.
Alasan ini semestinya sudah lebih dari cukup untuk mendorong kita mau
mengambil masing-masing sebuah keranjang penuh berisikan tanggung jawab
moral.
Tragedi pemilu 2019 adalah renungan terbaik bagi bangsa Indonesia sekarang. Sudah saatnya kita merenungkan perilaku kita, memikirkan perubahan-perubahan dan menjalankan perbaikan-perbaikan.
Perbaikan
bukan hanya pada sistem pemilu agar petugas KPPS tak lagi harus menulis
tangan berlembar-lembar formulir dan membuat begitu banyak salinannya.
Bukan hanya perbaikan soal cara pemungutan suara agar lebih canggih dan
cepat.
Perbaikan yang utama dan mendesak adalah kesadaran kita untuk berubah
dalam menjalankan kehidupan demokrasi. Apa yang selama ini kita sebut
sebagai pesta demokrasi ternyata masih sebatas perburuan kesenangan dan
kemenangan. Kita belum benar-benar menjalankan pemilu sebagai pesta
untuk kebaikan bersama.
Layaknya pesta untuk menyenangkan diri,
orang-orang yang datang dan ikut pesta hanya mengharapkan kesenangan dan
menjadikan kepuasan diri sebagai satu-satunya "manfaat" yang ingin
didapat sebanyak-banyaknya. Ini menjelaskan mengapa orang-orang bisa
menjadi kejam pada saat berkampanye. Demi mendapat sensasi kepuasan
terbesar selama pesta, banyak orang tak peduli pada kemanusiaan.
Perburuan
mencari kepuasan di pesta demokrasi diwarnai dengan luapan caci maki,
ujaran kebencian, dan fitnah merupakan perilaku tak berperikemanusiaan.
Sementara sekelompok orang lainnya sedang bekerja dan jatuh bangun agar
pesta bisa digelar hingga tuntas. Perilaku-perilaku semacam itu sungguh
rendah.
Sungguh jika mengingat banyaknya praktik kampanye yang
buruk sepanjang berlangsungnya pesta demokrasi ini, semuanya
memperlihatkan betapa kita telah melecehkan orang-orang yang menyiapkan
pesta untuk kita. Seolah belum cukup, setelah pesta digelar masih
dilanjutkan dengan lontaran menyakitkan berupa tudingan curang dan
seterusnya. Mereka yang gugur dalam bertugas adalah korban dari pesta
yang selama berbulan-bulan kita isi dengan perilaku-perilaku dan
omongan-omongan jorok.
Orang-orang yang menyerukan pidato-pidato
dan klaim-klaim kemenangan sambil terus menerus menuding ketidakbecusan
dan kecurangan pemilu tanpa dasar yang jelas, hanya sedang
memperlihatkan bahwa mereka hampir tidak memiliki kesadaran yang
sungguh-sungguh untuk merenungkan tragedi ini.
Bukan hanya tidak
menghargai, mereka juga meniadakan pengorbanan orang-orang yang telah
gugur seolah semuanya adalah kejadian kecil yang teramat biasa. Dalam
pesta, mereka inilah para pemburu kesenangan yang hanya ingin memuaskan
diri sendiri dan mengorientasikan pesta sebagai kekuasan milik sendiri.
Kita
akan menjadi manusia yang sama seperti itu bila tragedi pemilu 2019 tak
juga menimbulkan percikan kesadaran untuk menjadi warga negara yang
lebih menghargai demokrasi beserta kemanusiaan di dalamnya. Kita perlu
berubah menjadi lebih baik dan sampai waktu yang mungkin tak terbatas,
sebagai bangsa kita memikul tanggung jawab atas tragedi dalam pesta yang baru kita jalani kemarin.







0 comments:
Post a Comment