Pemilihan umum 2019 Sudah di laksanakan. Kita bersyukur sampai saat ini situasi aman dan damai.
Tak ada gejolak yang mencolok. Masyarakat dan bangsa Indonesia cukup
mampu menjaga kondusivitas politik yang berkembang. Meskipun demikian
gelar Pemilu Damai dilaksanakan di beberspa tempat untuk memelihara dan
menjaga kedamaian tersebut. Inisiatif datang dari Kepala Daerah atau
aparat keamanan. Kita setuju Pemilu mesti damai.
Persoalan
serius yang dihadapi adalah masalah kejujuran dan keadilan. Kejujuran
menyangkut Pemilu yang kadang dekat dengan kecurangan.
Sementara keadilan menyangkut perlakuan sama terhadap kontestan manapun.
Di berbagai Pemilu yang khususnya berhubungan dengan pemilihan Kepala
Pemerintahan, apabila petahana (incumbent) ikut sebagai kontestan, maka
keberpihakkan selalu mewarnai. Ini disebabkan petahana memiliki jaringan
dan perangkat penggalangan yang cukup. Selama masa berkuasa ia
membangun kekuatan dukungan yang hampir sempurna.
Pemilu
damai itu belum tentu jujur dan adil. Sebaliknya Pemilu yang jujur dan
adil dipastikan damai. Sebab jika tidak jujur dan tak adil akan muncul
reaksi berupa gerakan protes dan gugatan yang membuat situasi menjadi
"panas", friktif, dan bisa saja anarkis.
Kondisi kemudian
menjadikan negara dalam keadaan tak aman, tidak tertib, dan tidak
damai. Program atau deklarasi Pemilu damai urgensinya lebih rendah
daripada kampanye Pemilu jujur dan adil. Sebab bisa saja terjadi
kondisi paradoksal yakni gelar Pemilu damai adalah upaya untuk (diam
diam) melakukan kecurangan atas dasar keberpihakan kepada salah satu
kontestan. Paradigma yang dibangun adalah "biar curang yang penting
damai". Celaka jika paradigma seperti ini yang dianut.
Pendek
kata, yang harus kita lakukan adalah mengkampanyekan, mendeklarasikan
dan membangun "state of mind" publik yang berorientasi pada "Jujur dan
Adil". Berjuang untuk demokrasi yang konsisten, bersih, dan berkeadaban.
Kecurangan dan kezaliman mesti dilawan dengan sekuat tenaga. Rakyat
mesti digalang dan dimotivasi untuk tidak boleh menerima hasil Pemilu
yang tidak jujur dan adil. Pemerintahan yang dibangun atas dasar
kecurangan dan ketidakadilan adalah "The Devil Government". Pemerintahan
yang kelak akan selalu menindas, menipu, dan membohongi rakyat.
Jika
proses Pemilu kini dilakukan untuk mendapatkan Kepala Pemerintahan
atau Presiden dan Wakilnya dengan cara tidak jujur dan tidak adil, maka
wajib lah rakyat untuk segera menumbangkan pemerintahan seperti itu.
Harus ada pelajaran bagi mereka yang seenaknya dan bermain-main dengan
kekuatan rakyat.
Penulis adalah peneliti CSIS dan mahasiswa program doktoral ilmu politik di Northern Illinois University, Amerika Serikat.







0 comments:
Post a Comment