< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Teknologi untuk Siaran Gratis

Selasa, 20 Agustus 2019 | Selasa, Agustus 20, 2019 WIB | Last Updated 2019-08-20T13:02:33Z

Mengadakan satelit untuk memberikan layanan kepada konsumennya memang tidak murah. Satelit Nusantara Satu milik PT Pasifik Satelit Nusantara menghabiskan biaya sebesar 230 juta dollar AS, sebuah ongkos yang tidak kecil.
Pendanaan Satelit Nusantara Satu kata Direktur Utama PT PSN Adi Rahman Adiwoso bersumeber dari internal sebesar 30 persen dan ekternal yaitu dari perusahaan Kanada sebesar 70 persen.
Selain PSN, Indosat Ooredoo yang 19.29 persen sahamnya masih dimiliki pemerintah juga tengah mengembangkan satelit baru. Rencananya pada 2020 perusahaan akan meluncurkan satelit baru yang dinamakan dengan Satelit Palapa Nusantara Dua (SPND). Satelit ini akan menjadi pengganti satelia Palapa D yang umurnya akan berakhir.
SPND merupakan satelit yang akan dipakai untuk layanan televisi, layanan jaringan privat, akses Internet, dan multimedia serta konferensi video. Dengan kapasitas 20 transponder C-band dan 10 spot beam Ku-band dengan total kapasitas bandwidth mencapai 10 Gbps, dengan area cakupannya (coverage) akan mengangkau seluruh wilayah Indonesia.
Menurut Chief Business Officer Indosat Ooredoo, Intan Abdams Katoppo, mengatakan sayangnya SPND dirancang menjadi sateliat untuk menunjang bisnis penyiaran bukan untuk jaringan internet pita lebar. Dengan demikian konsumen dari SPDN adalah stasiun televisi, termasuk Indosat Ooredoo TV.
“Indosat Ooredoo menyadari pentingnya teknologi satelit untuk menunjang bisnis penyiaran di Indonesia. Oleh karena itu, kami menyediakan Satelit Palapa Nusantara Dua yang akan diluncurkan pada tahun 2020 sebagai pengganti Satelit Palapa D, untuk menyediakan layanan media penyiaran di Indonesia,“ ujar dia.
Satelit hasil kerjasama antara Indosat Ooredoo bersama dengan PT Pintar Nusantara Sejahtera (Pintar) dan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) melalui perusahaan joint venture bernama PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS) menggunakan teknologi Chinese DFH 4 Bus dari China Great Wall Industry Corporation (CGWIC).
Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso, mengatakan satelit dengan teknnologi High Throughput Satellite (HTS akan diluncurkan dengan roket Long March 3B dari Xingchang Satellite Launch Center. Satelit ini akan menempati slot orbit yang ditinggal oleh Palapa D yaitu yaitu di 113¬ derajat bujur timur. Palapa D yang juga dimiliki oleh Indosat telah meluncur sejak 31 Agustus 2009.
Satelit yang mengorbit pada orbit 113¬ derajat Bujur Timur selama ini menjadi ekosistem utama bagi penyiaran di Indonesia yang menggunakan layanan Free to Air (FTA), termasuk juga mayoritas broadcaster lokal.
“Kami yakin satelit ini memiliki peranan vital dalam menyampaikan informasi ke masyarakat lewat lembaga penyiaran dan lebih jauh berguna untuk menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia,” kata Intan.
Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso, sebagai satelit HTS, SPND memiliki bandwidth 10 Gbps. Dalam pengoperasiannya SPND yang ditargetkan beroperasi pada Mei 2020, diyakini tidak akan mengganggu layanan. Dengan seamless migration process dampak transisi dari Palapa D ke SPND sangat minim dirasakan oleh pelanggan.
Sebagai satelit penyiaran Palapa D yang akan digantikan SPND selama ini banyak dipakai oleh pengguna antena parapola. Dengan satelit ini pemirsa televisi bisa menikmati siaran televisi nasional secara gratis.
Beberapa stasiun televisi yang bisa diakses dengan menggunakan parabola pada Satelit Palapa D adalah K Vision, Net, TVRI, MNC TV, Inews, TV One, SCTV, Indosiar, dan banyak televisi lokal. Bagi sebagian besar masyarakat di wilayah kabupaten antena parabola menjadi andalan untuk menikmati televisi.
Menurut pengamat telematika, Teug Prasetya, yang menjadi kendala dalam pengadaan satelit sehingga Indonesia agak tertinggal dalam memenuhi kebutuhan satelit secara mandiri cukup kompleks. “Ada keterbatasan slot orbit, keterbatasan pendanaan, keterbatasan kemampuan operasional dan perawatannya,” ujar dia.
Agar bisa mandiri menurut Teguh perlunya pemerintah atau badan usaha Indonesia ikut terlibat dalam menyediakan satelit Indonesia. Rencana peluncuran Satelit Satria (Satelit Indonesia Raya) merupakan langkah positif dalam rangka pemerataan akses pita lebar hingga wilayah 3T ( terluar, terdepan dan tertinggal).
Namun demikian kata Taguh, wilayah 3T bukan hanya butuh satelit. Willayah ini sebagian juga membutuhkan penetrasi jaringan tulang punggung (backbound) serta akses backhaul “Terutama di daerah luar dan tertinggal tidak tergantung hanya dari satelit saja. Melalui kolaborasi antara semua stakeholder semua dapat diatasi,” ujar Teguh.
Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update