![]() |
Seorang ibu dan anaknya mengenakan masker medis saat asap kebakaran
hutan dan lahan (Karhutla) menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa
(10/09). - ANTARA FOTO/FB Anggoro
|
JAKARTA-Pemerintah disarankan segera menangani dampak kebakaran hutan dan
lahan yang semakin parah. Di sisi lain, BNPB mengaku kewalahan lantaran
peralatan yang dimiliki tak cukup mumpuni memadamkan api dengan cepat.
Warga
di Pekanbaru, Riau dan Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menyebut kabut
asap yang mengepung sekitar rumah mereka hari-hari ini hampir
menyerupai kondisi terparah dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan
lahan empat tahun silam atau pada 2015.
Lilis Alice, seorang
warga Palangka Raya bercerita, terpaksa menutup semua ventilasi udara
rumahnya dengan karton sejak awal September lalu. Gara-garanya, asap
sudah tak bisa dibendung.
Kata dia, lantai rumahnya menjadi licin dan agak berminyak. Gorden
yang tadinya berwarna putih, berubah jadi kecokelatan. Agar udara tidak
pengap, ia mengandalkan kipas angin.
"Sudah dua minggu sudah tidak buka jendela dan pintu. Asap ini sudah masuk ke rumah," ujarnya kesal ketika dihubungi BBC News Indonesia, Minggu, 15 September 2019.
"Kalau
pagi, kayak tinggal di negeri di atas awan. Gelap-gelapan. Jadi kalau
di dalam rumah, saya nyalakan lampu, saking gelapnya," sambungnya.
Pantauan Lilis, jarak pandang di Palangka Raya hanya 200 meter.
Parahnya, udara mulai menguning tanda sudah sangat buruk. Indeks Standar
Pencemaran Udara (ISPU) di Palangka Raya merujuk data Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tertanggal 15 September pukul
15.00 WITA, termasuk kriteria berbahaya.
Gara-gara asap pula, ia
harus bolak-balik ke rumah sakit karena sakit tenggorokan. Dokter
mengatakan, sakitnya itu karena menghirup asap.
"Masyarakat kan
keluhan di sini mata pedas, tenggorokan sakit, badan terasa enggak enak.
Kalau saya ke dokter dua kali. Sempat sembuh, tapi kena lagi,"
tukasnya.
"Ini kayaknya sama seperti tahun 2015."
Senada dengan Lilis,
warga Pekanbaru, Ilham juga mengatakan begitu. Menurutnya, buruknya
udara menyerupai kondisi empat tahun silam; udara menguning dan bau asap
pekat.
"Aroma (asap) sudah tajam tercium. Tajam banget. Sama kayak tahun 2015," ujarnya geram saat dihubungi BBC News Indonesia.
Ilham
juga menutup ventilasi udara rumahnya dengan plastik, agar asap tak
masuk ke rumah. Untungnya ia punya alat pembersih udara dan AC, dengan
begitu setidaknya bernapas lebih leluasa. Tapi istrinya kena iritasi
kulit.
"Jadi istriku, enggak pernah kena iritasi sama asap selama
ini. Tapi di kulit mukanya merah-merah dan bentol juga mengelupas. Saat
dibawa ke IGD, ternyata penyebabnya iritasi asap," jelas Ilham kepada BBC News Indonesia.
Pelaksana
Harian Kepala Dinas Kesehatan Riau, Yohanes mengatakan, sejak akhir
Agustus lalu Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayahnya
turun-naik di angka 400 atau termasuk kategori berbahaya.
Setidaknya
sudah 11.654 pasien yang datang ke puskesmas di seluruh kabupaten dan
kota dengan mayoritas gejala infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA.
Karena itu, kata Yohanes, pihaknya membagikan setidaknya satu juta
masker hijau ke masyarakat.
"Jadi keluhannya ada pneumonia dan
ISPA. Tapi kebanyakan ISPA. Kami juga bagikan masker biasa, bukan N95,
karena masker itu sirkulasi udaranya tidak cocok untuk situasi begini.
Kalau digunakan 5-10 menit, akan sesak," jelasnya.
Dia juga menegaskan, semua biaya pengobatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan ini ditanggung pemerintah.
Peralatan pemadaman tidak cukup, tapi pemerintah belum minta bantuan
Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sejak Januari hingga
Agustus tahun ini luas lahan yang terbakar mencapai 328.724 hektare.
Setidaknya ada enam provinsi termasuk kategori parah kebakaran lahan
yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Barat, dan Kalimantan Selatan.
Untuk memadamkan kebakaran itu, Kepolisian mengirim lima ribu personel. Sementara BNPB mengerahkan 32 helikopter water bombing dan 10 helikopter patroli. Meski, menurut Juru bicaranya, Agus Wibowo, masih kurang.
" Enggak cukup, kuranglah. Lahan yang terbakar itu kan luas sekali dan banyak lokasi-lokasi (yang hendak dipadamkan) dengan water bombing enggak bisa langsung padam. Karena kebakarannya besar," jelasnya.
"Jadi memang kami berusaha mencegah jangan sampai merembet. Jadi mengurangi," sambungnya.
Karena jumlah helikopter yang terbatas itu proses pemadaman, kata dia, "perlu waktu lama".
"Intinya kebakaran sangat luas, jadi berat memadamkannya," tukasnya.
Helikopter water bombing itu,
kata Agus Wibowo, disebar ke enam provinsi. Terbanyak dikerahkan ke
provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Selain itu, ada juga pesawat Hercules milik TNI yang digunakan untuk
penyemaian hujan buatan. Kendati, pergerakan awan masih belum terlihat.
Namun
demikian, pemerintah belum meminta bantuan dari negara lain. Juru
bicara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jati
Witjaksono mengatakan, pemerintah menjaga harkat dan martabat negara.
"Semua sudah gerak. Nanti kalau kita minta bantuan, kita dilecehkan lagi, ` ah gitu aja
minta bantuan...`. Makanya kita menjaga harkat dan martabat negara
kita. Kita kan malu kalau minta bantuan negara lain," ujarnya kepada BBC News Indonesia.
Catatan
KLHK, hingga saat ini sudah 42 perusahaan yang disegel konsesinya untuk
diteliti dan diselidiki terkait dugaan kebakaran hutan dan lahan. Dari
angka itu, lima di antaranya milik perusahaan asing asal Singapura dan
Malaysia. Akan tetapi pihaknya, kata Jati, pihaknya tidak bisa
mempublikasikan nama-nama perusahaan tersebut.
"Itu kan informasi
yang dikecualikan. Karena belum keputusan pengadilan, masih
penyelidikan. Kalau dibuka, nanti kabur semua," tuturnya.
Sementara
terkait rencana pemerintah mengirim surat protes ke Duta Besar Malaysia
karena menuding Indonesia sebagai penyebab tunggal munculnya asap di
negara itu, belum ada tindak lanjut.
"Belum, masih dipersiapkan dan lihat perkembangan. Kalau dari mereka protes, ya kita jawab."
Menurut Jati, asap karhutla tidak hanya berasal dari Indonesia tapi juga Malaysia, kendati diakuinya tidak sebesar Indonesia.
"Tapi di negara mereka ada titik api dan kebakaran di Semenanjung Malaya juga Serawak ada hotspot terpantau."
Malaysia
sebelumnya menyebut terkena dampak asap dengan kualitas udara di
sejumlah negara bagian termasuk Kuala Lumpur menjadi tidak sehat selama
beberapa hari terakhir.
Sedangkan di Singapura, perlombaan Formula
1 terancam batal. Badan Lingkungan Hidup Singapura (NEA) menyatakan,
Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Singapura semakin memburuk,
dan sudah mencapai angka 112 atau kategori tidak sehat di beberapa
daerah pada Sabtu malam.
Pemerintah tak usah malu minta bantuan
Direktur
Eksekutif Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Henri
Subagiyo menyarankan agar pemerintah berhenti berpolemik tentang kabut
asap antarnegara. Sebab hal itu hanya akan memperburuk citra Indonesia
di mata internasional.
"Kita harusnya ambil tanggung jawab dan
kalau mau tegas, ya tegas. Misalnya ada lima perusahaan Malaysia dan
Singapura, okelah diumumkan ke publik, tapi pemerintah punya tanggung
jawab untuk mengawasi dan kalau melanggar jatuhkan sanksi," jelas Henri.
"Jadi
jangan digeser ke isu antarnegara. Karena perusahaan-perusahaan itu
beroperasi di Indonesia atas izin pemerintah juga kan," sambungnya.
Justru,
kata dia, karena kondisi dampak asap kebakaran hutan dan lahan ini
sudah "sangat parah", Henri menyarankan pemerintah untuk tak malu
meminta bantuan negara lain. Baginya yang terpenting adalah keselamatan
warga.
"Ini sudah isu kemanusiaan dan ini menurut saya sih
pemerintah bisa mengalkulasi itu dan kalau butuh (bantuan) enggak usah
malu-malu. Jangan sampai terulang lagilah tragedi tahun 2015," tukasnya.
"Beberapa hari ini sudah parah banget. Ini soal keselamatan orang, dampak terhadap manusia sudah jelas gitu kok."
Henri
juga menilai, meluasnya kebakaran hutan dan lahan tahun ini terjadi
kembali karena lemahnya pengawasan pemerintah pusat dan daerah terhadap
para pemilik konsesi.
"Kalau saya lihat, yang enggak kelihatan itu isu soal penataan atau pengawasan terhadap izin. Bagaimana review atau audit izin jadi penting. Itu yang selama ini enggak terlihat kentara

.gif)