JAKARTA-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
memastikan tak berhenti menindaklanjuti kasus dugaan suap pengurusan
perkara di Mahkamah Agung tahun 2011-2016 yang menjerat eks Sekretaris
Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurachman. Salah satu yang pasti dikembangkan adalah mendalami sejauh mana peran istri, Tin Zuraida dalam kasus tersebut.
"Itu pasti akan didalami pada tahap penyidikan. Kita baru sampai tahap itu," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung Penunjang KPK, Jakarta, Selasa (17/12).
Alex enggan membeberkan sejauh mana peran Tin dalam gelar perkara yang telah dilakukan terhadap tersangka Nurhadi. Ia hanya berujar penyidik bakal mengambil langkah-langkah sesuai dengan kebutuhan."Nanti pasti penyidik akan mengarah ke sana terkait untuk mengumpulkan bukti-bukti itu kan, tapi sejauh mana penyidik akan melakukan penyidikan, saksi siapa yang dipanggil, kemudian akan melakukan penggeledahan dan penyitaan, nanti kan tergantung kebutuhan penyidik," kata Alex.
"Saya secara detail pada ekspose belum merinci uang dari mana saja, yang ini dari mana saja. Yang kita petakan baru satu dari pihak swasta," sambungnya.Diketahui pada tahun 2016, Tin kerap menghiasi pemberitaan media massa. Itu tak lepas dari sengkarut kasus dugaan suap peninjauan kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menjerat suaminya, Nurhadi. Tin maupun Nurhadi juga beberapa kali mondar-mandir ke KPK untuk memenuhi pemeriksaan penyidik, meski mereka lebih banyak bungkam ketika ditanya awak media.
Rumah Tin dan Nurhadi di bilangan Hang Lekir, Jakarta Selatan juga pernah digeledah penyidik KPK terkait kasus dugaan suap PK. Saat penggeledahan itu, Tin diduga merobek-robek sejumlah dokumen dan membuangnya ke toilet. KPK juga menyita uang Rp1,7 miliar dari sana.
Hal itu terungkap dalam sidang dengan terdakwa Dody Aryanto Supeno di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin 15 Agustus 2016 silam. Dalam sidang itu, Nurhadi bersaksi untuk Doddy.
"Iya semua (dokumen yang ditemukan) disobek-sobek istrinya Nurhadi," kata Jaksa Fitroh Rochcahyanto.
"Itu pasti akan didalami pada tahap penyidikan. Kita baru sampai tahap itu," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung Penunjang KPK, Jakarta, Selasa (17/12).
Alex enggan membeberkan sejauh mana peran Tin dalam gelar perkara yang telah dilakukan terhadap tersangka Nurhadi. Ia hanya berujar penyidik bakal mengambil langkah-langkah sesuai dengan kebutuhan."Nanti pasti penyidik akan mengarah ke sana terkait untuk mengumpulkan bukti-bukti itu kan, tapi sejauh mana penyidik akan melakukan penyidikan, saksi siapa yang dipanggil, kemudian akan melakukan penggeledahan dan penyitaan, nanti kan tergantung kebutuhan penyidik," kata Alex.
"Saya secara detail pada ekspose belum merinci uang dari mana saja, yang ini dari mana saja. Yang kita petakan baru satu dari pihak swasta," sambungnya.Diketahui pada tahun 2016, Tin kerap menghiasi pemberitaan media massa. Itu tak lepas dari sengkarut kasus dugaan suap peninjauan kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menjerat suaminya, Nurhadi. Tin maupun Nurhadi juga beberapa kali mondar-mandir ke KPK untuk memenuhi pemeriksaan penyidik, meski mereka lebih banyak bungkam ketika ditanya awak media.
Rumah Tin dan Nurhadi di bilangan Hang Lekir, Jakarta Selatan juga pernah digeledah penyidik KPK terkait kasus dugaan suap PK. Saat penggeledahan itu, Tin diduga merobek-robek sejumlah dokumen dan membuangnya ke toilet. KPK juga menyita uang Rp1,7 miliar dari sana.
Hal itu terungkap dalam sidang dengan terdakwa Dody Aryanto Supeno di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin 15 Agustus 2016 silam. Dalam sidang itu, Nurhadi bersaksi untuk Doddy.
"Iya semua (dokumen yang ditemukan) disobek-sobek istrinya Nurhadi," kata Jaksa Fitroh Rochcahyanto.







0 comments:
Post a Comment