JAKARTA – Pemerintah diimbau segera menyalurkan stimulus ekonomi ke sektor pertanian yang bersifat produktif agar menopang output beberapa
komoditas pangan yang cenderung menurun akibat pandemi Covid-19.
Selain itu, kinerja sektor tanaman pangan juga diperkirakan memburuk
akibat prediksi guncangan penawaran lainnya seperti penurunan
produktivitas tenaga kerja dan risiko variabilitas iklim El Nino pada
produksi pangan.
Demikian hasil penelitian bertajuk Prediksi Berbasis Skenario terhadap Situasi Ekonomi dan Pangan di Indonesia akibat Covid-19, yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dirilis 5 Juni.
Anggota tim peneliti Dikky Indrawan, kepada Koran Jakarta,
Selasa (9/6), mengatakan, berdasarkan hasil penelitian, stimulus yang
digenjot pemerintah saat ini lebih banyak bersifat konsumtif. Meskipun
penting, bantuan sosial, jelasnya, hanya untuk meningkatkan daya beli,
bukan untuk membuat masyarakat produktif.
“Bansos itu kalau pemerintah ada duit, kalau tidak atau habis, maka
dampaknya akan lebih besar. Beda dengan stimulus produktif, petani bisa
bekerja, menjadi lebih produktif, sehingga mereka kuat menghadapi
krisis,” kata Dikky.
Menurut dia, dalam riset menunjukkan dari berbagai skenario tanpa
stimulus ekonomi menunjukkan bahwa indikator ekonomi Indonesia
memburuk. Khusus sektor pangan akan menghadapi masalah jika tidak
dilakukan mitigasi dengan stimulus ekonomi.
Sebab itu, diusulkan agar stimulus ke sektor pertanian tidak hanya
dalam bentuk bantuan sosial, tetapi juga mendorong rumah tangga
perdesaan lebih produktif. Jika stimulus tersebut tepat sasaran
diharapkan bisa mempertahankan ketersediaan pangan.
Beberapa stimulus yang diusulkan antara lain subsidi pupuk dan benih,
obat-obatan, serta sarana dan prasarana pertanian termasuk pembangunan
saluran irigasi dan embung untuk mengantisipasi kekeringan.
Selain itu, juga perlu diberikan subsidi bunga kredit dengan
memperkuat kelembagaan petani melalui koperasi yang bisa menjelma
mengarah ke korporatisasi petani, serta memberdayakan Badan Usaha Milik
Desa (BUMDes).
“Selanjutnya diperlukan juga relaksasi kredit untuk input sektor
pertanian. Untuk sektor peternakan dan perikanan, kebijakan yang
dibutuhkan ialah bantuan pakan ternak, alat tangkap dan sarana serta
prasarana perikanan,” katanya.
Demikian juga dengan program padat karya yang selama ini lebih
banyak ke infrastruktur, sebaiknya diarahkan ke sektor pertanian.
Kucuran stimulus tersebut, paparnya, sangat penting karena selama
pandemi jumlah penduduk di desa meningkat karena penduduk yang
sebelumnya bekerja di sektor informal di perkotaan banyak yang kembali
ke desa. Begitu juga dengan para pekerja migran Indonesia yang kembali
ke dalam negeri.
Kondisi tersebut, kata Dikky, otomatis menambah beban desa sebagai
penyanggah pangan di saat krisis. Makanya, perlu terobosan untuk
memperkuat ketahanan pangan di perdesaan agar produksi kembali
meningkat. Ia pun berharap, stimulus yang tepat sasaran akan memacu
produksi ke depan sehingga mengurangi kebergantungan pangan impor.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Nilai Tukar
Petani (NTP), yang merupakan rasio pendapatan petani terhadap
pengeluaran rumah tangga, turun 0,85 persen menjadi 99,47 pada Mei dari
bulan sebelumnya. Nilai di bawah 100 itu menunjukkan, pengeluaran
petani lebih tinggi dari pendapatan.
Ini artinya, petani mengalami kerugian. Jika dibiarkan terus tanpa
memberi insentif dikhawatirkan mereka akan mengalihkan fungsi lahannya
menjadi properti.
Berdayakan Koperasi
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo,
mengakui bahwa rantai distribusi produk-produk pertanian selama ini
terlalu panjang, sehingga petani kurang memperoleh manfaat yang optimal.
Justru jalur distribusi yang panjang tersebut, katanya, malah
menguntungkan pedagang yang menjadi bagian dari rantai distribusi.
“Ke depan, kita akan memberdayakan koperasi di tingkat kecamatan
agar bisa menaungi klaster-klaster komoditas di beberapa desa, sehingga
memiliki bargaining position (posisi tawar) harga yang lebih baik,” kata Syahrul.
Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri berupaya mengantisipasi lonjakan kebutuhan pangan selama new normal dengan fokus meningkatkan produksi pangan pokok serta kelancaran distribusi.
Selain sisi produksi, pihaknya fokus mempermudah akses transportasi, menjaga stabilisasi harga, mengembangkan buffer stock (stok penyangga) dan intervensi melalui operasi pasar.







0 comments:
Post a Comment