ZAMAN now istilah yang sudah sering kali menggema di telinga. Sudah viral sekali akhir-akhir ini. Khususnya di Indonesia. Kendati demikian, istilah zaman now yang ditayangkan, tak sesuai dengan aturan-aturan Islam yang ada. Para pemuda menjadi incaran, para remaja menjadi buram. Problematika publik tengah merasakan riuhnya pembahasan mengenai anak muda zaman sekarang, atau istilahnya zaman now, semua media sosial baik cetak maupun elektronik seperti menertawakan suramnya masa depan mereka.
Melihat hal demikian, rasanya sangat
ironis sekali peran pemuda dan pemudi merasa kehilangan sosok karakter
yang sebenarnya. Kebobrokan moral yang terus menerus menggerogoti para
remaja. Generasi muda menjadi salah, merasa ditelanjangi oleh
oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Bukannya malah memotivasi
melainkan meracuni para penerus bangsa saat ini. Khususnya para pemuda
dan pemudinya.
Sejatinya ini merupakan pengaruh budaya-budaya
barat yang sengaja untuk membunuh karakter para pemuda dan remaja
Indonesia saat ini. Jadi sangat mungkin untuk menghancurkan pemuda Islam
khususnya melalui pemuda dan remajanya. Mereka hanya perlu terus
dihasut supaya menyimpang dari aturan Islam yang ada.
Hari demi hari, tahun demi tahun, terus saja terjadi perubahan yang sangat signifikan. Dekadensi moral yang terjadi di kalangan pemuda Islam semakin mengkhawatirkan. Kemurnian ajaran Islam yang dulu sangat disakralkan sekarang terkesan biasa saja. Ini menjadi tugas kita bersama untuk membangun kembali peradaban yang lebih baik, khususnya para pemuda dan remaja Islam untuk menjadi lebih baik. Karena pemuda merupakan aset bangsa kita untuk meneruskan generasi selanjutnya atau yang akan datang. Bagaimana kalau seandainya peradaban saat ini berkaca terhadap zaman now yang menggambarkan tidak senonoh terhadap pemuda dan remaja saat ini.
Tidak bisa dibayangkan apabila penerus
seperti demikian menjadi penerus bangsa kita. Bisa hancur dunia ini,
apabila hal tersebut bisa terjadi kalau tidak sesuai dengan aturan
aturan Islam yang ada.
Coba kita renungkan sejarah abad
terdahulu generasi muda Islam yang sangat luar biasa. Supaya menjadi
teladan terbaik untuk semua umat Islam khususnya para pemuda dan remaja.
Catatan-catatan sejarah, di mana Islam selalu mampu melahirkan
generasi-generasi hebat dambaan umat, yang walau di usia belia telah
mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah, mengharumkan nama Islam, dan
membuat Islam memenangkan peradaban. Merekalah yang dengan ribuan pemuda
dan remaja lainnya memperjuangkan dan mendakwahkan Islam dengan
dorongan iman, menghabiskan waktunya siang dan malam untuk kepentingan
Islam, hingga kini kita tetap mampu mereguk manisnya iman dan damainya
Islam saat ini.
Mari tengok kembali kisah Usamah
bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah menjadi komandan pasukan kaum
muslimin dalam penaklukan Syam padahal baru berusia 18 tahun. Atau kisah
Imam Syafi’i yang telah hafal Alquran di usia 9 tahun, serta Ibnu Sina
yang telah hafal Alquran di usia 5 tahun bahkan kemudian mampu menjadi
bapak kedokteran dunia.
Tentu kita tidak akan lupa kisah
heroik Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel yang mampu menjadi
sultan di usia muda. Juga, kisah Zaid bin Tsabit yang dengan gagah
berani berjihad di usianya yang baru 13 tahun. Kemudian diperintahkan
untuk menghimpun wahyu di usia 21 tahun. Itulah generasi muda militan
Islam terdahulu yang gaungnya masih terdengar sampai saat ini.
Apakah tidak mungkin, jika kita
menyamai prestasi gemilang yang telah mereka ukir di zamannya? Tentunya
sangat mungkin untuk kita bisa menyamai mereka. Dengan cara berkomitmen
dan berusaha, serta bersungguh-sungguh untuk menyamai mereka sebagai
pemuda yang telah mengharumkan nama Islam di zamannya. Apabila hal
demikian bisa dicapai dan dilakukan khususnya di Indonesia menjadi
sangat luar biasa untuk bisa mengharumkan bangsa Indonesia.
Bahkan, pengasuh ke-2 Pondok
Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Alm KHR As’ad Syamsul
Arifin pernah mengatakan kepada santrinya bahwa santri bukan hanya
cadangan pesantren tapi juga cadangan pemerintah. Sampai menangis,
beliau mengatakan hal yang demikian karena terlalu sayangnya Kiai As’ad
terhadap santrinya supaya bisa berkontribusi besar terhadap pemerintah
bangsa dan negara.
Kalau melihat era pemuda Islam saat
ini, tak jarang mengikuti tradisi seperti nongkrong di kafe. Mau tidur,
makan, kamar mandi, belanja selalu bawa HP. Ke mana-mana cari wi-fi dan
colokan listrik. Suka selfie pakai tongsis. Lalu diedit pakai aplikasi
kamera jahat. Kemudian diunggah di Instagram. Dan, seragam dikecilin pas
badan. Itu sebagian generasi zaman now yang terus menelanjangi marwah
bangsa dan agama.
Apa bedanya yang ngakunya pemuda
zaman now dengan generasi muda Islam, hingga membuat ketimpangan yang
sungguh nyata antara kepribadian kita dan kepribadian mereka para
pejuang Islam. Bukankah kita juga telah dipuji pemilik kehidupan sebagai
umat terbaik. Sebagaimana Allah SWT berfiman:”Kalian semua adalah umat
yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf,
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali Imran
110).
Sudah seyogianya pemuda dan remaja
bisa melanjutkan perjuangan terdahulu pemuda yang berkarakter, yang
mampu membendung tradisi yang menyimpang dari syariat Islam. Jangan
mengikuti budaya now yang hanya merusak moral peradaban aset bangsa.
Maka perdalamlah ilmu Islam! Ngaji biar mengerti, biar bisa mawas diri.
Sudah tidak zaman pemuda hura-hura lagi sudah waktunya yang muda
semangat cari pahala. Berjuang menegakkan kebenaran. Kita tegakkan
kebenaran di Indonesia. Buktikan pemuda zaman now bisa menjadi pejuang
Islam yang tangguh, bisa mengembalikan kejayaan Islam. Karena,
perjuangan adalah pergerakan.(*)

.gif)