Gegap gempita pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada), saat ini sudah
tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat. Pada tataran ideal
pemilukada bertujuan untuk melakukan pergantian kekuasaan, dengan cara
yang demokratis serta mengikutsertakan rakyat secara langsung untuk
memilih calon pemimpinnya. Sehingga diharapkan akan terpilih sosok
penguasa terbaik pilihan rakyat, berkualitas dan ikhlas mengabdi untuk
daerahnya. Namun kendati demikian, realitasnya masih banyak muncul
distorsi, sehingga Pemilukada tidak lagi bisa diandalkan untuk
memunculkan pimpinan daerah yang berkualitas. Tetapi cenderung hanya
untuk menjadi raja-raja kecil di daerah kekuasaanya.
Terlepas
dari semua motif itu, menjadi seorang kepala daerah tentunya hampir
menjadi dambaan semua pihak, termasuk saya sendiri. Tetapi karena
keterbatasan kemampuan, keinginan itu baru sebatas anggan-angan di dalam
hati. Belajar dari pengalaman saat duduk di bangku kuliah, saya
mencoba meramu konsep strategi di lapangan dengan dicampur aduk dengan
literatur buku yang berkaitan dengan pemenangan kepala daerah. Saya
mencoba menyimpulkan itu dalam beberapa langkah strategis. Sebenarnya
ada banyak cara untuk mengoalkan suatu pasangan calon yang diusung
menang dalam pemilukada, baik secara legal maupun ilegal. Karena harus
kita akui, di dalam pertarungan perebutan kursi kekuasaan, apapun harus
dilakukan yang terpenting kemenangan bisa didapat. Ibarat bermain sepak
bola, meskipun tidak mampu bermain secara terbuka dan memilih stratategi
bertahan, kalau itu kunci kemenangan harus dilakukan. Ingat, dalam
permainan politik itu bukan hanya
permainan cantik yang diperagakan, tetapi hasil akhir pertandingan untuk menentukan sang juara.
Uang Bukan Segala-galanya
Sebelum perang dimulai, langkah yang harus dilakukan dengan melakukan
pemetaan kekuatan parpol. Karena jangan sampai menumpangi perahu yang
tidak jelas dan tidak memiliki kekuatan di masyarakat. Langkah ini
bertujuan agar pencalonan tidak hanya menghabiskan uang tanpi hasil yang
diharapkan. Selanjutnya, sudah bukan rahasia umum lagi, di dunia ini
tidak ada yang gratis. Apalagi hidup di kota-kota besar, mau buang air
kecil saja ada tarifnya. Apalagi mau mencalonkan diri menjadi kepala
daerah. Untuk itu, bagi calon kandadita, iming-imingi parpol dengan
uang. Mainkan opini itu, bahwa calon memiliki simpanan dana yang besar,
atau paling tidak ada sponsor yang siap menyiapkan dana besar untuk
modal Pemilukada. Tak hanya itu, kenyataan di lapangan bahwa kekuatan
uang juga sangat dominan. Itu fakta yang tidak bisa dihindari.
Masyarakat menjadi pragmatis ini, sebenarnya terjadi berkat pendidikan
dan kesalahan para pelaku politik sendiri yang tidak menempati
janji-janji politiknya. Pertanyaan mengapa masyarakat sudah dibutakan
dengan uang? ini terjadi karena masyarakat sudah tidak percaya akan
komitmen calon kepala daerah dengan slogan untuk memperbaiki
kesejahteraan mereka. Yang sudah-sudah, kacang lupa kulitnya. Sehingga
memontum itulah dimanfaatkan oleh masyarakat, untuk meminta kompensasi
baik dalam bentuk uang maupun imbalan lainnya sebelum pemilukada
dilaksanakan. Logis permintaan itu, karena rakyat sekarang sudah cerdas
dan selalu berpikir siapa pun yang jadi pemenang, tidak bakal
berpengaruh bagi kehidupan mereka. Karena itu, mereka meminta imbalan
suara terlebih dulu. Karena itu, lakukanlah pemahaman uang bukanlah
segala-galanya, meski manusia semuanya butuh uang, kecuali binatang.
Membentuk Citra Positif
Langkah selanjutnya, memetakan kecenderungan politik di masyarakat.
Masyarakat atau pemilih pada umumnya belum mengetahui track record
calon, sehingga perlu dibentuk opini yang baik tentang kandidat yang
diusung. Caranya dengan memberikan jawaban dan solusi atas permasalahan
yang terjadi di tengah masyarakat. Itu dilakukan baik oleh tim sukses,
relawan maupun oleh kandidat tersebut. Misalnya, permasalahan di
Kabupaten A, yang paling menonjol adalah kurangnya perhatian di dalam
bidang kesehatan dan pendidikan. Sebagai calon kepala daerah, harus
mampu memberikan jalan keluar untuk agar keluar dari cengkreman masalah
yang membelit masyarakat setempat. Singkatnya, bentuk tim yang mengatur
manajemen isu baik untuk calon maupun untuk lawan. Pantau terus
perkembangan isu tersebut baik dalam opini masyarakat maupun pemberitaan
di media.
Bentuk Tim Sukses
Tak hanya itu, untuk
mempromosikan calon, tidak mungkin bisa berjalan sendiri atau meniru
manajamen tukang bakso. Sehingga perlu dibentuk tim yang profesional,
solid, bisa dipercaya, cerdas, komunikatif dan menguasai lapangan serta
menguasi bidang-bidang yang dibutuhkan. Tim Pemenangan bisa dibentuk
baik dari partai pengusung maupun Tim Khusus sendiri.Pasanglah orang
yang tepat untuk menjadi anggota tim berdasarkan pengaruh kewilayahan
dan mobilitasnya di masyarakat. Contoh ada tim yang bergerak mengawal
dari proses hingga akhir di KPU, PPK atau PPS. Bukan hanya sekedar itu,
tim sukses, relawan juga harus bisa memantau selalu situasi yang
berkembang di masyarakat. Tempat paling strategis untuk menyebarkan isu
maupun memantaunya, adalah tempat-tempat keramaian, pasar, kantor,
warung kopi, pos kamling, perkumpulan warga.
Manfaatkan Media Sosial
Dan juga untuk media komunikasi-sosialisasi jangan bukan hanya
mengandalkan media televisi, iklan di koran, spanduk, baligo, dan media
alat peraga lainnya. Tetapi manfaatkan kemajuan teknologi dewasa ini.
Seperti media jejaring sosil, twitter, facebook, blogspot, BBM, websate
dll. Tujuan semua ini untuk memberi akses informasi kepada masyarakat
melalui dunia maya. Bangun image yang baik tentang calon dalam setiap
kesempatan yang ada, baik saat bertatap muka dengan masyarakat maupun
melalui berbagai media. Lihat Jokowi saat berkampanye sekedar contoh.
Ia mampu memikat media massa hingga gerak-geriknya selalu menjadi bahan
berita (kampanye gratis melalui berita). Bahkan gurauannya juga menilai
bobot berita. Di samping bermain di media. Calon juga harus banyak
berinteraksi dan melakukan pertemuan langsung dengan masyarakat secara
langsung. Tujuan semua ini agar mampu mendongkrak popularitas calon di
masyarakat. Karena salah satu kunci kemenangan juga terukur dari
popularitas dan elektabilitas (keterpilihan) calon. Jangan pernah lumpa
membaca karakteristik pemilih.
Karena biasanya antara daerah satu
dengan wilayah lainnya terjadi perbedaan. Dengan mampu meneropong itu
akan memudahkan jagoan kita masuk merebut hati pemiilih setempat.
Strategi Lawan Petahana (incumbent)
Bila lawan incumbent, maka perlu tenaga ekstra dan kecerdikan luar
biasa. Masalahnya berkaca pada pengalaman data menunjukkan hampir 75
persen pemilukada dimenangkan oleh incumbent. Ini terjadi karena
kekuatan finansial dan pengaruh ke urat nadi masyarakat lebih memadai.
Karena itu, gunakan semua peluang untuk mengurangi pengaruh itu. Lalu
setelah itu, buat isu yang mampu menjatuhkan dan image buruk di tengah
masyarakat, sehingga masyarakat merasa antipati. Lalu selanjutnya
sebelum peperangan di lakukan jangan lupa juga untuk melakukan analisis
SWOT. Untuk membaca kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan dari
masing-
masing kandidat yang akan berlaga. Setelah itu terpetakan, akan mudah bagi pasangan calon untuk melakukan penyerangan.
Penutup
Tentunya masih banyak lagi cara untuk memenangkan Pemilukada ini. Ini
sekedar hanya diskusi ringan, terutama bagi tim sukses yang saat ini
tengah berlangsung di Provinsi Banten dengan empat kota dan
kabupaten lainnya yang secara secara serentak akan dilaksanakan pada
pada 9 Desember 2020 mendatang. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat
dan bukan satu-satunya sumber referensi untuk memangkan pemilukada.
Karena masih banyak cara selain yang dipaparkan di atas. Bagi Provinsi Banten selamat bertarung para jagoan. Dari kelima calon tersebut,
sudah barang pasti yang tampil menjadi pemenang itu hanya satu. Jadilah
pemimpin sesuai dengan harapan rakyat. Dan kepada masyarakat jangan
memilih pemimpin seperti kucing dalam karung. Karena hal ini hanya akan
menyengsarakan rakyat selama lima tahun mendatang. *
Tjejep Saifulah Alam







0 comments:
Post a Comment