< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Halal Bihalal Sebagai Ajang Memperat Silaturahmi

Minggu, 08 Mei 2022 | Minggu, Mei 08, 2022 WIB | Last Updated 2022-05-08T22:24:10Z

 

Drs . Sulaiman Maruf

 Banten  ( Kontak Banten)  Masyarakat muslim Indonesia memiliki tradisi merayakan lebaran Idul Fitri dengan cara menyelenggarakan silaturahmi bersama melalui acara halalbihalal. Isilah halalbihalal memiliki makna mengurai kekusutan, kekeruhan, maupun kesalahan yang telah diperbuat di waktu sebelumnya. Artinya, melalui halalbihalal, diharapkan semua kesalahan melebur, hilang, dan kembali bersih.

Tradisi halalbihalal terus berkembang di Indonesia hingga saat ini. Kata halalbihalal sudah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesai (KBBI) dan memiliki dua arti. Pertama, ialah hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Kedua, juga diartikan sebagai bentuk silaturahmi, biasanya oleh sekelompok orang dengan cara berkumpul di suatu tempat yang luas, bersalam-salaman dan makan bersama.

Dalam rangka  Memperat tali silaturahmi  Keluarga Besar H Mafi  Mancak Melaksanakan agenda rutin   Halal Bihalal yang di laksanakan di Mancak  keluarga besar H Mafi berupaya membangun kebersamaan dalam suasana saling maaf-memaafkan. Acara yang diselenggarakan pada Minggu , 8  Mei 2022  ini  menghadirkan  Drs . Sulaiman Maruf Pimpinan Pondok Pesantren Daar Istiomah 

Rendah Hati, Bersyukur, dan Egaliter

Mengawali acara, sebagai bahan renungan bersama, dilakukan pembacaan ayat suci Al Quran surat Al Fajr ayat 15-30 dilantunkan  mengatakan secara harfiah bulan Ramadan merupakan bulan pembakaran, bulan penyucian dan bulan pembelajaran. Di bulan puasa kita sering diingatkan agar menjadi orang yang bertakwa. Namun, bila dicermati dalam ayat suci Al Quran surat Al Fajr ayat 15-30 yang sudah dilantunkan, sesungguhnya tujuan kita berpuasa selama satu bulan penuh adalah agar kita dapat menjadi orang yang rendah hati dan penuh rasa syukur.

Rendah hati adalah prasyarat mutlak agar kita mau dan terus belajar untuk mencapai kebesaran, yang mana ini merupakan proses yang terus menerus (life long learning).

Selain itu, selama berpuasa kita juga didik untuk menjadi orang yang memiliki kemampuan untuk selalu bersyukur. Bersyukur sangat penting, lebih menghargai hidup yang telah diberikan oleh Tuhan, menjaganya dengan sepenuh jiwa, menjaga kesehatan dan juga peduli dengan keselamatan orang lain. Makna lebih besar bersyukur dalam hidup kita adalah bekerja dan beribadah sebaik-baiknya, mengerjakan kebajikan, serta menunaikan kewajiban ibadah yang diberikan kepada kita. Dengan demikian hidup kita akan jauh lebih bermakna.


                                                

Menjadi Hamba Tuhan yang Sesungguhnya

Pada puncak acara, keluarga besar  mendapat siraman rohani dari KH Drs. Sulaiman Maruf 

 Dalam ceramahnya,  menyampaikan bahwa saat Ramadan datang, sambutan umat Islam dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, orang-orang yang menganggap bulan Ramadan sebagai hal biasa, sama seperti bulan-bulan lainnya, sehingga tidak melakukan persiapan dan ibadah secara khusus. Kedua, bulan Ramadhan disambut dengan suka cita sebagai tamu agung, sehingga ketika masuk bulan Ramadan ada perubahan pada sikap, perilaku, dan perubahan beribadah. Ketiga, adalah mereka yang merasa “tersiksa” dengan datangnya Ramadan, karena kesenangannya dibatasi dan hobinya dilarang.

Selanjutnya, bila Ramadan pergi apa yang akan dirasakan? Untuk kelompok pertama dan ketiga akan merasa senang kegirangan, karena bisa kembali melakukan kesenangan duniawi, namun bagi kelompok kedua akan bersedih karena tamu agungnya sudah pergi.memberikan penguatan, bahwa tidak perlu bersedih bila bulan Ramadan pergi, karena Ramadan akan kembali menemui kita. Namun bersedihlah, bila bulan Ramadan kembali datang tapi posisi kita sudah pergi meninggalkan dunia ini.

Meski demikian, berpesan, “Jadilah hamba Allah yang sebenarnya, dan jangan sekali-kali setiap tahun bertemu bulan Ramahan, tetapi selama itu pula kamu hanya menjadi budaknya bulan Ramadhan”. Kenapa tidak boleh menjadi budaknya Ramadan? “Sebab apabila kamu hanya menjadi budaknya bulan Ramadan, tiap tahun bulan Ramadan datang, kamu hanya menjadi budaknya bulan Ramadan saja, maka pasti ketika bulan Ramadan pergi meninggalkan kamu, maka ajaran-ajaran Allah juga akan ikut pergi bersama perginya bulan Ramadan”.

kemudian menutup ceramah dengan menyatakan bahwa ibadah puasa selama bulan Ramadan seharusnya dapat meningkatkan kualitas keimanan kita, yakni meningkat dari mukmin menjadi muttaqin, yakni insan yang senantiasa bertakwa, menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update