< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

110 Ribu Warga Masih Mengungsi Pascagempa NTT, ISPA dan Diare Mulai Diwaspadai

Senin, 24 Agustus 2026 | Senin, Agustus 24, 2026 WIB | Last Updated 2026-08-24T02:37:14Z

 

Suasana posko pengungsian warga di Lapangan Berdikari Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026). (Dok. PLN)



NTT, KONTAK BANTEN – Ancaman kesehatan mulai membayangi lebih dari 110 ribu warga yang masih bertahan di pengungsian setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain menghadapi gempa susulan dan kehilangan tempat tinggal, para pengungsi kini harus mewaspadai berbagai penyakit yang mudah muncul di lokasi pengungsian.

Kepadatan tempat tinggal, keterbatasan air bersih, serta kondisi sanitasi yang belum optimal menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat 110.785 warga masih mengungsi.

Gempa yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 tersebut menyebabkan 83 orang meninggal dunia, 986 orang luka-luka, dan 45.006 rumah mengalami kerusakan.

BNPB juga mencatat terdapat 4.258 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.

ISPA Jadi Ancaman di Pengungsian

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa kondisi pengungsian pascabencana dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan infeksi kulit.

Kepadatan pengungsi dan kondisi lingkungan menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk mencegah munculnya masalah kesehatan.

ISPA menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena banyak warga berkumpul dalam ruang yang relatif terbatas.

Kontak dekat antarpengungsi dapat mempercepat penularan, terutama apabila ventilasi di dalam tenda atau tempat pengungsian kurang baik.

Warga yang mengalami batuk, pilek, demam atau keluhan pernapasan diimbau segera memperhatikan kondisi tersebut dan memeriksakan diri apabila gejalanya semakin berat.

Air Bersih dan Sanitasi Jadi Perhatian

Selain ISPA, diare juga menjadi ancaman bagi warga yang tinggal di pengungsian.

Keterbatasan air bersih dapat menyulitkan warga menjaga kebersihan tangan, makanan, serta peralatan makan.

Air yang tidak aman untuk diminum maupun digunakan memasak juga dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan.

BNPB melaporkan dukungan kebutuhan air bersih terus diperkuat di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Ende, Nagekeo, dan Sikka.

Kebersihan makanan juga menjadi perhatian. Makanan yang disimpan terlalu lama atau tidak terlindungi dari debu dan lalat berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan.

Infeksi Kulit Juga Perlu Diwaspadai

Kondisi pengungsian yang berlangsung berhari-hari dengan fasilitas mandi dan air bersih terbatas juga dapat meningkatkan risiko infeksi kulit.

Keluhan seperti gatal, ruam, kemerahan hingga luka perlu segera diperhatikan, terutama jika semakin meluas atau disertai demam.

Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, serta warga dengan penyakit kronis membutuhkan perhatian lebih selama berada di pengungsian.

Warga yang memiliki penyakit seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke dan asma juga tetap membutuhkan obat rutin meskipun berada dalam kondisi darurat.

Kesehatan Mental Pengungsi

Selain penyakit fisik, tekanan psikologis juga dapat muncul setelah bencana.

Kehilangan rumah, anggota keluarga maupun rasa aman dapat memicu kecemasan dan gangguan psikologis.

Gejalanya dapat berupa sulit tidur, rasa takut berlebihan, kecemasan hingga perubahan perilaku pada anak.

Karena itu, penanganan pengungsi tidak hanya membutuhkan dukungan medis untuk penyakit fisik, tetapi juga perhatian terhadap kondisi psikologis warga terdampak.

Pos Kesehatan Terus Diaktifkan

Pemerintah telah mengaktifkan pos kesehatan di sejumlah lokasi pengungsian untuk memberikan pelayanan kepada warga terdampak.

Di Desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, pos kesehatan dilaporkan melayani sekitar 90 hingga 120 pasien setiap hari.

Dukungan pelayanan medis juga diperkuat dengan keberadaan KRI Suharso 990 yang memiliki kemampuan operasi medis dan kapasitas rawat inap hingga 75 pasien.

Warga diimbau segera mendatangi pos kesehatan apabila mengalami demam tinggi, sesak napas, diare berulang, muntah terus-menerus, atau gangguan kulit yang semakin parah.

Dengan masih adanya lebih dari 110 ribu warga di pengungsian, pencegahan penyakit menjadi bagian penting dalam penanganan pascagempa NTT. Upaya tersebut diperlukan agar bencana tidak tidak berkembang menjadi krisis kesehatan baru.(TIM )

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update