SERANG, KONTAK BANTEN — Empati sering kali dianggap sebagai sikap sederhana, seperti membantu orang yang sedang kesulitan, mendengarkan keluh kesah teman, atau berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Namun, dalam Islam, empati memiliki makna yang jauh lebih dalam. Empati tidak hanya berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi juga berhubungan dengan keimanan, kasih sayang, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.
Hal tersebut menjadi salah satu tema yang dibahas dalam diskusi antara mahasiswa dan KONTAK BANTEN.CO.ID. Diskusi ini mencoba melihat bagaimana nilai empati dalam ajaran Islam dapat diterapkan dalam kehidupan mahasiswa dan masyarakat sehari-hari.
Mahasiswa: Apakah Empati Hanya Soal Perasaan?
Dalam diskusi tersebut, muncul pertanyaan sederhana.
“Apakah seseorang sudah bisa disebut memiliki empati hanya karena merasa kasihan kepada orang lain?”
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang pada pemahaman bahwa empati bukan sekadar perasaan.
Seseorang mungkin merasa iba ketika melihat orang lain mengalami kesulitan. Namun, empati dalam kehidupan nyata membutuhkan langkah lebih jauh, yakni memahami kondisi orang lain dan berusaha memberikan bantuan sesuai kemampuan.
Dalam perspektif Islam, kepedulian tersebut berkaitan erat dengan konsep rahmah, yaitu kasih sayang, serta ukhuwah, yaitu persaudaraan.
Artinya, seorang Muslim tidak cukup hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada tanggung jawab moral untuk memperhatikan keadaan orang-orang di sekitarnya.
Islam Mengajarkan Kasih Sayang
Dalam diskusi, mahasiswa juga menyoroti bagaimana Islam memberikan dasar yang kuat mengenai kasih sayang.
Allah SWT memiliki nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang menggambarkan sifat kasih sayang. Nilai tersebut menjadi pengingat bagi manusia untuk membangun kehidupan yang penuh kepedulian terhadap sesama.
Nabi Muhammad SAW juga menjadi teladan utama dalam hal tersebut.
Al-Qur'an menggambarkan kepedulian Rasulullah SAW terhadap umatnya dalam QS. At-Taubah ayat 128. Ayat tersebut menggambarkan betapa berat penderitaan umat dirasakan oleh Rasulullah SAW dan betapa besar keinginan beliau agar umatnya memperoleh kebaikan.
Dari keteladanan tersebut, mahasiswa melihat bahwa kepedulian bukan sesuatu yang hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku.
Konsep “Satu Tubuh” dalam Persaudaraan
Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep ukhuwah dalam Islam.
Rasulullah SAW menggambarkan hubungan sesama Muslim seperti satu tubuh. Ketika salah satu bagian tubuh mengalami sakit, bagian tubuh lainnya ikut merasakan dampaknya.
Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa penderitaan seseorang seharusnya tidak dianggap sebagai persoalan yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan orang lain.
Dalam konteks mahasiswa, nilai tersebut dapat diterapkan melalui kepedulian terhadap teman yang mengalami kesulitan ekonomi, masalah pendidikan, persoalan keluarga, maupun berbagai persoalan sosial lainnya.
Islam juga mengajarkan pentingnya mencintai saudara sebagaimana seseorang mencintai dirinya sendiri.
Dengan demikian, ukuran kepedulian bukan hanya apa yang kita inginkan untuk diri sendiri, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Puasa Mengajarkan Kita Merasakan Kesulitan Orang Lain
Salah satu pertanyaan menarik dalam diskusi adalah:
“Mengapa Islam memiliki banyak ibadah yang juga memiliki dampak sosial?”
Puasa menjadi salah satu contohnya.
Ketika menjalankan puasa, seseorang merasakan lapar dan haus. Pengalaman tersebut dapat menjadi sarana untuk memahami bahwa bagi sebagian masyarakat, rasa lapar bukan sekadar pengalaman selama beberapa jam, tetapi dapat menjadi persoalan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan makan dan minum, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap orang yang membutuhkan.
Nilai tersebut kemudian dapat dilanjutkan melalui zakat, sedekah, dan wakaf.
Zakat dan Sedekah: Empati yang Diwujudkan
Empati akan memiliki makna yang lebih besar ketika diwujudkan dalam tindakan.
Islam memberikan berbagai instrumen sosial, salah satunya melalui zakat dan sedekah.
Mahasiswa dalam diskusi melihat bahwa berbagi tidak selalu harus menunggu seseorang memiliki kekayaan yang besar.
Bantuan dapat diberikan sesuai kemampuan. Memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, membantu teman yang kesulitan, menggalang bantuan bagi korban bencana, hingga meluangkan waktu untuk kegiatan sosial merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, empati tidak selalu berbentuk uang.
Jangan Sampai Kenyang Sendiri
Dalam kehidupan bermasyarakat, kepedulian juga dimulai dari lingkungan terdekat.
Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan dengan tetangga. Kepedulian tersebut menjadi penting karena kehidupan seseorang tidak pernah benar-benar terpisah dari lingkungan sosialnya.
Karena itu, mahasiswa menilai bahwa persoalan empati sebenarnya dapat dimulai dari pertanyaan sederhana:
“Apakah orang di sekitar kita sedang membutuhkan bantuan?”
Pertanyaan tersebut dapat mendorong seseorang untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan.
Sebab, terkadang seseorang terlalu sibuk dengan persoalan dirinya sendiri hingga tidak menyadari bahwa ada orang lain yang sedang mengalami kesulitan di dekatnya.
Bagaimana Mahasiswa Membangun Empati?
Diskusi kemudian diarahkan pada kehidupan mahasiswa.
Sebagai kelompok yang hidup di lingkungan akademik dan sosial, mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk membangun budaya empati.
Pertama, melalui tafakkur dan tadabbur, yaitu membiasakan diri merenungkan kehidupan dan mengambil pelajaran dari kondisi orang lain.
Kedua, melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Mahasiswa dapat terlibat dalam kegiatan sosial, mengunjungi orang sakit, membantu anak yatim, menjadi relawan, melakukan kegiatan literasi, atau ikut membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Interaksi langsung tersebut dapat membuat seseorang memahami persoalan masyarakat secara lebih nyata.
Ketiga, mahasiswa perlu belajar mengendalikan sifat ananiyah, atau sikap mementingkan diri sendiri.
Islam juga mengenal konsep itsar, yakni mendahulukan kepentingan orang lain dalam kondisi tertentu meskipun seseorang sendiri memiliki kebutuhan.
Empati di Era Media Sosial
Dalam diskusi bersama KONTAK BANTEN.CO.ID, pembahasan juga menjadi relevan dengan kehidupan digital.
Saat ini, seseorang dapat mengetahui penderitaan orang lain hanya melalui layar telepon genggam.
Namun, melihat sebuah unggahan tentang seseorang yang membutuhkan bantuan tidak otomatis berarti kita telah berempati.
Empati membutuhkan kesadaran dan tindakan.
Setidaknya, seseorang dapat memberikan dukungan, menyebarkan informasi yang benar, menghindari komentar yang menyakiti, atau membantu sesuai kemampuan.
Di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai sekadar tontonan.
Dari Diskusi Menjadi Gerakan
Pada akhirnya, pembahasan tentang empati dalam Islam tidak berhenti pada teori.
Nilai rahmah, ukhuwah, dan kepedulian sosial harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Mahasiswa dapat memulainya dari lingkungan paling dekat: teman kuliah, keluarga, tetangga, organisasi, hingga masyarakat.
Empati juga tidak harus selalu diwujudkan melalui tindakan besar.
Mendengarkan seseorang yang sedang menghadapi masalah, membantu teman memahami pelajaran, berbagi makanan, mengunjungi orang sakit, membantu masyarakat yang kesulitan, atau memberikan waktu untuk kegiatan sosial merupakan langkah sederhana yang memiliki nilai kemanusiaan.
Dari diskusi tersebut, satu hal menjadi penting untuk direnungkan:
Jika Islam mengajarkan kasih sayang, sudah sejauh mana kasih sayang itu terlihat dalam kehidupan kita?
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi bersama bahwa keberagamaan tidak hanya terlihat dari hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga tercermin dalam bagaimana seseorang memperlakukan manusia dan makhluk lainnya.
Sebab, empati bukan hanya tentang mampu merasakan kesulitan orang lain, tetapi juga memiliki kemauan untuk hadir dan membantu ketika kita mampu melakukannya.
Bagi mahasiswa, nilai tersebut dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter. Bagi masyarakat, empati dapat menjadi fondasi kehidupan sosial yang lebih peduli, saling membantu, dan menjunjung semangat gotong royong.
Dan bagi setiap Muslim, kepedulian kepada sesama merupakan salah satu cara menghadirkan nilai kasih sayang Islam dalam kehidupan sehari-hari.
OLEH SHARIFA Ketua Kebijakan Publik Jakarta


.gif)