PANDEGLANG KONTAK BANTEN — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pandeglang mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada Agustus 2026 mencapai 3,94 persen.
Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Agustus 2025, inflasi tahunan Pandeglang tercatat sebesar 2,53 persen, sedangkan pada Agustus 2024 hanya 1,72 persen.
Seiring kenaikan harga tersebut, Indeks Harga Konsumen (IHK) Pandeglang meningkat dari 107,56 pada Agustus 2025 menjadi 111,80 pada Agustus 2026.
Kepala BPS Kabupaten Pandeglang, Achmad Widijanto, mengatakan kenaikan IHK tersebut mencerminkan inflasi tahunan sebesar 3,94 persen.
"IHK kita naik dari 107,56 pada Agustus 2025 menjadi 111,80 pada Agustus 2026. Kalau dihitung tahunan, itu setara inflasi 3,94 persen," kata Widijanto, Selasa (1/9/2026).
Hampir Semua Kelompok Pengeluaran Mengalami Kenaikan
Menurut Widijanto, kenaikan harga terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mencatat inflasi tertinggi, yakni 8,56 persen.
Selanjutnya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 6,40 persen, sedangkan kelompok transportasi mencapai 6,12 persen.
Meski demikian, tingginya inflasi suatu kelompok tidak selalu berarti menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum.
Makanan Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar
Dari sisi andil terhadap inflasi umum, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 2,09 persen.
Kemudian disusul kelompok perlengkapan rumah tangga dengan andil 0,51 persen dan kelompok transportasi sebesar 0,45 persen.
Besarnya kontribusi kelompok pangan menunjukkan bahwa pergerakan harga kebutuhan sehari-hari masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi inflasi di Pandeglang.
Harga Daging Ayam Naik Paling Besar
BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi terhadap kenaikan inflasi Pandeglang selama setahun terakhir.
Daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil terbesar, yakni 0,64 persen.
Setelah itu terdapat sejumlah komoditas lain seperti emas perhiasan, minyak goreng, bensin, dan ikan kembung.
"Selain daging ayam ras, ada juga beras, sigaret kretek mesin, cabai rawit, jeruk, sampai ikan tongkol. Semuanya kompak naik dan menyumbang ke inflasi tahunan," ujarnya.
Kenaikan harga berbagai komoditas tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap biaya hidup masyarakat.
Pandeglang Inflasi Tertinggi Kedua di Banten
Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Banten, inflasi tahunan Pandeglang pada Agustus 2026 berada di posisi kedua tertinggi.
Kabupaten Lebak mencatat inflasi tertinggi dengan 4,00 persen, hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Pandeglang.
Sementara itu, Kota Tangerang menjadi daerah dengan inflasi terendah di Banten, yakni 2,29 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan tekanan harga antarwilayah di Provinsi Banten.
Inflasi Pandeglang Fluktuatif Sepanjang 2026
BPS mencatat pergerakan inflasi tahunan Pandeglang sepanjang 2026 cenderung fluktuatif.
Inflasi sempat melonjak hingga 5,86 persen pada Februari 2026. Setelah itu, angkanya turun dan berada di kisaran 3 persen pada April hingga Juli.
Namun, pada Agustus 2026, inflasi kembali meningkat menjadi 3,94 persen.
Achmad mengatakan BPS akan terus memantau perkembangan harga, khususnya komoditas pangan yang memiliki kontribusi besar terhadap inflasi.
"Kami akan terus memantau pergerakan harga, terutama komoditas pangan yang punya andil besar seperti daging ayam dan beras, karena itu yang paling langsung dirasakan masyarakat," ujarnya.(TIM)

.gif)