SERANG KONTAK BANTEN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten memperpanjang pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) hingga Jumat, 11 September 2026.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang sebelumnya menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah Banten.
Sebelumnya, PJJ diberlakukan pada 7–9 September 2026. Namun, setelah melakukan pemantauan terhadap kualitas udara dan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Pemprov Banten memutuskan memperpanjang PJJ hingga Jumat.
Keselamatan Siswa Jadi Prioritas
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, meskipun kualitas udara mulai membaik, pemerintah masih harus meningkatkan kewaspadaan, terutama untuk melindungi anak-anak dari paparan abu vulkanik.
“Kami telah memantau kualitas udara dan sampai saat ini memang kualitas udara kita lebih baik daripada sebelumnya. Tetapi kita masih harus mewaspadai khususnya untuk anak-anak, maka kami memutuskan PJJ dilanjutkan sampai dengan hari Jumat 11 September 2026,” kata Andra Soni di Pos Pemantauan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau, Kabupaten Serang, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, keputusan memperpanjang PJJ juga mempertimbangkan kondisi kesehatan masyarakat setelah terjadinya erupsi.
Kasus ISPA Melonjak Lebih dari 4.000
Salah satu pertimbangan utama Pemprov Banten adalah adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Andra mengatakan, dalam kondisi normal kasus ISPA berada di kisaran 1.000 hingga 2.000 kasus. Namun, setelah dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, jumlah kasus dilaporkan meningkat menjadi lebih dari 4.000 kasus.
“Kami juga mendapatkan laporan terjadi kenaikan ISPA. Dalam situasi normal sekitar 2.000-an, sekarang meningkat 4.000 lebih,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Dipantau
Andra mengatakan, masyarakat tetap perlu mewaspadai aktivitas Gunung Anak Krakatau meskipun erupsi tidak lagi berlangsung secara terus-menerus.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi secara terus-menerus selama sekitar 25 jam, mulai Jumat malam hingga Sabtu tengah malam.
Setelah aktivitas tersebut mereda, erupsi kembali terjadi beberapa kali dengan durasi yang relatif singkat. Gunung juga masih mengeluarkan abu dan material vulkanik.
“Perbedaannya erupsinya tidak terus-menerus dan hanya berlangsung beberapa detik. Sejak erupsi terus-menerus tersebut terpantau erupsi tujuh kali dengan durasi beberapa detik dan saat ini masih mengeluarkan abu dan material,” kata Andra.
Warga Diminta Batasi Aktivitas di Luar Rumah
Pemprov Banten meminta masyarakat tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko menghirup abu vulkanik.
Perpanjangan PJJ hingga 11 September 2026, menurut Pemprov Banten, bukan hanya berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga merupakan langkah pencegahan untuk melindungi siswa dari paparan abu vulkanik dan potensi gangguan pernapasan.
Dengan kebijakan tersebut, proses pembelajaran tetap berlangsung dari rumah sambil pemerintah memantau perkembangan kualitas udara dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.(TIM HN)

.gif)