< >

Notification

×

Iklan

Iklan

🌤️ Info Cuaca & Gempa
Cuaca Banten
Sumber: BMKG
Gempa Terkini

Tag Terpopuler

Sandal Jelek yang Mengantarkan ke Surga, Kisah tentang Qanaah dan Menjauhi Iri Hati

Rabu, 09 September 2026 | Rabu, September 09, 2026 WIB | Last Updated 2026-09-09T16:00:18Z

 
 

Bukan Kemewahan, Ketulusan dan Hati yang Bersih Menjadi Pelajaran dari Kisah Seorang Ahli Surga

KISAH ISLAMI — Kehilangan sandal setelah menunaikan salat Jumat mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun, bagi orang yang mengalaminya, kehilangan alas kaki bisa menjadi pengalaman yang cukup merepotkan. Terlebih ketika harus berjalan pulang tanpa sandal di tengah panasnya jalan.

Sandal memang sederhana. Harganya pun tidak selalu mahal. Namun, benda yang sering berada di bawah dan diinjak-injak itu memiliki fungsi penting untuk melindungi kaki dari batu, pecahan kaca, benda tajam, hingga panasnya permukaan jalan.

Ada pelajaran menarik dari sebuah kisah yang sering disampaikan dalam nasihat keislaman. Sandal yang jelek dan rusak justru dikaitkan dengan sosok seorang lelaki yang disebut sebagai ahli surga.

Lelaki Bersandal Jelek yang Membuat Para Sahabat Penasaran

Dikisahkan, suatu hari para sahabat Nabi Muhammad SAW sedang duduk di serambi masjid.

Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan bahwa akan ada seorang ahli surga yang melewati mereka dengan mengenakan sandal yang jelek.

Para sahabat tentu penasaran. Mereka ingin mengetahui siapa sosok yang dimaksud Rasulullah SAW.

Tak lama kemudian, lewat seorang laki-laki dengan sandal yang tampak rusak dan nyaris tidak layak digunakan. Namun, para sahabat belum yakin bahwa lelaki tersebut adalah orang yang dimaksud.

Lelaki itu kembali terlihat melintas di hadapan mereka. Sandal jelek yang dikenakannya masih sama.

Setelah beberapa kali melihatnya, para sahabat akhirnya menyadari bahwa lelaki tersebut kemungkinan besar adalah orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai ahli surga.

Rasa penasaran membuat mereka berusaha mengetahui apa yang membuat lelaki tersebut memiliki keistimewaan.

Tiga Hari Tinggal Bersama

Para sahabat kemudian mengikuti lelaki tersebut hingga ke rumahnya. Mereka melihat rumah yang sederhana dan tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa.

Para sahabat kemudian meminta izin untuk tinggal bersamanya selama tiga hari agar dapat melihat kebiasaan sehari-harinya.

Lelaki tersebut mengizinkan.

Selama tiga hari, para sahabat memperhatikan kehidupannya. Mereka melihat lelaki itu salat, membaca Al-Qur'an, berzikir dan bersedekah sebagaimana seorang muslim pada umumnya.

Tidak ada amalan khusus yang terlihat sangat berbeda.

Salat dilakukan di masjid, membaca Al-Qur'an dilakukan pada waktu tertentu, zikir dilakukan setelah salat fardu, sementara sedekah dilakukan ketika memiliki rezeki lebih.

Hari kedua dan ketiga pun berlangsung dengan pola yang sama.

Para sahabat akhirnya semakin penasaran.

Jika tidak ada amalan yang terlihat luar biasa, apa yang membuat Rasulullah SAW menyebut lelaki tersebut sebagai ahli surga?

Kunci Keistimewaannya Ada di Dalam Hati

Setelah tiga hari, para sahabat akhirnya menanyakan hal tersebut secara langsung.

Lelaki itu kemudian menjelaskan bahwa dirinya berusaha menerima kehidupan yang diberikan Allah SWT dengan ikhlas.

Ia tidak merasa iri terhadap kehidupan tetangganya yang lebih baik. Menurutnya, rezeki yang diperoleh orang lain merupakan ketentuan Allah SWT untuk mereka.

Ia juga berusaha menjauhkan diri dari sifat dengki.

Inilah pelajaran utama dari kisah tersebut: kebaikan seseorang tidak selalu terlihat dari banyaknya harta, kemewahan, atau amalan yang tampak oleh manusia. Kebersihan hati, keikhlasan, qanaah, dan menjauhi iri serta dengki juga memiliki nilai yang sangat besar.

Sandal Jelek, Pelajaran tentang Qanaah

Sandal jelek dalam kisah tersebut bukan berarti seseorang harus sengaja memakai barang buruk atau hidup tanpa berusaha menjadi lebih baik.

Yang lebih penting adalah pesan moral di baliknya. Qanaah bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menerima rezeki Allah dengan lapang dada setelah berikhtiar.

Kita boleh memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang nyaman, pakaian yang baik maupun alas kaki yang berkualitas. Namun, semua itu tidak semestinya membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Sebaliknya, ketika melihat orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik, kita tidak perlu iri. Kita dapat menjadikannya motivasi sekaligus meyakini bahwa setiap manusia memiliki rezeki dan jalan hidup masing-masing.

Kehilangan sandal saat salat Jumat mungkin hanya persoalan kecil. Tetapi dari hal sederhana itu, kita bisa belajar tentang kesabaran, keikhlasan, tawadhu, qanaah, dan pentingnya menjaga hati dari iri serta dengki.

Sebab, kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh mahal atau buruknya sandal yang dipakai, melainkan oleh iman, akhlak, amal, dan kebersihan hatinya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Level Pembaca
Peraturan Sistem
Sistem berjalan otomatis saat pembaca berada di halaman artikel.
Setiap satu menit membaca mendapatkan sepuluh poin pengalaman.
Jika mencapai seratus poin maka level naik otomatis.

Struktur Level:
Level 0 Pengunjung Baru
Level 1 sampai 2 Pembaca Pemula
Level 3 sampai 5 Pembaca Aktif
Level 6 sampai 9 Pembaca Setia
Level 10 sampai 14 Kontributor
Level 15 ke atas Master Berita
Tulis Komentar
Komentar Pembaca
×
Berita Terbaru Update