Ada orang yang takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan kepedulian.
Ada yang begitu sibuk menjaga hartanya agar tidak berkurang, sampai lupa bahwa kehidupan tidak hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang apa yang pernah diberikan.
Kita mungkin pernah bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya benar-benar sedang menjaga harta, atau justru harta yang sedang menguasai hati saya?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal istilah pelit atau kikir. Dalam Islam, sifat ini dikenal dengan istilah bakhil. Bakhil bukan sekadar enggan mengeluarkan uang. Lebih dalam dari itu, bakhil adalah keadaan ketika seseorang begitu berat memberikan sesuatu yang sebenarnya menjadi hak, kebutuhan, atau kebaikan bagi orang lain—baik berupa harta, tenaga, waktu, maupun ilmu.
Ketika Memberi Terasa Lebih Berat daripada Menyimpan
Salah satu hal yang paling sering membuat manusia enggan berbagi adalah rasa takut.
Takut hartanya berkurang. Takut suatu hari dirinya kekurangan. Takut apa yang dimiliki tidak cukup untuk masa depan.
Al-Qur'an mengingatkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 268 bahwa setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan, sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia.
Barangkali di sinilah ujian terbesar manusia.
Bukan ketika kita tidak memiliki apa-apa, tetapi ketika kita memiliki sesuatu dan harus memutuskan: apakah akan menyimpannya untuk diri sendiri atau berbagi dengan orang yang membutuhkan?
Sebab terkadang, yang sulit dilepaskan bukanlah uangnya, melainkan rasa takut di dalam hati.
Harta Tidak Pernah Benar-Benar Menjadi Milik Kita
Islam mengajarkan bahwa manusia membutuhkan karunia Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan harta manusia.
QS. Muhammad ayat 38 mengingatkan bahwa orang yang kikir pada hakikatnya sedang berlaku kikir terhadap dirinya sendiri.
Pesannya begitu dalam.
Ketika seseorang bersedekah, membantu keluarga, menolong tetangga, memberikan makanan kepada yang lapar, atau menyisihkan sebagian hartanya untuk orang yang membutuhkan, sesungguhnya ia tidak sedang "kehilangan".
Ia sedang belajar melepaskan sesuatu yang memang tidak akan dibawanya ketika kehidupan dunia berakhir.
Karena pada akhirnya, rumah yang besar akan ditinggalkan.
Kendaraan akan ditinggalkan.
Tabungan akan ditinggalkan.
Harta yang selama ini dijaga dengan susah payah pun akan berpindah tangan.
Yang tersisa adalah apa yang pernah kita lakukan dengan harta tersebut.
Jangan Sampai Kita Hanya Memberikan yang Tidak Kita Sukai
Ada satu pelajaran penting dari QS. Al-Baqarah ayat 267. Allah memerintahkan orang beriman untuk menginfakkan sebagian dari hasil usaha yang baik dan melarang memilih sesuatu yang buruk untuk diberikan, padahal diri sendiri pun tidak mau mengambilnya.
Ini mengajarkan bahwa berbagi bukan sekadar soal memberi.
Tetapi juga tentang ketulusan.
Jangan sampai kita memberikan kepada orang lain sesuatu yang sudah tidak kita inginkan, sementara barang yang baik justru kita simpan rapat-rapat untuk diri sendiri.
Sebab orang yang menerima pemberian kita juga memiliki harga diri.
Berbagi seharusnya menjadi bentuk penghormatan kepada sesama manusia, bukan sekadar membuang sesuatu yang sudah tidak berguna.
Kikir Tidak Selalu Terlihat dari Banyaknya Uang
Seseorang bisa saja memiliki harta yang banyak, tetapi tetap merasa kekurangan.
Sebaliknya, seseorang yang sederhana bisa memiliki hati yang lapang.
Sifat kikir juga tidak selalu terlihat dari isi rekening. Ia bisa muncul dari kebiasaan menunda kewajiban, enggan membantu keluarga, berat membayar utang padahal mampu, selalu mencari alasan untuk tidak menolong, atau tidak peduli terhadap kesulitan orang lain.
Bahkan, seseorang bisa kikir terhadap waktu, tenaga, perhatian, dan ilmu yang dimilikinya.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya:
"Berapa banyak yang saya punya?"
Tetapi:
"Seberapa banyak yang bersedia saya bagikan?"
Ketika Orang Lain Membutuhkan Kita
Bayangkan seorang anak yang membutuhkan biaya pendidikan.
Bayangkan seorang ibu yang harus memilih antara membeli makanan atau membayar kebutuhan lainnya.
Bayangkan seorang tetangga yang sedang sakit tetapi tidak memiliki cukup biaya.
Bagi kita, mungkin sedikit.
Tetapi bagi mereka, bisa jadi sangat berarti.
Satu makanan yang kita berikan mungkin hanya mengurangi sedikit isi dompet kita, tetapi bisa menghilangkan lapar seseorang.
Sedikit bantuan mungkin tidak mengubah seluruh hidup seseorang, tetapi dapat membuatnya merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Di situlah nilai sebuah pemberian.
Bukan hanya pada jumlahnya, tetapi pada ketulusan dan manfaatnya.
Kikir Tidak Hanya Menyakiti Orang Lain
Materi yang menjadi dasar tulisan ini juga menekankan bahwa sifat kikir dapat berdampak kepada diri sendiri. Ia dapat mengurangi keberkahan hidup, melemahkan empati, membuat seseorang terus-menerus khawatir terhadap hartanya, serta mempersempit cara pandang terhadap kehidupan.
Orang yang terlalu takut hartanya berkurang bisa kehilangan kesempatan menikmati kebahagiaan yang lahir dari berbagi.
Ironisnya, ada orang yang sepanjang hidupnya mengumpulkan harta agar merasa aman, tetapi justru tidak pernah merasa cukup.
Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar ketakutannya kehilangan.
Akhirnya, harta yang seharusnya menjadi sarana kehidupan justru berubah menjadi sumber kegelisahan.
Mari Bertanya kepada Diri Sendiri
Mungkin kita tidak merasa sebagai orang kikir.
Namun sesekali, tidak ada salahnya kita berhenti dan bertanya:
Apakah saya sudah menunaikan kewajiban kepada orang yang menjadi tanggungan saya?
Apakah saya masih berat membantu orang yang benar-benar membutuhkan?
Apakah saya hanya memberikan sesuatu yang sudah tidak saya sukai?
Apakah saya terlalu takut miskin sehingga lupa bahwa rezeki berasal dari Allah?
Dan yang paling penting:
Jika hari ini Allah mengambil semua yang saya miliki, apa yang sudah saya tinggalkan sebagai kebaikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi jawabannya dapat menjadi cermin bagi hati kita.
Belajar Memberi, Sedikit Demi Sedikit
Menghilangkan sifat kikir tentu tidak selalu mudah.
Karena itu, perubahan dapat dimulai dari hal kecil.
Biasakan bersedekah secara teratur, meskipun jumlahnya tidak besar. Tunaikan zakat ketika telah memenuhi ketentuan. Bantu keluarga ketika mereka membutuhkan. Sisihkan makanan untuk orang lain. Luangkan waktu untuk mendengarkan seseorang yang sedang kesulitan.
Dan jangan lupa, berbagi tidak selalu membutuhkan uang.
Senyum, ilmu, tenaga, waktu, perhatian, dan kepedulian juga merupakan bentuk pemberian.
Semakin sering seseorang memberi dengan ikhlas, semakin ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari memiliki lebih banyak, tetapi juga dari menjadi manfaat bagi orang lain.
Pada Akhirnya, Kita Semua Akan Pulang
QS. Al-Lail ayat 8-10 mengingatkan tentang orang yang kikir, merasa dirinya cukup, dan mendustakan kebaikan. Sementara QS. Muhammad ayat 38 mengingatkan bahwa orang yang kikir sesungguhnya sedang berlaku kikir terhadap dirinya sendiri.
Maka mungkin sudah waktunya kita mengubah cara memandang harta.
Harta bukan hanya sesuatu yang harus disimpan.
Harta juga bisa menjadi jalan untuk menolong.
Bukan hanya menjadi alat untuk membeli kenyamanan, tetapi juga menjadi jalan menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan pulang.
Tidak ada satu pun dari kita yang membawa seluruh isi rumah, rekening, kendaraan, atau kekayaan ke dalam kubur.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal.
Maka jangan sampai tangan kita begitu kuat menggenggam harta, tetapi terlalu lemah untuk mengulurkan pertolongan.
Jangan tunggu menjadi kaya untuk berbagi. Jangan tunggu memiliki banyak untuk berbuat baik.
Sebab bisa jadi, sesuatu yang menurut kita kecil justru menjadi sangat besar nilainya di sisi Allah.
Dan mungkin, pada akhirnya, bukan harta yang berkurang karena kita memberi.
Bisa jadi, justru hati kita yang menjadi lebih kaya.
USTD Abdul Nur Ikhsan

.gif)