JAKARTA-Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah usai. Ajang tersebut telah
menciptakan ruang perbedaan dan terkadang perselisihan di antara
kontestan dan para pendukungnya. Tak hanya di dunia nyata, mereka juga
sengit di dunia maya.Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan presiden dan wapres
terpilih. Kini saatnya membangun gerakan rekonsiliasi agar suasana
kembali tenang. Untuk itu peran para tokoh sangat penting untuk
mewujudkan itu.Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta,
Oman Fathurrahman meminta kepada para tokoh bangsa untuk bisa
bersama-sama menciptakan rasa tentram saat berbicara di media sosial
demi menjaga persatuan bangsa.
"Saya kira para tokoh ini semangatnya harus bisa menciptakan rasa
tentram. Para tokoh ini ketika bermain di media sosial itu juga jangan
terbawa perasaan (baper) saat dikritik. Jangan terlalu diambil hati atau
bersikap emosional kalau ada masyarakat yang mengomentari dengan
kata-kata yang agak sinis dan sebagainya akibat dari ucapannya," ujar
Oman dalam keterangannya, Minggu (7/7).
Dia mengingatkan kepada siapa pun jangan menyampaikan pendapat di
media sosial yang justru memprovokasi. Menurutnya, ini harus dihindari
para tokoh agar tensi di tengah masyarakat tak memanas lagi.
"Apalagi usai pilpres ini sangat penting sekali bagi para tokoh untuk
bisa mendinginkan dan menentramkan suasana yang kemarin sempat membuat
masyarakat kita terpecah," tuturnya.
Menurutnya, dalam menyampaikan kebenaran itu sejatinya banyak cara
dengan cara yang keras, tidak bijak, dan bisa dengan cara yang bijak.
Untuk itu dirinya menitipkan tiga kunci pokok yang harus dipahami para
tokoh untuk menyampaikan sesuatu yang dianggap benar, yakni berilmu,
berbudi dan berhati-hati
"Pertama, berilmu. Sampaikan sesuatu itu dengan berilmu, dengan
pengetahuan sesuai kapasitasnya sehingga tidak miss-leading. Kedua,
berbudi yaitu ketika menyampaikannya juga dengan arif, santun dan
bijaksana, tidak dengan provokatif. Ketiga, berhati-hati. Siapa tahu
ketika sampai suatu informasi ke kita, ternyata setelah buru-buru kita
posting, karena kita tidak hati-hati dan ternyata itu keliru bisa
membuat suasana menjadi tidak baik dan memanas," jelasnya.
Pasca-Pilpres, lanjutnya, sebagai warga negara tentunya perlu
mengembalikan lagi cara pandang kita yang substantif dalam hal
keagamaan. Menurutnya, masyarakat jangan hanya terpaku pada keadaan yang
ada di dunia maya saja yang dapat membuat situasi menjadi panas.
"Sebetulnya di media sosial itu juga sama di alam yang menyatakan
bahwa kita ini satu kesatuan bangsa Indonesia. Saya kira itu yang harus
kita junjung bersama," kata Oman.
Diakuinya meski sudah ada putusan MK terkait sengketa Pilpres dan
ketetapan pemenang Pilpres namun di media sosial masih saja timbul
ujaran kebencian dan provokasi.
"Dalam konteks Pilpres musuh bersama kita itu bukan lagi 01 atau 02.
Musuh bersama kita sekarang ini adalah intoleransi, ujaran kebencian dan
juga sikap fanatik yang berlebihan. Tentunya itu yang harus kita lawan
bersama guna membangun kebersamaan dan persatuan," tandasnya.







0 comments:
Post a Comment