JAKARTA – Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang
mendapatkan dukungan mayoritas rakyat, diharapkan tidak lagi
menyia-nyiakan dana masyarakat, baik yang di perbankan maupun APBN,
untuk sektor nonproduktif seperti kredit properti dan impor pangan
serta barang konsumsi.
Pengamat ekonomi politik dari Kaukus Muda Indonesia, Edi Humaidi,
mengungkapkan dalam lima tahun ke depan, Presiden Jokowi mesti memilih
menteri ekonomi yang hebat dan mampu mengubah paradigma dari ekonomi
konsumsi menjadi ekonomi produksi.
“Bertahun-tahun kredit perbankan banyak digunakan untuk sektor properti hingga cenderung bubble dan kini outstanding kredit-nya mencapai 900 triliun rupiah,” papar Edi, ketika dihubungi, Jumat (5/7). (Lihat infografis)
Sedangkan di keuangan negara, lanjut dia, APBN yang dihimpun dari
pajak rakyat tidak mungkin lagi menanggung beban utang Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dalam bentuk obligasi rekapitalisasi
perbankan.
“Saat ini, utang obligasi rekap sudah menggunung. Dari sekitar
600–700 triliun rupiah saat diterbitkan, kini nilainya mencapai
kira-kira 4.500 triliun rupiah. Ini bisa terjadi karena akumulasi bunga
berbunga selama belasan tahun,” jelas dia.
Setiap tahun, pajak rakyat yang terkumpul dalam APBN harus digunakan
untuk membayar bunga obligasi rekap sekitar 70 triliun. Ironisnya,
rakyat tidak ikut menikmati utang BLBI tersebut. “Oleh karena itu,
pembayaran bunga obligasi rekap mesti dimoratorium, setidaknya selama
tujuh tahun,” tukas Edi.
Kemudian, lanjut dia, pemerintah bisa memanfaatkan dana APBN itu
untuk sektor produktif, seperti untuk modal ekonomi perdesaan, bukan
untuk subsidi bank yang langgar aturan sehingga gagal karena abusement, dan melahirkan skandal BLBI.
“Belanja modal yang tidak produktif diubah jadi produktif. Dari kredit bubble properti ke pertanian dan sektor riil yang menghasilkan pangan,” kata dia.
Dengan demikian, imbuh Edi, konsumsi pangan rakyat tidak lagi impor,
tapi dari produksi nasional petani sendiri. Ini bisa menjadi sumber
penghasilan dan kenaikan taraf hidup rakyat petani yang hampir
mencapai 70 juta jiwa.
“Intinya, pemerintahan Pak Jokowi harus mampu menghapus impor pangan
yang nilainya berkisar 12–15 miliar dollar AS setahun. Jangan habiskan
devisa hanya untuk urusan perut. Dana sebesar itu akan sangat dahsyat
dampaknya jika digunakan untuk modal pertanian pangan kita. Jika untuk
impor pangan, yang menikmati petani negara eksportir,” tukas dia.
Selain itu, lanjut Edi, APBN juga semestinya diarahkan untuk
industri substitusi impor barang-barang konsumsi yang sebenarnya bisa
diproduksi di dalam negeri. “Kebergantungan pada impor sudah parah.
Bahkan, hampir 90 persen barang di e-commerce berasal dari impor,” tutur dia.
Butuh Terobosan
Pakar Politik dari Universitas Brawijaya, Wawan Sobari, mengemukakan
kabinet Presiden Jokowi pada periode kedua pemerintahannya perlu diisi
oleh menteri-menteri yang tidak hanya terbaik dan hebat, tapi juga
berani melakukan terobosan. Sebab, beban pemerintahan ke depan sangat
berat.
“Bagaimanapun dalam politik, government formation pascapemilu
perlu diperhatikan karena selama ini salah satu tujuan koalisi adalah
untuk membangun stabilitas pemerintahan,” jelas dia.
Akan tetapi, lanjut Wawan, dengan beban negara saat ini, terutama triple deficit,
yakni defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan, dan defisit
anggaran, ditambah dengan utang, maka tujuan itu menjadi tidak lagi
menjadi relevan.
“Yang perlu diutamakan sekarang adalah efektivitas pemerintahan,
mengingat waktu yang ada hanya lima tahun. Maka perlu kabinet yang
inovatif. Artinya, butuh terobosan terhadap berbagai persoalan ekonomi
dan kemiskinan ini. Perlu menteri yang berani memutus hambatan-hambatan
yang ada,” papar dia.
Meski begitu, Wawan juga menyadari bahwa sangat sulit untuk membalik
berbagai defisit itu menjadi surplus, namun para pembantu Presiden di
tim ekonomi setidaknya bisa mengurangi defisit itu.
“Perlu menteri yang disiplin dan konsisten dengan rencana
pembangunan. Berani melarang ekspor komoditas mentah, karena nilai
tambahnya akan lebih tinggi jika dilakukan hilirisasi. Begitu juga
dengan kebijakan pertanian dan lain-lain yang bisa mendukung subtitusi
impor,” tutur dia. YK/SB/WP







0 comments:
Post a Comment