![]() |
SERANG KONTAK BANTEN – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat penurunan tingkat kemiskinan pada September 2025. Persentase penduduk miskin tercatat sebesar 5,51 persen.
Meski begitu, perbaikan tersebut belum merata karena kemiskinan di wilayah perdesaan justru menunjukkan peningkatan.
Kepala BPS Provinsi Banten, Yusniar Juliana menjelaskan jumlah penduduk miskin di Banten pada September 2025 mencapai 760,85 ribu orang. Angka itu menurun 11,9 ribu orang dibandingkan Maret 2025 dan berkurang 16,64 ribu orang dibandingkan September 2024.
“Persentase penduduk miskin September 2025 sebesar 5,51 persen, turun 0,12 persen poin dibanding Maret 2025 dan turun 0,19 persen poin dibanding September 2024,” kata Yusniar, Jumat (6/2/2026).
Penurunan kemiskinan terutama terjadi di wilayah perkotaan. BPS mencatat persentase penduduk miskin perkotaan turun dari 5,58 persen pada Maret 2025 menjadi 5,35 persen pada September 2025.
Jumlah penduduk miskin di kawasan perkotaan juga menyusut 12,9 ribu orang, dari 627,88 ribu menjadi 615,02 ribu orang.
Sebaliknya, kondisi di wilayah perdesaan menunjukkan arah berbeda. Persentase penduduk miskin desa meningkat dari 5,89 persen menjadi 6,27 persen. Jumlahnya bertambah sekitar 0,9 ribu orang, dari 144,90 ribu menjadi 145,84 ribu orang.
“Data ini menunjukkan penurunan angka kemiskinan Banten lebih banyak ditopang perbaikan di wilayah perkotaan,” ujar Yusniar.
Selain itu, BPS mencatat Garis Kemiskinan (GK) Banten pada September 2025 sebesar Rp715.288 per kapita per bulan.
Angka tersebut naik 4,54 persen dibandingkan Maret 2025 dan meningkat 7,17 persen dibandingkan September 2024.
Garis kemiskinan tersebut didominasi oleh komponen makanan sebesar Rp524.678 atau 73,35 persen, sedangkan komponen non makanan sebesar Rp190.610 atau 26,65 persen.
Dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin sebanyak 5,17 orang, garis kemiskinan per rumah tangga mencapai sekitar Rp3,69 juta per bulan.
“Komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar pembentuk garis kemiskinan, terutama beras dan rokok kretek filter, disusul daging ayam ras, telur ayam, kopi, mi instan, dan roti,” katanya.
Secara historis, tingkat kemiskinan di Banten sempat meningkat pada masa penyesuaian harga bahan bakar minyak dan saat pandemi Covid-19.
Namun, sejak Maret 2023 hingga September 2025, jumlah dan persentase penduduk miskin menunjukkan tren penurunan secara bertahap.
“Sejalan dengan perbaikan kondisi ketenagakerjaan dan turunnya tingkat pengangguran terbuka,” ucapnya.







0 comments:
Post a Comment