SERANG KONTAK BANTEN Bunda Literasi Provinsi Banten, Tinawati Andra Soni, mengajak para orang tua untuk membiasakan anak membaca sejak usia dini sebagai benteng menghadapi derasnya arus digital dan media sosial. Orang tua diminta aktif membersamai anak dalam kegiatan literasi, bukan menyerahkan sepenuhnya pada gawai.
“Membiasakan anak-anak sejak dini untuk membaca adalah tanggung jawab kita semua, tanggung jawab yang besar,” ujar Tinawati saat menghadiri Festival Literasi 2026 dalam rangka Hari Membacakan Nyaring Sedunia (World Read Aloud Day) di Mall of Serang, Minggu (1/2/2026).
Tinawati mengaku terharu dan bahagia melihat antusiasme anak-anak yang membaca berbagai buku dengan suara lantang. Menurutnya, membaca nyaring menjadi pemantik kuat untuk menumbuhkan minat baca sekaligus mendorong kreativitas orang tua dalam mendampingi anak di rumah.
“Ini menjadi trigger minat baca anak. Orang tua juga bisa lebih inovatif dan variatif dalam mendampingi anak, karena saat ini anak-anak mulai jenuh dan tergantikan oleh konten-konten media sosial,” katanya.
Ia menilai kegiatan literasi seperti World Read Aloud Day harus dilakukan secara rutin dan lebih masif agar budaya membaca benar-benar tumbuh, terutama di lingkungan keluarga.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Read Aloud Serang Arifiatul Hasanah menjelaskan, kegiatan tahun ini mengusung tema “Buku Sumber Imajinasiku Berkreasi”. Tema tersebut diangkat untuk mendorong anak-anak berimajinasi dan berkreasi melalui buku.
“Dari buku, anak-anak bisa banyak berkreasi dan berimajinasi tentang apa yang ada di dalamnya, terutama melalui ragam gambar,” ungkapnya.
Menurut Arifiatul, membaca nyaring merupakan cara efektif meningkatkan minat baca anak. Di Provinsi Banten sendiri, komunitas literasi mulai tumbuh, salah satunya Read Aloud Serang yang fokus meningkatkan minat baca sejak usia dini.
Dukungan juga datang dari Kantor Bahasa Provinsi Banten. Perwakilannya, Devyanti Asmalasari, menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam meningkatkan literasi anak, terutama di tengah masih rendahnya indeks literasi di sejumlah sekolah dasar di Banten.
“Masih banyak sekolah dasar yang indeks literasinya merah. Ini tentu perlu dukungan dari kita semua,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen, Kantor Bahasa menyalurkan buku bermutu ke sekolah-sekolah di Banten. Pada tahap awal, sebanyak 14 judul buku dikirim ke 463 sekolah dan 14 judul buku lainnya ke 963 sekolah, masing-masing sembilan eksemplar per judul.
Buku yang dibagikan berupa cerita bergambar berbahasa daerah serta buku tiga bahasa khas Banten, yakni bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu Betawi.
“Dengan membaca buku, anak-anak bisa mencintai bahasa daerahnya sekaligus mengenal kearifan lokal masyarakat Banten,” pungkasnya.







0 comments:
Post a Comment